Pengrajin Tulang Ikan Paus di NTT Butuh Dukungan
LEWOLEBA – Ikan Paus yang biasa ditangkap masyarakat Lamalera di kabupaten Lembata bukan hanya dimanfaatkan daging dan minyaknya saja. Masyarakat kini memanfaatkan tulang dan gigi mamalia laut berukuran besar terebut untuk dijadikan souvenir atau kerajinan tangan.
Salah satu perajin tulang ikan paus Bernadus Keytimu menyebut, pengembangan usaha yang digelutinya diawali dari bantuan permodalan PNPM. Bantuan yang diterima dibelikan peralatan dan untuk modal usaha.
“Kami kesulitan mengembangkan usaha karena tidak ada bantuan dana dari pemerintah padahal proposal sudah lama kami ajukan ke dinas Sosial kabupaten Lembata namun tidak kunjung terealisir,” ungkap Bernadus, Selasa (7/11/2017).
Kelompok Usaha Suka Maju (Kusuma) sebut Bernardus, dibentuk sebelum adanya peringatan Hari Nusantara Nasional di Lembata Desember 2016 lalu. Sementara pada peringatan hari nusantara, dirinya diminta membentuk kelompok dan memamerkan kerajinan tangan yang diproduksinya.

“Dari 11 anggota, 7 orang tidak bisa bekerja karena belum mendapat pelatihan dan peralatan juga tidak ada serta modal untuk membeli bahan baku dan lainnya sehingga mereka sementara belum bisa diajak bekerja,” terangnya.
Kusuma sudah 2 kali meminjam uang dari BRI Lewoleba untuk membeli peralatan dan biaya produksi. Namun pinjaman dana yang didapat juga terbatas karena usaha yang ditekuni pun tidak bisa berkembang karena keterbatasan modal dan tersendatnya pemasaran.
“Meski berproduksi sejak tahun 2014 sendirian dan sejak ada penambahan 3 anggota produksi tahun 2016 meningkat namun kami kesulitan memasarkan produk kami karena tidak memiliki toko untuk berjualan dan hanya menjualnya di rumah saja atau lewat bantuan teman-teman.,” tuturnya.

Kerajinan tangan yang dibuat dari tulang belulang ikan Paus beber Bernardus yakni tongkat komando, anting, pipa rokok, cincin, kalung dan gelang. Sementara kerajinan dari sisik Penyu ada gelang, anting, cincin dan kalung.
“Tongkat komando harga promosi dijual Rp2,5 juta untuk ukuran 60 sentimeter sementara yang ukuran pendek 40 sentimeter kami jual Rp1,5 juta. Gelang dijual Rp120 ribu sebuahnya untuk harga promosi dimana ada 3 jenis yaitu pintal, polos dan punggung,” terangnya.
Kelompok yang beralamat di Bluwa kelurahan Lewoleba Barat ini menjual cincin dari gigi ikan Paus untuk ukuran yang tebal seharga Rp500 ribu, sementara yang agak tipis dijual Rp250 ribu dan semua uang hasil penjualannya akan dibagi dengan masyarakat Lamalera sebab tulang ikan Paus tersebut secara adat tidak boleh dibeli.
“Kalau ada instansi yang mau membantu tentu kami akan sangat bersyukur sebab dengan demikian anggota kami yang masih menganggur bisa kami didik dan merekrut masyarakat lain untuk dilatih membuat kerajinan ini tapi kami juga dibantu pemasarannya,” harapnya.
Emanuel Bataona salah seorang warga Lewoleba Barat yang ditemui Cendana News mengaku sangat prihatin dengan kondisi kelompok ini meski potensinya sangat luar biasa namun tidak bisa berkembang akibat ketiadaan modal usaha dan kesulitan dalam pemasaran.
Eman sapaannya mengaku selalu membawa hasil kerajinan kelompok ini bila bepergian baik di Lembata maupun ke luar daerah agar bisa membantu kelompok ini serta selalu memberitakan profil kelompok ini agar bisa dikenal.
“Saya yakin kalau ada bantuan dan pendampingan dari pemerintah baik modal usaha, pelatihan meningkatkan keterampilan dan juga pemasarannya, kelompok ini bisa berkembang pesat dan dapat memberikan tambahan penghasilan bagi pengrajinnya dan membuka lapangan kerja,” pungkasnya.