Kronologi Keji Pengkhianatan G30S/PKI, bagi Sukmawati Soekarno Putri

Jawaban atas Fitnah Keji Terhadap TNI AD dan Pengabdiannya Kepada NKRI

Oleh Eko Ismadi

JAKARTA —Fitnah keji terus dilakukan oleh PKI kepada TNI AD dan TNI, hingga kini. Sepertinya, sikap keji memang terus dipelihara oleh para PKI dan keturunannya. Fitnah keji itu justru malah dipupuk, disuburkan, bahkan berbuah dan bertunas setelah sekian tahun ditumpasnya PKI. Fitnah keji itu berbunyi ; Gerakan G 30 S/PKi adalah urusan intern TNI AD dan gerakan makar Dewan Jenderal yang ingin merebut kekuasaan Soekarno.

Sejak reformasi terjadi selama 19 tahun, fitnah keji dari para PKI malah muncul dari salah satu anak Soekarno. Dalam berbagai kesempatan, anak Soekarno ini terus menyebut TNI AD dan Soeharto terlibat dalam G30S/PKI. Ketika TNI AD belum selesai menghadapi cercaan dan hinaan akibat dari bergulirnya reformasi, TNI AD malah difitnah lagi terkait dengan kasus G30S/PKI.

Sebenarnya, saya pribadi juga tidak mau menanggapi pernyataan tersebut. Tapi, ternyata, pernyataan fitnah kepada TNI AD itu dilakukan secara terus menerus. Sehingga, nasionalisme dan rasa tanggung jawab saya sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia merasa terusik. Terlebih, menyinggung masalah TNI AD, tentu saya tidak akan menerima begitu saja.

Menurut saya, anak keturunan Soekarno masuk dalam tiga macam kelompok politik. Kelompok pertama, yaitu kelompok Sukmawati yang menjadi bagian dari PKI dan Komunisme. Kelompok kedua, yaitu kelompok Megawati yang menjadi bagian dari pemikiran Nasakom masa kini. Dan kelompok ketiga, yaitu kelompok Rachmawati yang ikut dalam gerbong Prabowo.

Pertanyaannya, apakah ini bagian dari cara berpolitik anak-anak Soekarno untuk memecah sel? Sehingga, siapa pun yang berkuasa dalam politik, anak-anak Soekarno tetap dapat mengambil keuntungan. Semoga, dugaan dan perikirakan saya ini tidak tepat.

Harapan saya, tulisan ini dapat membuka cakrawala pandang anak-anak Soekarno agar dapat belajar sejarah dengan baik, bertanggungjawab, serta sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945. Jangan sampai anak-anak Soekarno menjadi sumber permasalahan bagi bangsa Indonesia dan kelangsungan hidupnya.

SIKAP POLITIK SOEKARNO SEBELUM PERISTIWA G30S/PKI

Saat itu, Soekarno merasa sendiri. Dengan sikap yang Soekarno tunjukkan sebagai pemimpin Negara pada tahun 1965, ia akhirnya menjadi seorang diri dan menyendiri. Bagaimana pun, minyak dan air tidak bisa bercampur. Gelap dan terang juga tidak mungkin bersatu.

Sebagai pribadi, Soekarno adalah seorang negarawan, Pancasilais, dicintai rakyat, dan memiliki segudang predikat yang melekat pada dirinya. Soekarno tidak mungkin bisa bersatu dengan PKI yang perilakunya dan sifat komunismenya sangat bertentangan dengan Pancasila. Sebaliknya, Soekarno tidak mungkin meninggalkan PKI, lalu bersatu dengan TNI dan Jenderal AH Nasution serta Jenderal Achmad Yani. Sementara, Nasution dan Yani sangat berbeda pandangan politik dan tidak bekerjasama dengan PKI.

Sikap kecemasan Soekarno dalam kesendirian, tercermin ketika DN Aidit memaksa dan menuntut segera disetujuinya program Nasakomisasi di Indonesia dengan menyebut, ”Idea man is brilliant, tapi kurang matang, Naiknya terlalu cepat. Political wisdom-nya kurang! Het stijgt zo’n beetje naar zijn hoofd. I heb het te zeggen en zeker niet hij.” (Dikutip dari Memoar Oei Tjoe Tat halaman 134).

Dalam kasus tersebut, Bung Karno menyebut Aidit sebagai seorang yang besar kepala. Saat itu, Jenderal Achmad Yani mengingatkan kepada Bung Karno agar berhati-hati bersikap kepada PKI. Tapi, Bung Karno justru marah kepada Jenderal Achmad Yani dengan mengatakan, ,”Kamu jangan Communisto Phoby! Lihat Mereka! Mereka menghargai saya! Mereka menyanjung saya! Dan Mereka pula yang membantu saya!”

Presiden Soekarno tidak sadar, sikapnya ini menununjukkan indikasi, akan ada masalah dengan dirinya sendiri. Sebagaimana orang bijak mengatakan, ”Semua dimulai dari dirinya sendiri dan semua disebabkan dari dirinya sendiri. Tentang berhasil dan gagal, bermasalah dan beruntung.” Demikian pula dengan sikap Soekarno yang menggambarkan dirinya sebagai induk ayam yang bisa memakan anaknya. Tapi, ternyata sebaliknya, anak ayam yang harus mengingatkan perilaku induknya.

Setelah mendengar berbagai keluhan dari Presiden Soekarno atas ketegaran sikap Nasionalisme TNI, akhirnya, PKI dan Presiden Soekarno merasa terganggu. Ini tercermin dari sikap Soekarno yang marah terhadap Ajudannya sendiri, yaitu Mayor Bambang Widjanarko dengan mengatakan, ”Kowe ojo melu-melu jenderal itu!, Susah kowe mengko! kono ati ati ojo ngomongi PKI meneh! (Sana kamu jangan ikut ikut pendirian jenderal itu, nanti kamu susah, sana jangan ngomongkan PKI lagi!)”

Sedangkan sikap PKI sendiri melalui Aidit mengatakan secara terus terang, ”Sikap jenderal itu sudah menyusahkan kita. Bila tidak, segera diatasi, jangan mengganggu rencana kita. Maka dari itu, kita jangan sampai terlambat bertindak.” Yang dimaksud dengan ”Jenderal itu” adalah mereka yang dicurigai sebagai anggota ”Dewan Jenderal” yang dituduh akan merebut kekuasaan dari pemerintahan Soekarno. Namun, pada kenyataannya, hingga kini, dokumen Dewan Jenderal dan anggota, sebagaimana yang dituduhkan PKI dan Aidit, tidak pernah terbukti.

Sumber tulisan ini bukan asumsi saya. Tetapi, tulisan ini diperkuat oleh wawancara saya dengan pelaku dan saksi sejarah. Pelaku sejarah yang saya maksudkan adalah komandan tim pasukan penculikan seperti Eks Serma Satar, Eks Peltu Bungkus, dan Eks Serma Surono. Karena, saya pernah bertemu dengan penculik Jenderal Angkatan Darat tersebut secara langsung.

Dalam pengalaman saya pribadi, orang yang pernah berkunjung ke Kostrad adalah Eks peltu Bungkus. Panglima Kostrad pada masa itu adalah Letjen TNI Jaja Suparman. Saat itu, Eks Pelda Bungkus berkunjung ke kantor Spes Kostrad setelah dibebaskan oleh Gus Dur, lalu dengan yakin berani mengatakan,”Saya memang penculik Jenderal Angkatan Darat. tetapi semua itu karena perintah Atasan saya.”

Saat itu, saya dan kawan-kawan KOSTRAD tidak bereaksi apa pun. Hanya diam dan mengiyakan, karena kami belum paham sejarah dan mengerti, apa arti ideologi dan pentingnya sikap kita terhadap PKI dan komunisme. Seandainya saat bertemu Eks Pelda Bungkus, saya sudah paham sejarah komunis seperti sekarang, tentu masalah akan menjadi lain. Barulah sekarang ini saya paham, ternyata, perilaku Bungkus itu merupakan bagian dari kegiatan PKI dan Komunisme untuk mengetahui sejauh mana prajurit TNI, TNI AD, dan Prajurit KOSTRAD memahami sejarah.

PENCULIKAN SEBAGAI METODE GERAKAN G30S/PKI TAHUN 1965

Sikap PKI dengan G30S/PKI di tahun 1965 bersama Soekarno, merupakan Upaya Soekarno untuk mempertahankan kekuasaan. Hal itu juga upaya PKI untuk merebut kekuasaan dengan memanfaatkan popularitas Soekarno. PKI bertindak demikian, setelah melihat perkembangan politik Indonesia tidak memberi ruang dan kesempatan bagi PKI untuk dapat berkuasa.

Yang sungguh memprihatinkan, Presiden Soekarno tidak sadar bila dirinya telah diperalat oleh PKI melalui program Nasakomnya. Memang, Soekarno terlihat demokratis dan toleran terhadap perbedaan Nasakom itu. Namun, bila dicermati, sesungguhnya NASAKOM justru biang dari radikalisme dan intoleransi.

Mari kita lihat fakta sejarah PNI, partai yang didirikan oleh Soekarno. Banyak tokoh partainya dijebloskan ke penjara karena menantang komunis. Akhirnya, ada partai politik yang berunsur agama, terpaksa setuju dengan PKI dan komunis. Karena, muslim dan Kyai yang tidak setuju dan tidak bekerjasama dengan PKI, akan dibunuh oleh PKI. Demikian juga para tokoh nasionalis yang tidak menyetujui komunis, akan dibunuh. Hanya demi PKI, Soekarno harus mengorbankan Jenderal Angkatan Darat dan melecehkan pengabdiannya yang telah berjuang demi nusa dan bangsa.

”Aku tidak peduli kamu jenderal pethak atau pejuang dan pahlawan 1945. Kalau kamu menentang Nasakom, berarti kamu adalah musuhku,” kata Soekarno.

Hal ini harus dipahami oleh generasi muda bangsa Indonesia sekarang ini, sehingga generasi muda lebih benar dalam memahami sejarah. Bukan mengada-ada dan melakukan pemutar balikan fakta.

PERKEMBANGAN OPERASI

Semula, hanya empat Jenderal yang menjadi target operasi penculikan. Namun, kemudian, berkembang menjadi tujuh Jenderal. Penambahan itu antara lain, Jenderal Haryono MT, Jenderal S Parman, dan Jenderal Suprapto. Perkembangan ini disebabkan dari adanya issue ”Dewan Jenderal” dan yang tersebut, termasuk dalam daftar. Prasangka PKI diperkuat dengan sikap yang ditunjukkan para Jenderal tersebut, dikategorikan sebagai penentang terhadap PKI. Mereka dianggap menentang kebijakan Soekarno dengan program Nasakomisasinya.

Dengan penambahan sasaran penculikan tersebut, maka diadakan kegiatan tambahan untuk melakukan pengintai, pengamatan, dan penggambaran. Metode yang dilakukan, yaitu dengan membuat route lari pagi atau kegiatan Hanmars yang melintasi di depan rumah Jenderal tersebut.

Pasukan diperintahkan lari ditempat dan salah satu anggota atau pimpinannya bertanya, ”Apakah benar ini rumah Jenderal Suprapto? Apakah benar ini rumah Jenderal DI panjaitan?” Setelah bertanya, kemudian lari dilanjutkan.

Sebagian lagi dengan menyamar sebagai pengantar Koran dan pengantar surat, lalu bertanya, ”Pasukan di sini kalau siang, berapa orang ya? Kalau malam berapa orang ya? Semua berapa orang ya?” Karena tidak menaruh kecurigaan, maka semua dijawab dengan jujur dan lengkap, beserta tempat beristirahat dan kegiatannya.

Berikut ini, detail skenario G30S/PKI ;

1. Komando Dan Pengendalian.

a. Lubang Buaya Sebagai Markas Gerakan. Sebagaimana yang dikatakan dalam forum pertemuan di Surabaya, ”Kebun itu harus dijadikan Markas dan Markas kita adalah dikebun itu.” Perlu diketahui bahwa Lubang Buaya tidaklah kondisiny seperti sekrang ini. Mengingat itu adalah Pangkalan Udara terbesar di Indonesia, sehingga mencakup wilayah yang luas dan terbebas dari masyarakat. Maka dari itu tempat itu sunyi dan jauh dari kesibukan masyarakat, kegiatan apapun yang dilakukan PKI ditempat itu dalam jumlah besar akan sulit diketahui secara pasti oleh orang atau kelompok lain.

b. Gedung Penas Sebagai Pusat Komando. CC PKI atau Central Comando. Ketiga Komando pasukan tersebut semua bertanggung jawab kepada Central Comando PKI atau CC PKI. Kemudian pada tanggal 30 September 1965 kembali diadakan rapat bertempat di Lubang Buaya yang hadir antara lain Eks Brigader Jenderal Supardjo, Eks Kolonel Latief, Eks Mayor Udara Suyono, Eks Mayor Bambang Supeno (Danyon 530 Brawijaya), Kapten Suradi, Lettu Doel Arief, dan dua orang lagi tidak diketahui namanya.

2. Organisasi Pasukan.

Dalam kegiatan penyusunan pasukan dan organisasi ditugaskan Eks Kolonel Latief termasuk rencana operasinya. Operasi yang disusun dalam rangka melakukan gerakan G30S/PKI di Jakarta tahun 1965. Kemudian, pasukan disusun sebagai berikut untuk operasi, diberi nama OPERASI TAKARI, sebagai kekuatan cadangan dimanfaatkan dari kekuatan HANSIP yang diberi nama WADA HANREV atau Wahana Krida Pertahanan Revolusi.

Adapun secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut operasi dibagi menjadi tiga komando :
a. Komando Penculikan dan penyergapan dipimpin oleh Lettu Doel Arief, terdiri dari 4 Tim yang terdiri dari :
1) Tim penyelidik,
2) Tim penculik dan penyergapan,
3) Tim Pengamanan,
4). Tim Cadangan.

b. Komando Penguasaan kota dipimpin oleh Kapten Suradi, terdiri dari :
1) Tim Pendudukan Obyek Vital
2). Tim Penutupan Jalan dan medan kritik
3) Tim Penggempur
4) Tim Cadangan.

c. Komando Basis atau Markas Komando ditetapkan di Lubang Buaya, dipimpin oleh Mayor Udara Gathot Sukresno yang terdiri dari 3 tim pasukan, yaitu:
1) Tim Pengaman Basis atau Markas
2) Tim Cadangan
3) Tim Patroli

Menurut pertimbangan Eks Kolonel Latief yang disampaikan dalam rapat mengatakan, ”Kalau dibandingkan dengan kekuatan pasukan DEWAN JENDERAL (yang dimaksud adalah TNI yang resmi tidak tergabung sebagai anggota PKI), kita masih kalah jauh. Namun, aksi ini ditujukan untuk memberikan pendadakan dan efek kejut. Nanti, kalau sudah terlaksana di daerah-daerah akan mendukung kita. Terutama, dari unsur-unsur dari progresif revolusioner.”

Maka, keputusan yang diambil dalam rapat tersebut, antara lain :
a. Kekuatan Operasi Takari terdiri dari satu Divisi Ampera (kekuatan masa rakyat)
b. Jakarta dibagi menjadi 6 Sektor terdiri dari :
1). Sektor Jakarta Pusat dan Istana
2) Sektor Jatinegara
3) Sektor Senen Dan Kemayoran
4) Sektor Tanjung Priok
5) Sektor Kebayoran Lama
6) Sektor Grogol

c. Nama samaran Anggota Dewan Jenderal yang akan di Culik dan diamankan disusun oleh Eks Mayor Udara Sujono :

1). Jenderal AH Nasution = Nurdin
2) Jenderal Achmad Yani = Joson
3) Jenderal DI panjaitan = Singer
4) Sutoyo = Toyota

d. Rencana Bantuan Pasukan Didapat dari AURI yang direncakan untuk ikut peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1965.

e. Eks Mayor Suyono mendapat tugas khusus untuk pengamanan VVIP yaitu Komandan Komando Pengaman VVIP yang perlu diamanakan yaitu Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma dan CENCO

f. Pejabat yang perlu diberi perhatian dan fasilitan keselamatan antara lain :

a. PYM Presiden Soekarno
b. YM Wakil Perdana Menteri 1/Menlu Subandrio
c. YM Menko D.N Aidit
d. YM Menko Ali Sosroamijoyo
e. YM Menteri Nyoto
f. Ditentukan semenatara Hari H : tanggal 1 Oktober 1965, sedang Jam D adalah pukul 04.00, secara pasti akan diberikan pada malam menjelang pukul 22.00, Jam briefing kepada Komandan Yon 530 dan Eks diberikan dilain waktu.

Pengarahan kekuatan persenjataan sebagai berikut :
a. Sektor 1 Jakarta Pusat dan Istanan terpusat di istana disebelah utara 200 pucuk senjata dan disebelah selatan 3000 pucuk senjata.
b. Sektor 2 Jatinegara kekuatan sejata 200 pucuk
c. Sektor 3 Tanjung Priok 1000 pucuk senjata
d. Sektor 4 Daerah Kota 500 pucuk senjata
e. Sektor 5 Semanggi 500 senajata
f. Sektor 6 Kebayiran Baru 500 Pucuk senjata

Nama samaran bagi ketiga kesatuan komando, yaitu :
a. Komando Penculikan dibawah Pimpinan Lettu Doel Arief diberi nama PASOPATI
b. Komando Penguasaan Kota dibawah pimpinan Kapten Suradi diberi nama BIMASAKTI
c. Komando Markas Dibawah Pimpinan Mayor Udara Gatot Sukresno diberi nama GATHOTKACA
d. Kekuatan Pasukan Pengaman Ibu Kota BIMA SAKTI. Yon 454 minus 1 Kompi karena masuk ke Pasopati, Yon 530 Minus 1 Kompi masuk Pasopati, dan 4 Batalyon Sukarelawan yang dilatih AURI, sedangkan Gathotkaca 1 Batalyon Cakrabirawa, I Balatalyon PGT, Dan 4 Batalyon Sukarelawan yang dilatih AURI. Dalam konsep dicantumkan ada perkuatan batalyon Panser namun sampai pelaksanaan G 30 S/PKI tidak pernah ada yang datang.

3. Tugas Pokok Dan Kekuatan Pasukan Pasopati

Dalam kesempatan pertemuan berikutnya masih di hari yang sama hanya beda jam. Maka diadakan lagi briefing khusus tentang tugas pokok dan kekuatan pasukan serta bantuan kekuatannya. Kalau di dalam istilah Prajurit TNI arisan artinya kekuatan didapat tidak hanya dari satu satuan saja tetapi terdiri dari beberapa satuan secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Komandan Pasukan adalah Eks Lettu Doel Arief dari Satuan Cakrabirawa Pasukan Kawal Presiden.

b. Tugas Pokok adalah :
1) Mengambil para Jenderal dalam keadaan hidup.
2) Kalau terpaksa dapat diambil paksa apapun hidup atau sudah mati.
3) Setelah berhasil diserahkan kepada Komandan Gathotkaca.
c. Kekuatan Pasukan berasal dari Cakrabirawa I Kompi, PGT dari satuan Pasukan Pengawal Pangkalan kekuatan 1 Kompi, Brigif 1 Kodam Jaya kekuatan 1 Kompi, Yon 454 Kodam IV/Dip kekuatan 1 Kompi, dan Yon 530 Kodam V/Brw kekuatan 1 Kompi.
d. Sandi gerakan berlaku umum antara lain :

1) Suara = Tanya Ampera Dijawab Takari atau sebaliknya.

2). Klakson = Tanya 2 X dijawab 3 X

3) Gerakan = Tanya Garuk Garuk Kepala dijawab menujukk yang Garuk Garuk Kepala.

4) Bendera/Scraf = Tanya Ibu Jari kiri diangkat dijawab Ibu Jari Kanan Diangkat masing Masing pegang Senjata.

5) Lencana = Warna Merah, Kuning, Dan Hiaju
dipakai di leher.
6) Kendaraan = Merah-Putih Di saku Baju
7) Cahaya = Segitga Merah, Kuning, Dan Hijau
8) Tanda Kendaraan = Tanya 1 X dijawab 4 X
9). Lencana Malam = di bahu kiri
10) Lencana Pagi. = di bahu kanan

4. Penyusunan Dan Pelibatan Pasukan TNI.
Dengan adanya perkembangan jumlah sasaran maka organisasi penculikanpun ditambah pula yang semula hanya dibebankan kepada anggota Cakrabirawa kemudian berkembang dengan melibatkan pasukan yang berada di Jakarta sekalipun berasal dari daerah seperti Yon 530 Kodam VIII Brawijaya, Yon 454 Dari Kodam VII Diponegoro, Dan Brigif 1 Dari Kodam Jaya, dan dari PGT Pangkalan Udara Halkim Perdana Kusuma.

Dasar perintahnya yang dipegang teguh oleh Eks Lettu Dul Arief sebagai komandan penculikan adalah :
a. Mereka itu adalah para Jenderal yang menjadi anggota Dewan Jenderal yang akan merebut kekuasaan dari Soekarno.
b. Gunakan alasan diperintah segera menghadap Presiden Soekarno
c. Dibawa hidup ataupun Mati
d. Tiba di Lubang Buaya serahkan kepada Gathotkaca.

Adapun susunan organisasi penculikan dan kekuatan personel serta satua asal dalam peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965 di Jakarta secara terperinci sebagai berikut :
a. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal AH Nasution, dipimpin oleh Eks Pelda Djahurub dari Resimen Cakrabirawa, pasukan ini terdiri dari :
1) 1 Regu dari Yon Kawal Kehormatan Cakrabirawa
2) 1 Ton dari Yon 530 Kodam VIII Brawijaya
3). 1 Ton dari Yon 454 Kodam VII Diponegoro
4) 1 Ton dari PGT AURI Halim Perdana Kusuma
5) 1 Ton Sukarelawan Pemuda Rakyat

b. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal Achmad Yani, dipimpin oleh Eks Peltu Mukidjan dari Brigif I Kodam Jaya, pasukan ini terdiri dari :
1) 1 Ton dari Brigif I Kodam Jaya
2). 1 Regu dari Yon Kawal Kehormatan Cakrabirawa
3) 1 Ton dari Yon 530 Kodam Brawijaya
4) 1 Ton dari Yon 454 Kodam Diponegoro
5) 1 Regu dari PGT AURI Halim Perdana Kusuma
6). 2 Regu Sukarelawan Pemuda Rakyat

c. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal Suprapto, dipimpin oleh Eks Serka Sulaiman dari Resimen Cakrabirawa, pasukan ini terdiri dari :
1) 1 Regu dari Yon Kawal Kehormatan Cakrabirawa dipimpin Oleh Serka Sulaiman sendiri.
2) 1 Regu dari Yon Kawal Kehormatan Cakrabirawa dipimpin Oleh Serda Sukiman.

d. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal S Parman , dipimpin oleh Eks Serma Satar dari Resimen Cakrabirawa, pasukan ini terdiri dari :
1) 1 Ton dari Yon Kawal Kehormatan Cakrabirawa dipimpin Oleh Serma Satar sendiri.
2) 1 Regu dari Yon Kawal Kehormatan Cakrabirawa dipimpin Oleh Serma Paat.

e. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal Sotoyo, dipimpin oleh Eks Serma Surono dari Resimen Cakrabira , pasukan ini terdiri dari :
1) 1 Regu dipimpin oleh Eks Serda Sudibyo
2) 1 Regu dipimpin oleh Eks Serda Ngatijo
3) 1 Regu dipimpin oleh Eks Kopda Dasuki

f. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal Haryono MT, dipimpin oleh Eks Serma Bungkus dari Resimen Cakrabira , pasukan ini terdiri dari :
1) 1 Regu dipimpin oleh Eks Serda Arlan
2) 1 Regu dipimpin oleh Eks Sertu Carmin
3) 1 Regu dipimpin oleh Eks Serda syahnan

g. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal Soetoyo, dipimpin oleh Eks Serma Surono dari Yon 454 Kodam VII Diponegoro, pasukan ini terdiri dari :
1). 1 Regu dari Brigif I Kodam Jaya dipimpin oleh Eks Serma Soekardjo.
2) 1 Regu dari Yon 454 sebagai pasukan cadangan dan pengaman gerakan.

h. Pasukan yang mendapat tugas menculik Jenderal DI Panjaitan, dipimpin oleh Eks Serda Soekardjo dari Yon 454 Kodam VII Diponegor, pasukan ini terdiri dari :
1). 1 Regu dari Brigif I Kodam Jaya dipimpin oleh Eks Seda Soekardjo.
2). 1 Regu dari PGT AURI sebagai pasukan cadangan dan pengaman gerakan.

TOKOH KUNCI PELAKSANA PENCULIKAN

Peranan Eks Lettu Dul Arief demikian jelasnya mulai rapat pendahuluan hingga ditetapkannya keputusan rapat yang terdiri dari 10 point, antara lain menentukan metode gerakan G30S/PKI dengan penculikan dan menentukan pemimpinnya yaitu Eks Lettu Dul Arief serta menamakan nama pasukan Pasopati sebagi pasukan yang melaksanakan penculikan. Eks Lettu Dul Airef juga yang melakukan survey kepada calon anggota yang dilibatkan dalam pasukan Pasopati dari satuan asal Jawa Tengah.

Intelektual yang lumayan menjadikan PKI merekrut Perwira Angkatan Darat ini menjadi anggota kunci bagi perjuangan PKI. Pendampingan oleh PKI selalu dilakukan dan berbagai kegiatan selalu dilibatkan. Yang memprihatikan kita adalah TNI aktif bisa diperintah oleh anggota Partai semacam PKI dan membunuh atasannya. Ini sungguh peristiwa yang sangat mengerikan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.

1. Cakrabirawa
Di Resimen Cakrabirawa, Eks Lettu Dul Arief cukup disegani dan mendapat prioritas kebijaksanaan dan terkenal sebagai orang berpengaruh karena dekat dengan Eks Letkol Untung yang menjadi kesayangan dan kebanggaan Presiden Soekarno serta dekat pula dengan Ketua Partai besar PKI. Karena demikian istimewanya, segala apa yang dilakukan oleh Eks Lettu Dul Arief tidak pernah dipandang negative. Teman-temannya berburuk sangka kepadanya,
secara intensif memberikan pengarahan dan pengawasan kepada anggotanya yang disiapkan untuk dilibatkan dalam Pasukan Pasopati. Pengarahan yang diberikan akan adanya ”Dewan Jenderal” yang membunuh Presiden Soekarno dan tindakannya untuk mengamankan Presiden dari bahaya. Eks Lettu Dul Arief juga selalu memberikan semangat dan keyakinan terhadap anggota yang telah dipersiapkan tersebut, ”Perjuangan kita adalah untuk mengangkat harkat martabat kita prajurit. Agar kita bisa menikmati dan merasakan seperti apa yang Jenderal rasakan.”

2. Eks lettu Dul Arief.

Demikian besar kepercayaan yang diberikan Oleh Resimen Cakrabirawa kepada Eks Lettu Dul Arief hingga dapat menyatakan siaga kepada Resimen Cakrabirawa. Kemudian Eks Lettu Dul Arief juga yang menyarankan agar anggota yang tidak berdinas khusus agar menggudangkan senjatanya dan tetap berada di barak. Setelah itu, barulah dipisahkan, mana anggota yang telah disiapkan sebagai Pasukan Pasopati untuk kembali berpakain PDLT lengkap dan bersenjata. Tidak hanya itu, Cakrabirawa juga menyiapkan kendaraan untuk mengangkut Pasukan Pasopati ke Lubang Buaya.

Eks Lettu Dul Arief demikian siap untuk melaksanakan tugasnya, karena setelah melakukan Briefing terakhir dengan anggota Pasukan Pasopati untuk melakukan Penculikan Jenderal, Eks Lettu Dul Arief sendiri yang mengantarkan para penunjuk jalan untuk mengetahui rumah Jenderal sebagai sasaran penculikan. Tercatat dalam dokumen sejarah, Eks Lettu Dul Arif mengantar penunjuk jalan ke rumah Jenderal DI Panjaitan dan Rumah Jenderal Suprapto.

PENGALAMAN PAHIT DALAM SEJARAH

G30S/PKI merupakan sebuah upaya dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa serta terwujudnya keamanan Nasional yang tangguh, mana kala TNI-nya SOLID DAN KUAT. Semua itu didapatkan, kalau TNI satu komando dan memiliki paham ideologi yang sama bagi seluruh anggotanya. Dengan persamaan Idiologi yang sama, seluruh Anggota TNI akan memiliki kepentingan hidup yang sama, tujuan bernegara yang sama, dan pengabdian yang sama. Inilah yang disebut TNI YANG PROFESIONAL

1. Keunikan Sejarah TNI
Setiap organisasi memiliki sejarah termasuk TNI juga memiliki sejarah. Keunikan sejarah TNI yang dimaksud adalah adanya perbedaan sejarah kemiliteran dengan kemiliteran negara lain yang disebut lazim dalam sejarah. Negara tidak pernah menyiapkan dan menyusun TNI sebagai alatnya Negara. TNI juga tidak menyediakan kekuatan dasarnya, namun semua berlangsung secara bersama dan seirama bagi terbentuknya negara dan TNI. Keunikan lain adalah, TNI dan rakyat bisa bekerja sama tanpa harus diatur dalam aturan militer yang ketat, namun memiliki fleksibiltas dalam mendukung pelaksanaan kegiatan yang dilakukan.

2. Netralitas TNI Mutlak
Sikap Netralitas TNI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat diperlukan, tidak hanya dalam berpolitik saja, tetapi juga bidang-bidang yang lain. Misalkan tentang kehidupan beragama, berbudaya, dan berkebangsaan. Tidak membedakan antara kelompok satu dengan yang lain. Tetapi tetap berpedoman pada Ideologi Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, serta persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan. Oleh karenanya, TNI akan dapat berpartisipasi dalam segala bidang, tidak terbatas dalam bidang pertahanan saja. Tapi bisa berpatisipasi dalam bidang apa pun, selama itu masih diperlukan oleh rakyat dan bangsa Indonesia. Bila TNI dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dan dapat bekerja sama dengan bidang apapun di masyarakat, itulah yang disebut TNI PROFESIONAL.

Demikianlah tulisan ini dibuat bagi kita bangsa Indonesia yang mencintai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ulasan ini berdasarkan fakta dan dokumen sejarah yang pernah terjadi, bukan sebuah peristiwa fiktif atau fiksi. Tujuan penulisan adalah untuk menyampaikan manfaat dan pentingnya bagi kehidupan bangsa Indonesia. Agar kehidupan bangsa tepat utuh dan berlanjut serta lestari. NKRI tetap tegak dan kokoh berdasarkan Pancasila Dan undang undang Dasar 1945.

Ulasan sejarah ini mengajak semua bangsa Indonesia agar untuk belajar dari peristiwa sejarah agar berguna bagi pentingan Ketahanan Nasional dan Keamanan Nasional. Karena komunisme bagi bangsa Indonesia adalah sebuah masalah. Sebab, Pancasila dan Komunis tidak hanya memiliki perbedaan, namun bertolak belakang. Sehingga, tidak mungkin untuk disatukan.

Semoga tulisan bermanfaat bagi NKRI HARGA MATI !!!!

DAFTAR PUSTAKA
1. Pemberontakan PKI Dan Penumpasannya
2. Komunisme dan kegiatannya di Indonesia
3. Supardjo Direnggut Kalong
4. Mengungkap Pengkhianatan Pemberontakan 30 S/PKI
5. 40 Hari setelah Kegagalan G30S/PKI

Eko Ismadi adalah Pemerhati Sejarah

Lihat juga...