KABUPATEN KARANGANYAR, BERLIMPAH MANUSIA BERUSIA DI ATAS 100 TAHUN?

Oleh Sofyan Rambey*

Ada sebuah berita menarik dalam satu reportase di situs cendananews.com tanggal 17 November 2017, berjudul “64 Warga Karanganyar Berusia di Atas 100 Tahun”. Informasi berharga perihal keberadaan centenarians (orang-orang berusia di atas 100 tahun) di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, ini tentulah layak ditelusur lebih jauh validitasnya.

Berita terkait: 64 Warga Karanganyar Berusia di Atas 100 Tahun

Bagi seorang researcher (peneliti), problem utama dalam penentuan usia secara akurat di Indonesia akan sangat banyak bergantung pada tingkat akurasi birth and death records (data kelahiran dan kematian) serta pola migrasi penduduk setempat. Sayangnya, justru inilah kendala terbesar yang hampir pasti akan dihadapi oleh setiap peneliti. Kita tentu dapat membayangkan (ini sekedar asumsi saja), bagaimana “carut-marutnya kondisi data kependudukan Indonesia saat itu” –di awal abad ke 20 (Wagiyem diklaim terlahir pada tahun 1901). Di abad ke 21 kini sekali pun, bahkan kita belum memiliki single identity number. Tidaklah heran, hingga kini, masih banyak masyarakat yang memiliki lebih dari satu KTP dengan data sesuai peruntukan yang dikendaki. Bagaimana perkembangan e-KTP kita? Alamaaak, tak usahlah kita bahas lebih jauh.

Membayangkan Karanganyar di Kala Itu..

Sepintas, saya mencoba melihatnya dalam frame menggunakan buku “The History of Java” (1817) karangan Sir Thomas Stamford Raffles, untuk sekedar memperoleh gambaran awal kondisi masyarakat di pulau Jawa, di abad ke 19. Dan di buku tersebut (setebal 904 halaman)–pertama sekali saya menemukan dan membacanya sepintas pada medio 1993, saat menempuh studi di London Business School–agak sulit mendapatkan gambaran terinci perihal peta demografi pulau Jawa, terlebih secara khusus terkait daerah Karanganyar.

Di buku tersebut terungkap, sepenggal informasi menarik perihal populasi penduduk di pulau Jawa pada 1815, yakni sekitar 4.615.270 jiwa (Raffles, op.cit., p.63). Dengan studi demografi yang mendalam, tentu bukan mustahil untuk mendapatkan data yang mendekati kebenaran kondisi masyarakat Karanganyar pada saat itu. Walaupun, kembali lagi, tingkat akurasi dan validitas data serta protokol verifikasi akan menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini sangat berbeda dengan negara-negara maju, di mana data kependudukan tercatat dan tersedia dengan baik.

Karenanya, dalam longevity study (studi tentang usia harapan hidup panjang), peran seorang demografer menjadi sangat penting. Konsep antropologis Blue Zone yang digagas oleh Dan Buettner, pada awalnya mengawali ekspedisinya dengan mencoba memetakan secara demografis longevity hot spots, around the globe. Dalam hal ini, Buettner dibantu oleh dua orang pakar demografi, yakni Gianni Pes (Professor, University of Sassari, Sardinia) dan Michel Poulain (Professor Tallinn University, Estonia).

Di samping hal itu, klaim bahwa Wagiyem saat ini telah berusia 116 tahun dan terdapat 64 warga Karanganyar yang telah berusia di atas 100 tahun, tentunya merupakan sebuah informasi awal yang sangat menarik! Walau tentu dibutuhkan proses verifikasi dan pembuktian lebih lanjut. Postulasi awal yang mungkin dapat diformulasikan tak lebih adalah: “Dapat disinyalir terdapat sejumlah centenarian di Karanganyar”.

Dari hasil kajian awal yang kami lakukan berbasis desk study, empirical fact finding dan participatory action research, setidaknya dapat diduga, ada beberapa kesamaan penting di antara beberapa longevity hot spot (Ogliastra-Sardinia, Ogimi Fishing Village-Okinawa dan Acciaroli-Italy) yang telah kami riset dan “perkiraan kondisi masyarakat Karanganyar, diawal abad ke 20” (dengan asumsi, bahwa benar di Karanganyar terdapat populasi centenarian dalam jumlah besar, relatif terhadap populasi penduduk setempat).

Kesamaan yang saya maksudkan antara lain terletak pada “tingkat kesulitan hidup yang dihadapi masyarakat saat itu. “Kesulitan yang saya maksud tidak hanya terkait dengan faktor ekonomi semata, tapi juga tantangan fisik semasa masyarakat –saat itu– belum terpolusi oleh arus deras kehadiran modernisasi, komersialisasi, dan globalisasi.

Secara alamiah, kemiskinan akan memaksa penduduk untuk mengonsumsi bahan makanan alami (raw, natural organic food) dan sangat mungkin sebagiannya adalah makanan segar tanpa proses (fresh and unprocessed food) dengan porsi asupan yang sangat terbatas, bahkan sangat mungkin masyarakat sering menderita kelaparan. Dan hal ini sejalan dengan temuan lapangan (field fact finding) dalam riset yang kami lakukan semisal di Okinawa, Sardinia, dan Acciaroli. Di awal dan pertengahan abad ke-20, kehidupan masyarakat di ketiga wilayah tersebut juga menghadapi kondisi yang serupa. Invasi perompak, peperangan, dan kesulitan hidup adalah warna keseharian hidup mereka.

Sejalan dengan fenomena diatas, dalam konsep GZS yang sedang kami formulasikan (refer: GReeN ZONES Society Part-1), antara lain, kami menawarkan pendekatan pola makan “rendah kalori namun kaya nutrisi” (caloric restriction but nutrition rich) sebagai salah satu strategi untuk memperpanjang usia harapan hidup. Di Okinawa, sangat dikenal filsafat Confucius yang diterapkan oleh para centenarian yakni, “Hara hachi bu” (はら はち ぶ) yang bermakna berhentilah makan saat kita merasa 80% kenyang.

Dalam salah satu sunnah Nabi Muhammad S.A.W., kita pun sangat dianjurkan untuk memulai makan saat lapar tiba dan berhenti sebelum kenyang. Ada pula sebuah pandangan yang mengatakan bahwa undernutrition (bukan malnutrition) memiliki kontribusi terhadap longevity. Bahkan, sangat mungkin, kearifan lokal zaman kuno (local ancient wisdom) berupa pola tirakat ala kejawen, salah satu variannya Njogo Babahan Howo Songo (Menjaga Lubang Hawa Sembilan), memiliki kontribusi atas kehadiran sejumlah centenarian dimaksud.

Di ketiga daerah yang telah kami riset, hampir sangat sulit dijumpai prevalensi overweight dan obesitas menjangkiti masyarakat setempat. Setidaknya, ada dua faktor penyebab yang dapat diduga. Yakni, pola dan asupan makanan rendah kalori, namun relatif cukup nutrisi. Selain itu, adanya tantangan alam yang memaksa penduduk setempat untuk senantiasa melakukan aktifitas fisik berupa olah gerak dalam jeda kurang lebih setiap 30 menit (aktivitas sebagai penggembala ternak, petani, pekebun, nelayan dan lain-lain). Tentunya, kita juga dapat membayangkan bagaimana kondisi lingkungan alam dan tantangan fisik yang dihadapi masyarakat Karanganyar di awal abad ke 20, manakala modernisasi, komersialisasi, dan globalisasi belum menjamahnya. Bahkan, hingga kini pun, sangat mungkin, sebagian penduduk setempat masih hidup dengan mengamalkan “laku” atas sejumlah kearifan lokal sebagai legacy dan heritage masa lalu. Sebaliknya, modernitas kehidupan zaman now cenderung menawarkan sejumlah kemudahan hidup nir aktivitas fisik, yang melahirkan pola hidup sedentary life.

Modernisasi dan komersialisasi sektor pertanian dengan segala kemudahan yang ditawarkannya, seperti: kehadiran mekanisasi, penggunaan benih GMO (genetically modified organism), pupuk, pestisida, herbisida kimiawi, tentu akan mengubah dengan sangat masif, sekaligus memiskinkan kandungan mineral, unsur hara, tingkat kesuburan, serta plasma nutfah lahan pertanian. Dalam buku Raffles di halaman 75, terdapat ilustrasi sejumlah alat pertanian ; semisal luku, bajak, arit, dan lain-lain, yang digunakan kala itu. Kita tentu dapat membayangkan bagaimana olah fisik masyarakat yang belum tersentuh mekanisasi dan modernisasi di sektor pertanian.

Di sisi lain, kita dapat memahami bahwa pertumbuhan jumlah penduduk yang mengikuti pola deret ukur dan pertimbangan komersial, tentulah meniscayakan perlunya kehadiran produksi hasil pertanian yang mencukupi dan bahkan melimpah ruah (abundance).

Rezim kedaulatan pangan adalah satu hal! Demikian pula halnya ikhtiar hidup sehat dengan mengonsumsi natural food, organic food yang terhindar sejauh mungkin dari invasi substansi beracun atau toxic substance (kandungan preservatives, steroid, formalin, zat pewarna, zat pengawet dalam produk kalengan, pupuk, pertisida, dan herbisida berbasis senyawa kimia, zat additives tertentu, mercury, logam berat lainnya, dll.), adalah hal lain, dengan dimensi dan pemaknaan yang berbeda pula.

Pada akhirnya, kedua spektrum ekstrim ini merupakan tantangan yang perlu disiasati secara cerdas dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, bila kita ingin menjalani pola hidup sehat, tidak terjangkit penyakit degeneratif, tetap produktif, bahagia, dapat menikmati hidup dan kehidupan di usia tua secara baik, serta meningkatkan life span sesuai Heyflix limit, di atas rata-rata usia harapan hidup (expected life expentancy).

Berbasis data dari Central Intelligence Agency (CIA), terlampir, pada tahun 2017, estimasi usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia adalah 73 tahun (70.4 tahun untuk laki-laki dan 75.7 tahun untuk perempuan). Untuk sekedar direnungkan, bahwa di tahun ini, Indonesia menempati peringkat ke 143 dari sisi expected life expectancy masyarakat global. Sesuatu yang sangat tidak mencerahkan.

Pembaca yang budiman, guna menyudahi tulisan ini, saya ingin menghadiahkan ungkapan menarik dari Epictetus bagi Anda semua. Dalam salah satu bukunya yang kini sedang saya baca (“How To Be A STOIC –Ancient Wisdom For Modern Living”; Massimo Pigliucci-terbitan 2017), di halaman 29, Epictetus bilang, SOME THINGS ARE IN OUR POWER, OTHERS ARE NOT. “We must make the best of those things that are in our power, and take the rest as nature gives it.”

Jakarta 18 November, 2017

*Sofyan Rambey adalah Praktisi Nutrigenomics & penggagas GReeN ZONES Society.

 

Boks Redaksi

(Sumber : Wikipedia)

Catatan Dunia atas Orang-Orang di Atas 100 Tahun

Pada 2012, Persatuan Bangsa-Bangsa pernah merilis survei tentang centenarian. Saat itu PBB memperkirakan ada 316.600 centenarian di seluruh dunia. Pada 2015, Amerika Serikat adalah negara dengan centenarian terbanyak di dunia, mencapai 72.000 orang. Diikuti Jepang dengan 61.000 orang.

Amerika Serikat memiliki jumlah centenarian terbesar pada setiap negara bagian dengan jumlah 53,364 jiwa menurut Sensus 2010, atau 17.3 dari 100,000 orang. Pada 2010, 82.8% dari centenarian AS adalah perempuan. Jepang memiliki jumlah centenarian terbesar yang kedua, dengan perkiraan 51,376 jiwa pada September 2012.

Jumlah Centenarian Menurut Negara

Total jumlah centenarian di dunia tetap tidak diketahui. Namun diperkirakan oleh Divisi Populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa sebesar 23,000 jiwa pada 1950, 110,000 pada 1990, 150,000 pada 1995, 209,000 pada 2000, 324,000 pada 2005 dan 455,000 pada 2009.

Country Perkiraan terakhir (tahun) Perkiraan sebelumnya (tahun) Centenarian per
100,000 orang
Andorra 7 (2002)[6] 10.23
Argentina 3,487 (2010)[7] 8.69
Australia 4,252 (2011)[8] 50 (1901) 18.75
Austria 232 (1990)[9] 25 (1960)[9] 2.98
Belgia 1,559 (2010)[10] 23 (1950)[11] 14.24
Brazil 23,760 (2010)[11] 12.46
Kanada 7,569 (2011)[11] 22.31
China 48,921 (2011)[12] 4,469 (1990),[11] 17,800 (2007)[13] 3.63
Republik Ceko 625 (2011)[14] 404 (2006) 5.92
Denmark 889 (2010)[11] 19 (1960)[9] 16.08
Estonia 42 (1990)[9] 2.67
Finlandia 566 (2010)[11] 11 (1960)[9] 10.6
Perancis 20,106 (2013)[15] 7,754 (1999) 27.01[16]
Jerman 17,000 (2012)[17] 232 (1885)[18] 21
Hungaria 799 (2009)[19] 227 (1990) 7.98
Islandia 17 (1990)[9] 3 (1960)[9] 6.67
Irlandia 87 (1990)[9] 2.48
Italia 16,390 (2013)[20] 88 (1950)[11] 27.46
Jepang 51,376 (2012)[3] 111 (1950),[11] 155 (1960)[21] 34.85
Meksiko 7,441 (2010) 2,403 (1990) 6.62
Belanda 1,743 (2010)[22] 18 (1830)[23] 10.41
Selandia Baru 297 (1991)[24] 18 (1960)[9] 5.92
Norwegia 636 (2010) 49 (1950) 13.1
Peru 1,682 (2011)[25] 5.58
Polandia 2,414 (2009) 500 (1970)[26] 6.27
Portugal 268 (1990)[9] 2.72
Singapura 724 (2011)[27] 41 (1990)[9] 13.7
Slovenia 224 (2013)[28] 2 (1953)[29] 10.88[28]
Korea Selatan 1,836 (2010)[30] 961 3.67
Spanyol 12,033 (2013)[31] 5,891 (2009)[32] 26.44
Swedia 1,798 (2010) 46 (1950) 19.1
Switzerland 1,306 (2010) 10 (1860) 16.64
Thailand 17,883 (2012)[33] 34,784 (2003)[33] 26.80
Britania Raya 13,361 (2012)[34][35][36][37] 100 (1911)[38] 20.97
Amerika Serikat 53,364 (2010)[2] 2,300 (1950)[39] 17.3
Uruguay 519 (2011)[40] 15.79[41]
Perkiraan Dunia 316,600 (2012)[1] 23,000 (1950) 4.44

 

 

Lihat juga...