Pemburu Rumput Khusus JTTS Bermodal Cangkul dan Karung
LAMPUNG — Proyek nasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar sepanjang 140,938 kilometer, melintasi 30 desa di Lampung Selatan, 3 desa di Kabupaten Pesawaran dan 14 desa di Kabupaten Lampung Tengah, terus dikebut.
Pantauan Cendana News di Stationing (STA) 00 Bakauheni, pengerjaan terus disempurnakan dengan pemasangan median jalan, lampu penerangan, pengaspalan bahu jalan hingga penyempurnaan lain termasuk proses pembuatan gerbang masuk di Dusun Umbul Jering dan di STA 07 Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni.
Terakhir hingga sore hari, Jumat (10/11), PT. Lancar Jaya Mandiri Abadi (LMA) selaku subkontraktor pengerjaan pembersihan lahan (land clearing) JTTS di STA 15 Desa Tetaan, Kecamatan Penengahan, di bawah pelaksana proyek tol ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket I sepanjang 39,4 kilometer oleh PT. Pembangunan Perumahan (PP), terus mengebut proses pengerjaan pembersihan tol di lahan yang semula dipertahankan warga, sehingga proses pembersihan lahan dijaga aparat Polres Lampung Selatan.

Di sela proses pembersihan lahan, penyempurnaan akses jalan tol trans Sumatera yang sebagian sudah bisa dikerjakan dari STA 00 hingga STA 19 di Kecamatan Penengahan, peran serta para pencari rumput untuk ditanam di lereng-lereng tepian jalan tol tersebut menjadi sebuah pekerjaan yang sangat penting.
Irman, salah satu pemuda asal Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, merupakan salah satu pencari rumput untuk kebutuhan jalan tol Trans Sumatera.
Sejak Januari 2016, pascadimulainya pengerjaan JTTS pada April 2015, bersama puluhan warga desa lainnya ia mencari peruntungan sebagai pemburu rumput jenis dondoman, rumput jepang hingga berbagai jenis rumput lain yang ditanam pada bagian sisi kanan dan kiri ruas tol.
Penanaman rumput tersebut, kataya, dilakukan untuk mencegah longsor dengan mengikat tanah yang berada pada sisi kemiringan yang tinggi dari STA 00 hingga STA 07 atau sekitar 7000 meter.

Proses pengerjaan mencari rumput diakuinya sudah ditentukan oleh sang mandor dengan sistem borongan, rata-rata luas daerah yang rumputnya akan diambil bisa mencapai dua hektare lebih.
Ia menyebut, dalam satu lokasi pencarian rumput berbagai jenis dengan disertakan tanah dan akarnya bisa diperoleh sebanyak 5.000-8.000 karung dan para pekerja dalam satu kelompok bisa berjumlah 4-5 orang, rata-rata dibayar sistem borongan dengan satu karungnya dihargai Rp1.000.
Setelah karung penuh terisi, dirinya bersama rekan sesama pencari rumput menunggu pendistribusian rumput dengan proses pengangkutan menggunakan truk. Ada sekitar 15 kelompok pencari rumput di lokasi berbeda yang setiap hari mencari rumput di lokasi yang ditentukan oleh sang mandor.
“Pekerja penanaman juga ada sebagian rata-rata kaum wanita dengan upah harian berkisar Rp70 ribu sehari, sementara kami dibayar per karung dari hasil mencari rumput”, beber Irman, di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, Sabtu (11/11/2017).

Bersama kawan-kawannya sejak pengerjaan penanaman rumput dari STA 00 hingga STA 07, dirinya sudah memperoleh ribuan karung rumput.
Berbekal karung dan cangkul, dalam satu lokasi rumput yang berhasil diperoleh rata-rata sebanyak ratusan karung sehari dan dikerjakan setiap hari dalam satu hektarenya bisa dikerjakan selama hampir satu bulan lebih, karena pencarian rumput harus digali dengan disertakan akar dan tanahnya.
Pekerjaan mencari rumput diakui Irman dan kawan-kawannya menjadi peluang sumber penghasilannya yang mengandalkan tenaga kasar selama proses pengerjaan mega proyek JTTS di Lampung tersebut.
“Kami saat ini hanya dipekerjakan sistem lepas. Namun, harapan kami ke depan kami bisa direkrut sebagai pekerja jalan tol meski sebagai perawat tanaman atau tenaga kebersihan”, ungkap Irman, yang lulusan SMA tersebut.
Meski menjadi sebuah pekerjaan sederhana, namun di beberapa sisi hasil pengerjaan penanaman rumput dari proses perburuan rumput hingga ke pelosok desa bahkan jaraknya berkilo-kilometer dari lokasi jalan tol Sumatera, sebagian rumput sudah terlihat menghijau dari STA 00 hingga STA 06 JTTS yang sesuai rencana akan dirampungkan pada 2018 tersebut.
Di beberapa bagian, bahkan kini menjadi lokasi yang disukai masyarakat menghabiskan akhir pekan, meski menggunakan kendaraan roda dua karena belum ada larangan roda dua memasuki area jalan tol, khususnya di STA 00 hingga STA 02 Bakauheni.