MATARAM – Dalam upaya mengangkat nama Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selain gencar dilakukan melalui promosi sektor pariwisata dan seni kebudayaan lokal, juga melalui hasil kerajinan, khususnya kerajinan tenun.
Salah produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) unggulan dan menjadi salah satu ikon pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah kerajinan tenun yang berpusat di Desa Wisata Sukarara dan Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah.
“Kain tenun merupakan salah satu produk UKM yang cukup dikenal dan banyak disukai wisatawan saat melakukan liburan di NTB,” kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Erica di Mataram, Jumat (17/11/2017).

Karena itulah, promosi hasil kerajinan harus lebih diperkuat lagi, terutama ketika ada iven besar yang digelar, baik skala nasional maupun internasional.
Tidak kalah penting dari itu, bagaimana produk kerajinan tenun yang dihasilkan bisa lebih ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun motif kain yang variatif sehingga menarik minat wisatawan serta meningkatkan nilai tawar tenun yang dihasilkan.
“Inovasi dan kreativitas menjadi salah satu kunci mengangkat nama NTB melalui kerajinan tenun, termasuk meningkatkan nilai dari sisi ekonomi,” katanya.
Dikatakan pula, salah satu upaya yang dilakukan Dekranasda NTB dalam upaya melestarikan dan mengangkat tenun khas lokal NTB menjadi produk yang diminati dan dikenal di semua kalangan, yaitu melalui program mempromosikan berbagai tenun khas daerah NTB seperti tenun khas Sasak, Samawa dan Mbojo menjadi produk ready to wear, daily wear yang terjangkau.
Caranya adalah salah satunya menggandeng desainer-desainer nasional untuk merancang songket dan tenun khas NTB menjadi produk ready to wear untuk semua kalangan, termasuk masyarakat umum.
Desainer yang diajak bekerjasama adalah perancang yang telah memiliki nama besar, jaringan yang luas, juga diutamakan yang telah membuka konter di NTB, dan telah diminati oleh masyarakat NTB seperti Ria Miranda.
“Terbukti setelah ditampilkan dalam acara bertajuk fashion show on the street, permintaan akan tenun dan songket NTB dapat dirasakan secara perlahan mulai mengalami peningkatan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dekranasda NTB, Syamsiah menambahkan, selain promosi dan melakukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan perajin dan penenun,
Dekranasda juga menjalankan program jangka panjang, melalui Dekranasda Goes to School dan Dekranasda Goes to Campus.
Program tersebut selain bertujuan menanamkan rasa cinta akan produk lokal kepada pelajar, juga diharapkan mampu memotivasi dan memberikan bimbingan agar generasi muda NTB berani untuk memilih terjun ke dunia kerajinan yang masa depannya juga sangat menjanjikan.
“Kita ingin masyarakat NTB, terutama generasi muda, bisa lebih banyak mendalami dan menggeluti kewirausahaan yang kalau digeluti secara serius bisa memberikan mereka keberhasilan dan keuntungan ekonomi tak berbatas, daripada harus menjadi PNS,” harapnya.