LEBAK — Setiap hari puluhan ton pisang dari Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dipasok ke sejumlah pasar di DKI Jakarta.
“Kita terus meningkatkan produksi pisang melalui bantuan benih juga perluasan tanaman pisang,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Kamis (16/11).
Produksi komoditas pisang di Kabupaten Lebak menjadikan andalan ekonomi petani karena setiap hari dipasok ke Jakarta dan sekitarnya.
Kualitas pisang Lebak relatif bagus sehingga permintaan pasar cenderung meningkat.
Mereka petani mengembangkan komoditas pisang antara lain jenis pisang kepok, ambon, raja buluh, raja sereh, tanduk, ketan, mulih, mas, nangka, syiam dan masak ijo.
Kebanyakan pisang dari Kabupaten Lebak,selain untuk dikonsumsi juga dijadikan bahan baku kerajinan makanan camilan.
Bahkan, di antaranya perusahaan makanan camilan menampung komoditas pisang Lebak itu.
Para petani menjual pisang ditampung oleh tengkulak dan bandar besar dengan harga bervariasi antara Rp30.000 sampai Rp200 ribu per tandan.
“Kami menerima laporan pendapatan petani sekali menjual bisa mencapai Rp2-3 juta per pekan,” katanya.
Menurut dia, pengembangan pertanian komoditas pisang menjadikan andalan pendapatan bulanan petani.
Sebab, tanaman pisang setiap pekan berproduksi atau dipanen sehingga berkelanjutan.
Selain itu juga pemeliharaan dan perawatan tanaman pisang begitu mudah dan tidak memerlukan biaya tinggi.
Pohon pisang bisa tumbuh di lahan darat,tegalan sawah maupun di halaman rumah.
Karena itu, petani mengembangkan tanaman pisang di Lebak berkembang di 28 kecamatan dan setiap hari angkutan truk dan mobil bak terbuka mengangkut pisang ke Jakarta.
“Saya kira produksi pisang yang dipasok ke luar daerah puluhan ton dengan nilai perguliran mencapai miliaran rupiah per hari,” katanya.
Ia mengatakan, pemerintah daerah setiap tahun menggelar pameran kontes pisang untuk mendorong petani dapat meningkatkan kualitas.
Namun, kebanyakan kualitas pisang yang bagus hasil pengembangan petani Badui karena mereka mengembangkan budi daya pisang di lahan perbukitan ladang huma.
Mereka petani membudidayakan tanaman pisang saat membuka kawasan hutan dijadikan ladang,sehingga tingkat kesuburan lahan cukup subur.
Selama ini, produksi pisang petani Badui cukup besar karena mereka menjadikan pendapatan mingguan.
“Saya kira pendapatan tanaman pisang sangat membantu ekonomi masyarakat Badui,sehingga mereka terus memperluas tanaman pisang di lahan ladang huma itu,” katanya.
Santa (45) warga Badui mengatakan dirinya setiap pekan bisa menghasilkan pendapatan hasil menjual pisang sekitar Rp2 juta dari lahan seluas dua hektare.
Ia mengembangkan tanaman pisang di lahan hutan negara milik PT Perum Perhutani kawasan Blok Gunungkencana.
“Kami menjual pisang itu sudah ditampung tengkulak yang mendatangi lahan pertanian,” katanya (Ant).