Pembangunan JTTS Berdampak Banjir dan Timbunan Lumpur

LAMPUNG — Air dan lumpur kering sebagian lumpur masih dalam kondisi basah menggenangi halaman samping, belakang rumah milik Asmawati (50) yang berjarak sekitar delapan meter dari saluran boks pembuangan air. Saluran itu sekaligus mengalirkan air dari arah Barat dusun Persatuan Keluarga Sulawesi (PKS) Desa Penengahan ke arah Timur yang lebih rendah.

Banjir air disertai dengan lumpur bahkan masih merendam bagian belakang dapur milik Asmawati akibat hujan deras disertai longsoran tanah merah membentuk lumpur yang menerjang rumahnya dan lima rumah warga lain ikut terkena dampak.

Selama hampir puluhan tahun tinggal di Dusun PKS desa Penengahan Asmawati menyebut lingkungan yang ditinggalinya memang berada di cekungan pertemuan antara beberapa bukit dengan aliran sungai kecil yang mengalirkan air saat hujan di wilayah tersebut sehingga warga tidak pernah kebanjiran.

Perubahan lingkungan yang mulai terjadi diakui Asmawati terjadi sejak proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di wilayah tersebut dilakukan semenjak tahun 2016 silam.

“Kami mengandalkan sumber air dari bukit di sisi Timur namun karena bukit digusur untuk proyek tol sumber air bersih dengan selang aksesnya sukar diperoleh.  Kami sudah meminta kompensasi agar dibuatkan sumur bor baru terealisasi tahun ini kini malah dikuatirkan dengan bencana longsor dan banjir,” keluh Asmawati sembari memperlihatkan lumpur yang masih menggenang di halaman belakang rumahnya tepat di dekat dapur warga dusun Persatuan Keluarga Sulawesi Desa Penengahan saat ditemui Cendana News, Rabu (22/11/2017)

Perubahan kondisi lingkungan di sekitar perumahan warga yang jumlahnya mencapai lebih dari 50 kepala keluarga (KK) sebagian sudah pindah terdampak proyek JTTS sehingga harus direlokasi setelah mendapat uang ganti rugi bangunan karena lahan yang ditempati masuk ke kawasan tanah milik Kementerian Kehutanan.

Asmawati menyebut meski tidak terdampak dan mendapat uang ganti rugi bangunan,ia justru merasakan dampak pembangunan JTTS dari segi lingkungan berupa sumber air,resiko banjir air dan longsor termasuk debu dan kebisingan selama proses pembangunan JTTS.

Senada dengan Asmawati,dampak pembangunan JTTS yang hingga kini dirasakan warga dialami oleh Suirah (50) yang was was jika hujan tiba tiba datang membawa material air dan longsoran tanah ke perumahan warga. Sebelumnya warga telah berkoordinasi dengan sub kontraktor pembuatan boks untuk saluran air agar dibuat lebih rendah dari perumahan warga yang dibuat oleh PT Puja Perkasa.

Pada praktiknya kedalaman boks lebih tinggi dari saluran air yang sudah ada sehingga saat air mengalir dari dua arah, barat, selatan air dan lumpur justru tergenang di saluran drainase yang dibuat lebih tinggi dari sebagian rumah warga.

“Seharusnya kedalaman boks lebih rendah agar air bisa mengalir dan pekerja juga sudah mengatakan potensi banjir bisa terjadi ternyata benar saat hujan dalam beberapa hari ini air dan lumpur menyumbat saluran boks air,” terang Suirah.

Beruntung harapan warga atas akses air bersih sudah bisa dipenuhi dengan disediakannya tiga unit tower air bersih untuk kebutuhan warga dan pembangunan tower untuk penampungan air dari sumur bor bantuan pelaksana proyek JTTS sedang dalam tahap penyelesaian agar akses air bersih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebagian warga bahkan masih memanfaatkan selang air secara bergantian untuk memperoleh akses air bersih dari sumur bor.

Kesulitan akses air bersih tersebut diakuinya hanya merupakan salah satu dampak perubahan lingkungan di wilayah dusun PKS tersebut bahkan menurut Koharudin selaku camat Kecamatan Penengahan akibat banjir dan timbunan lumpur sebanyak enam rumah yang dihuni sebanyak enam kepala keluarga merasakan dampak banjir air dan lumpur di areal sepanjang 300 meter meliputi rumah milik warga di sepanjang saluran drainase, di antaranya Asmawati, Samsudin, Nuarasiah, Haji Bahri, Suirah dan Anilah yang sebagian isi rumahnya terendam banjir air disertai lumpur.

“Saat cuaca tidak hujan warga masih tetap bisa beraktifitas seperti biasa namun saat hujan tiba warga was was jika ada longsoran tanah dari atas proyek JTTS dan banjir memasuki perumahan warga” ungkap Koharudin.

Kondisi perubahan lingkungan alam yang memberi dampak bagi masyarakat tersebut juga diakui Koharudin perlu mendapat perhatian serius dari pelaksana proyek JTTS karena dampak jangka panjang wilayah tersebut masih berpotensi terimbas bencana banjir serta longsor.

Ia menyebut imbas pembangunan JTTS di wilayah tersebut tidak hanya akibat banjir yang baru terjadi beberapa hari ini dan masih akan berpotensi terjadi selama hujan masih melanda namun berupa kebisingan dan debu.

Koharudin menyebut masih terus berkoordinasi dengan warga yang setelah dilakukan pemetaan ulang perumahan di dusun PKS tercatat ada sebanyak lebih dari 9 rumah rawan terimbas banjir dan longsor.

Pilihan relokasi atau pembuatan tembok penahan yang lebih tinggi diakuinya sedang dibicarakan dengan pihak terkait meski ia tetap menghimbau warga yang berada di dekat area proyek JTTS selalu waspada terlebih saat hujan tiba sepanjang bulan November hingga Januari mendatang.

Bantuan air bersih dengan sumur bor dan tower disiapkan untuk warga dusun PKS yang kehilangan akses air bersih dampak proyek JTTS /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...