LAMPUNG – Beberapa sentra buah lokal hasil produksi petani buah diantaranya buah naga di Kecamatan Sragi, buah semangka dan jeruk siam Banyuwangi di Kecamatan Palas dan pepaya California di kecamatan Ketapang, mengalami masa puncak panen pada bulan November. Bulan ini pula tiba musim buah nanas dan mangga di Kecamatan Katibung.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Mustofa (35) distributor buah lokal asal Kecamatan Palas yang menekuni bisnis jual beli buah lokal sejak lima tahun silam.
Mustofa menyebut, sepanjang akhir Oktober hingga pertengahan November, sebagian besar pemilik tanaman buah di sentra produksi buah di Lampung Selatan memasuki masa panen. Para pebisnis pertanian khususnya buah segar konsumsi, mulai bergairah. Mustofa yang biasa memasok buah nanas, mangga dan semangka hasil pertanian warga Palas dan Katibung menyebut, kondisi musim buah sedang “banjir”. Untungnya, harga tidak terlalu merosot tajam.

Konsumsi yang tinggi tersebut, diakui Mustofa, juga disebabkan beberapa faktor di antaranya kebutuhan pokok pedagang buah atau kios buah akan beragam jenis buah lokal. Kebutuhan para pemilik usaha kuliner yang membutuhkan variasi menu dengan buah untuk dibuat kue, salad dan jus sehingga mempercepat mata rantai distribusi buah. Tak hanya sebatas konsumsi langsung. Selain itu juga faktor banyaknya warga yang memilih bulan November untuk melangsungkan pesta pernikahan, membuat permintaan buah untuk hiasan dekorasi, minuman buah, serta pencuci mulut.
Ia juga menyebut, selain faktor konsumsi tersebut, datangnya musim hujan diakuinya membuat sebagian masyarakat menjalankan anjuran kesehatan dalam menjaga ketahanan fisik dengan banyak mengkonsumsi buah. Peranan tenaga kesehatan dalam memberikan anjuran kepada ibu rumah tangga agar keluarga banyak mengkonsumsi buah juga ikut memicu konsumsi buah masyarakat.
“Istri saya kebetulan kader Posyandu dan melatih cara kreasi makanan dengan buah karena banyak anak sukar mengkonsumsi buah sehingga dibuat jus atau sate buah. Hal tersebut ikut mendorong tingginya konsumsi buah,” terang Mustofa.

Meski banjir buah, namun ia mengaku, harga buah lokal relatif stabil. Jika turun hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp1.000 per kilogram di antaranya jeruk siam Banyuwangi, semula dijual dengan harga Rp8.000 saat ini hanya Rp7.000 per kilogram. Nanas semula seharga Rp5.000 saat ini hanya Rp4.000 per buah. Semangka semula Rp3.000 per kilogram kini menjadi Rp2.000 per kilogram. Semuanya di level distributor. Sementara di level pengecer pedagang mengambil keuntungan Rp1.000 hingga Rp2.000.
Ahmad (40) pemilik kios buah mengaku, bisnis buah yang mengikuti musim beberapa buah diantaranya merupakan buah tahunan. Membuat ia harus pandai melihat pangsa pasar. Saat ini tren konsumsi buah semakin meningkat dengan munculnya bisnis kuliner berupa salad buah yang dijual secara online (dalam jaringan) memanfaatkan media sosial sehingga pembeli buah dari kiosnya juga sekaligus sebagai produsen.
“Jika sudah langganan saya akan tahu buah yang dibeli akan dikonsumsi langsung atau dijual dalam bentuk olahan lain sehingga saya beri harga miring,” beber Ahmad.
Permintaan yang tinggi akan buah nanas, semangka non biji merah dan semangka inul kuning diakuinya mulai meningkat sejak bulan November. Ia menyebut, rata-rata mengambil keuntungan mulai dari Rp3.000 hingga Rp4.000 dengan pertimbangan beberapa buah yang tak laku bisa mengalami pembusukan. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, beberapa buah lokal miliknya juga banyak dibeli pembuat es buah dan jus buah. Hal itu membuat distribusi buah yang dijual di kiosnya cukup lancar dengan stok sekitar 300 kilogram semangka berbagai jenis. Termasuk juga ada nanas, jeruk dan buah naga.