Keberadaan Kelompok Tani Mudahkan Distribusi Pupuk di Lamsel

LAMPUNG — Musim penghujan menjadi masa yang paling ditunggu oleh para petani Kabupaten Lampung Selatan tanpa kecuali di wilayah Kecamatan Palas, Sragi, Penengahan dan Bakauheni. Umumnya para petani ini mulai menanam jagung sejak akhir Oktober hingga awal November.

Purwanto (36), salah satu petani jagung di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan mengungkapkan sudah menanam jagung sejak pertengahan Oktober, sehingga dirinya sudah melakukan proses pemupukan selama dua kali dan fokus pada pengendalian hama dan gulma.

Proses pemusnahan hama dan gulma diakui Purwanto oleh sebagian petani dilakukan dengan sistem tradisional melalui sistem “dangir” atau pembersihan rumput menggunakan cangkul,sabit sekaligus melakukan proses pembubunan tanah pada setiap rumpun jagung yang ditanamnya.

Rumput yang membandel dimusnahkan dengan penggunaan herbisida. Jenis rumput tertentu berpotensi menghambat pertumbuhan jagung dan menghabiskan nutrisi tanaman seusai proses pemupukan pertama.

“Usia satu minggu sebelum pemupukan dilakukan dengan pupuk cair magnesium untuk merangsang perkembangan hijau daun ditambah insektisida menghindari hama bulai yang menyerang tanaman daun,” ujar Purwanto saat ditemui Cendana News tengah mengecek kondisi tanaman jagung uang sudah memasuki usia 30 hari setelah tanam, Senin (20/11/2017)

Sebagian petani jagung menurut Purwanto saat ini masih mengandalkan sistem pinjaman pada pemilik modal atau dikenal dengan “bos” jagung sejak penyediaan bibit, pupuk, obat-obatan serta kebutuhan lain.

Sejak adanya program swasembada pangan melalui upaya khusus padi, jagung dan kedelai ( upsus pajale) ia mendapat jatah alokasi bantuan bibit jagung sesuai dengan kebutuhan luasan lahan perhektar mendapat bantuan bibit sebanyak 15 kilogram.

Kebutuhan bibit sekaligus pupuk saat ini diakuinya harus ditebus melalui kelompok tani (poktan) sehingga memudahkan anggota kelompok seperti dirinya yang menjadi anggota Poktan Mitra Tani memperoleh kebutuhan bibit, pupuk dan obat. Konsultasi dan tukar pengalaman dengan anggota kelompok lain sekaligus menguntungkan dirinya sebagai petani jagung.

Lahan seluas dua hektar yang ditanami dengan bibit jagung jenis pasific 105 dan NK tersebut diakuinya mempertimbangkan kualitas tanaman jagung yang diperuntukkan untuk dijual dengan tujuan memperoleh bobot yang lebih banyak dimana varietas pasific 105 dan NK memiliki keunggulan bobot.

Harga jagung pipilan yang kini mencapai Rp2.600 per kilogram cukup terbantu dengan bobot yang lumayan meski harga jagung berpeluang naik hingga kisaran Rp3.000 atau bahkan anjlok di bawah Rp2.500 per kilogram.

“Kebutuhan paling pokok petani jagung saat ini lancarnya stok bibit, pupuk dan obat obatan keberadaan poktan sangat membantu kami memperoleh kebutuhan apalagi kini distribusi pupuk bersubsidi diawasi,” terang Purwanto.

Keberadaan kelompok tani khususnya untuk petani jagung juga dirasakan menguntungkan oleh Rendi (32) anggota Poktan Bina Karya yang beranggotakan sekitar 25 kelompok petani jagung. Sebagai anggota kelompok sebelum masa tanam bersama anggota kelompik ia mengaku sudah melakukan penyusunan rencana dasar kebutuhan kelompok (RDKK) akan bibit, pupuk bersubsidi karena setiap anggota kelompok memiliki kebutuhan pupuk yang berbeda sesuai luasan lahan.

Rendi menyebut pada pemupukan tahap pertama tanaman jagung berusia 16 hari setelah tanam ia menggunakan pupuk Phonska sebanyak 300 kilogram perhektar ditambah dengan campuran pupuk jenis urea dan SP 36 sekitar 100 kilogram.

Sementara pada pemupukan kedua pada usia tanaman 25 hari ia masih membutuhkan pupuk jenis super fosfat SP-36, pupuk NPK Phonska, pupuk Urea dengan total kebutuhan total mencapai 300 kilogram.

“Jika pupuk sudah tersedia di gudang kelompok maka kami petani jagung tak perlu kuatir kehabisan pupuk karena penebusan sudah dilakukan oleh bendahara kelompok dari distributor sementara sistem pembayaran bisa kami cicil,” kata Rendi.

Billing system atau pembelian pupuk secara online denga pendistribusian pupuk yang terkoneksi dengan bank pemerintah tersebut berbeda dengan dua tahun sebelumnya di mana petani kerap kesulitan memperoleh pupuk, karena banyak dibeli oleh pemilik modal. Selanjutnya kelangkaan sering terjadi di distributor hingga pengecer meski kini pupuk bersubsidi harus disalurkan dan dibeli melalui kelompok.

Keberadaan kelompok tani khususnya jagung diakui Rendi membantunya dalam penyediaan bibit, pupuk bahkan dengan keputusan bersama sekaligus adanya uang kas bisa menebus alokasi pupuk yang mendapat jatah perkelompok sebesar 10 ton pupuk. Cara pembayaran yang dicicil kepada poktan diakuinya memudahkan petani menebus sistem bayar panen sehingga ketersediaan pupuk bisa lancar.

Kebutuhan pupuk yang masih berkelanjutan pada pemupukan ketiga setelah tanaman jagung berusia sekitar 40 hari setelah tanam dengan pupuk urea sebanyak 300 kilogram diakuinya semakin mudah dengan adanya gudang kelompok.

Kelompok tani yang ikut memfasilitasi kebutuhan pupuk serta kebutuhan lain bahkan diakui Rendi kini menyediakan fasilitas mesin pemipil jagung serta kemudahan pembelian jagung melalui kerjasama dengan pabrik pengolahan jagung sehingga memperpendek distribusi panen jagung petani.

“Petani sekarang lebih dimudahkan dalam sarana dan prasarana serta sistem distribusi pupuk dan bantuan bibit namun tetap mewaspadai serangan hama dan cuaca,” kata Rendi.

Pada bulan sebelumnya para petani selain kesulitan memperoleh pupuk akibat keterlambatan distribusi juga bibit dikarenakan sebagian petani memilih jenis benih jagung tertentu untuk memperoleh hasil maksimal.Meski jenis bibit jagung pilihan lain juga tersedia di sejumlah kios pertanian yang ada di Lampung Selatan.

Rendi,mempersiapkan pupuk untuk proses pemupukan tahap kedua pada lahan tanaman jagung miliknya /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...