Musim Olah Sawah, Jasa Traktor Banjir Order
LAMPUNG – Musim hujan yang mulai turun di wilayah Lampung dimanfaatkan oleh para petani penggarap sawah untuk melakukan aktivitas pengolahan lahan pertanian dimulai dengan proses persiapan pembajakan serta penyiapan lahan semai benih padi.
Sunarjo (40) warga Desa Sukabakti Kecamatan Palas menyebut pengolahan lahan sawah yang sebelumnya memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak areal persawahan sudah mulai tergeser oleh tenaga mesin traktor tangan yang banyak dimiliki secara perseorangan. Dirinya bahkan mulai mempergunakan jasa traktor untuk pengolahan lahan sawah meski biaya operasional diakuinya lebih besar namun kecepatan pengolahan menjadi pilihan.
Sebelum jasa membajak lahan sawah memanfaatkan mesin traktor ia menyebut masih mempergunakan jasa pemilik bajak kerbau dengan sistem upah harian dari mulai pembajakan tanah, penghalusan tanah (menggaru) serta proses tamping dan pemopokan untuk merapikan petak sawah. Perkembangan kemajuan tekhnologi bahkan diakuinya mulai merambah ke dunia pertanian mulai dari penggunaan alat pengolah tanah, penanam padi hingga pemanenan.
“Biaya yang harus dikeluarkan bisa lebih mahal karena pengerjaan bisa dilakukan selama sepekan lebih karena mempergunakan tenaga binatang. Tapi sekarang mulai bergeser karena lebih efisien menggunakan mesin traktor,” terang Sunarjo salah satu petani pemilik lahan sawah warga Desa Sukabakti Kecamatan Palas saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya, Senin (6/11/2017).
Penggunaan alat pengolah tanah dari alat bajak dikendalikan manusia dengan tenaga kerbau diakui Sunarjo mulai bergeser ke penggunaan mesin traktor juga termasuk penggunaan mesin penanam padi (rice transplanter), mesin panen perontok padi (combine harvester) atau mesin dos yang disewakan. Meski demikian, ia masih mempergunakan cara manual karena penanaman masih sistem ceblok atau bagi hasil dengan penanam dengan bagi hasil 1:8, satu kaleng gabah bagi penanam dan delapan kaleng buat pemilik.
Khusus untuk penyewaan traktor ia mengaku melakukan negosiasi dengan pemilik jasa traktor terkait luasan lahan yang harus dikerjakan termasuk tingkat kesulitan lahan. Pada lahan dengan kondisi rata tanpa halangan kontur bebatuan, ia menyebut, semenjak tahun 2014 penggunaan mesin traktor dilakukan dengan sistem borongan dari kisaran Rp800.000 per hektar naik menjadi Rp900.000 hingga kini mencapai Rp1.200.000 per hektar.
“Meski mahal namun kecepatan dalam pengolahan lahan bisa memangkas waktu sehingga saya sebagai pemilik lahan tinggal mengerjakan pekerjaan merapikan petak sawah,” beber Sunarjo.
Merapikan petak sawah tersebut diakuinya dikerjakan setelah proses penghalusan lahan dan proses pengairan (ngelep) seluruh petak sawah agar tanah mengendap menjadi lumpur. Proses tersebut dilakukan sembari membuat persemaian yang kerap sudah dilakukan sebelum tanah diolah karena benih padi harus sudah ditanam setelah usia 21 hari.
Penggunaan alat pengolahan lahan sawah mempergunakan traktor tangan tersebut menjadi berkah bagi Suratin (35) pemilik traktor semenjak tahun 2015 lalu dengan pembelian alat traktor tangan seharga Rp15 juta ia mulai menerima order pengolahan tanah. Sebagian pemilik lahan sengaja meminta kepadanya dengan biaya yang telah disepakati bersama pemilik lahan.
“Perhitungan luasan lahan cukup menentukan karena semakin luas bahan bakar yang dipergunakan semakin banyak dan juga kondisi lahan datar atau jenis terasering,” tegas Suratin.
Memulai usaha penyewaan jasa traktor untuk pengolahan sawah dengan semula memiliki satu traktor dirinya kini mulai memiliki dua traktor yang dijalankan oleh orang lain dan satu masih dijalankannya. Satu hektar lahan diakuinya bisa diolah dengan traktor selama lima hari dari kondisi tanah utuh hingga halus menjadi lumpur sawah siap tanam (lalahan).
Saat ini upah per satu hektar mencapai Rp1,2 juta menyesuaikan dengan mahalnya onderdil mesin traktor dan juga bahan bakar minyak jenis solar. Jelang musim tanam Suratin bahkan sudah membajak serta menggaru lahan seluas sepuluh hektar yang dikerjakannya bersama satu kernet atau pembantu saat dirinya kelelahan dan diberinya upah harian.
Tren penggunaan jasa traktor diakuinya sekaligus mengejar masa tanam dengan ketersediaan air terutama pada lahan sawah yang jauh dari aliran irigasi. Masa tanam yang diiringi dengan datangnya musim hujan diakui Suratin mempermudah dirinya dalam proses pembajakan sehingga kondisi tanah lebih mudah dibajak.
Selain dipergunakan untuk membajak lahan sawah miliknya seluas satu hektar, ia menyebut, traktor tangan yang masih dimiliki oleh beberapa orang tersebut sekaligus menjadi sumber mata pencaharian dari jasa membajak tanah. Ke depan ia juga berencana membeli mesin perontok padi sembari menabung dari hasil panen dan jasa traktor miliknya. Jasa pemakaian mesin perontok padi per hektar saat ini diakuinya mencapai 2 juta belum termasuk biaya angkut oleh ojek angkut.
