Perubahan Situasional Bencana di DIY
YOGYAKARTA – Bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa wilayah DIY sejak Senin (28/11/2017) kemarin diketahui merupakan salah satu yang terparak sejah beberapa tahun terakhir. Tak seperti sebelumnya, bencana banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrim ini hampir merata terjadi di berbagai wilayah di 5 kabupaten/kota di DIY.
Hingga pantauan terakhir, BPBD DIY mencatat terdapat sebanyak 141 titik lokasi bencana tersebar baik di Bantul, Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Sleman maupun Kulonprogo. Pemda DIY melalui Gubernur Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri saat ini bahkan sudah menaikkan status DIY menjadi siaga darurat bencana.

Selain menimbulkan sejumlah kerusakan infrastruktur seperti rumah ambruk, tertimpa reruntuhan dan tergenang, bencana banjir dan longsor kali ini juga banyak menimbulkan kerusakan lain. Diantaranya amblasnya jembatan di Bantul dan Kulonprogo. Tertutupnya ruas jalan karena tergenang air atau tertutup material longsor. Jebolnya talud, gorong-gorong hingga amblesnya badan jalan hingga tak bisa dilewati.
“Luar biasa, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Seperti banjir di Gunungkidul itu. Bahkan SMK Tanjungsari sampai tergenang hingga atap. Kalau untuk longsor paling banyak di Bantul,” kata Plt Kepala BPBD DIY, Krido Suprayitno, Rabu.

Krido sendiri mengakui, saat ini memang sudah terjadi pergeseran situasional bencana di DIY. Gunungkidul sebagai daerah yang selama ini jarang terkena bencana banjir, justru mengalami banjir paling parah, hingga membuat sejumlah akses jalan utama tertutup total.
Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, meminta seluruh masyarakat agar hati-hari dan selalu waspada terhadap berbagai potensi bencana susulan yang sewaktu-waktu terjadi. Terlebih BMKG memprediksi cuaca ekstrim akibat badai tropis Cempaka ini masih akan terjadi hingga 2 hari ke depan.
“Masyarakat harus hati-hati. Karena prediksi BMKG masih akan terjadi dua hari lagi,” katanya.
