‘Gudeg Bu Sorok’, Kuliner Khas Jogja di Sumatera

LAMPUNG — Tinggal di Pulau Sumatera, tepatnya di wilayah Lampung, bukan berarti para transmigran asal Pulau Jawa, khususnya yang berasal dari Yogyakarta tidak bisa mengobati kerinduannya makan kuliner khas asal Jogja yang dikenal dengan sebutan gudeg.

Dika (25), salah satu pemuda asal Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, yang pernah kuliah di Jogja mengaku mulai rindu akan kuliner khas gudeg. Menurutnya, makanan khas terbuat dari bahan utama nangka muda atau disebut tewel tersebut memiliki ciri khas lumayan lezat dari perpaduan gurih dan manis yang disajikan dengan tambahan pelengkap lain berupa ati ampela, daging ayam, tempe bacem, krecek kulit sapi, kentang goreng.

Beruntung, kerinduan akan gudeg tersebut bisa terobati di salah satu warung khas Jogja di Warung Bu Sorok. “Saya kerap membeli gudegnya saja untuk disantap di rumah, tetapi saat sedang bekerja kerap saya membeli untuk dibungkus lengkap dengan lauk lain, karena beragam pilihan untuk menambah cita rasa dan penyemangat selera makan”, terang Dika, pelanggan di warung Bu Sorok, Sabtu (4/11/2017).

Dika menyebut, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp8.000 untuk satu porsi dan lengkap dengan nasi cukup dengan harga Rp11.000, sudah mendapatkan lauk tahu bacem goreng, tahu dan krecek dan ayam goreng.

Dika dan Bu Sorok. [Foto: Henk Widi]
Saat akhir pekan, ia menikmati gudeg bersama kawan-kawannya sekedar mengobati kerinduan akan kuliner khas Jogja bernama gudeg tersebut, meski beragam pilihan kuliner di warung Bu Sorok juga tersedia sebagai pelengkap. Beberapa pelengkap lauk yang cocok disantap bersama kuliner gudeg dengan cita rasa manis gurih dan tambahan cabai hijau utuh serta sambal tersebut bisa disantap bersama ikan goreng serta lauk tergantung selera.

Bu Sorok, demikian sang pemilik warung berusia sekitar 60 tahun tersebut, saat ditemui Cendana News mengaku mendirikan warung dengan menu gudeg serta beberapa makanan khas Jogja lain, karena di wilayah tersebut dekat dengan pasar tradisional dan masyarakat banyak yang berasal dari transmigran Jogja.

Para transmigran asal Jogja tersebut, menurut sejarahnya sesuai dengan penuturan sang suami yang pernah menjadi sekretaris desa (carik), tak lepas dari zaman kolonisasi saat Belanda menjajah wilayah Lampung Selatan. Desa dengan sebutan Pasuruan, Kecamatan Penengahan, awalnya bernama Pesuruhan, sebagai asal kata warga yang membantu penduduk asli Lampung dalam menggarap kebun lada, kopi, sawah sekitar 83 tahun silam hingga mulai menetap dan membentuk kampung yang secara administratif kini menjadi sebuah desa.

“Banyak warga asal Jogja, sehingga makanan juga masih banyak disukai warga meski dalam perkembangan warga pendatang lain dari Padang, Batak juga mulai mendiami wilayah ini,” beber Bu Sorok.

Menu gudeg tak heran menjadi salah satu sajian khas di antara sajian kuliner lain di warung Bu Sorok, yang berada di Jalan Lintas Sumatera KM 67, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, dan dekat dengan beberapa perkantoran pemerintahan dan toko waralaba serta pasar tradisional, sehingga masih tetap bertahan sejak puluhan tahun silam. Faktor ketersediaan bahan baku nangka muda yang melimpah membuat Bu Sorok tak kesulitan membuat gudeg serta sebagian dibuat sayur tewel biasa.

Bu Sorok juga tak pelit membagikan resep pembuatan gudeg, di antaranya dengan bahan-bahan nangka muda yang dipotong-potong sebanyak 1 buah sebagai bahan utama, telur rebus secukupnya, daun salam, lengkuas diiris secukupnya, gula merah, santan kelapa, bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, selanjutnya semua bumbu yang harus digerus dihaluskan.

Nangka muda yang telah dicuci bersih direbus menggunakan panci khusus pada tungku tanah berbahan bakar kayu, karena membutuhkan waktu lama untuk merebusnya. Jika menggunakan kompor gas akan lebih boros. Kelengkapan lain berupa daun salam, serta irisan lengkuas dimasukkan dalam panci berikut telur yang sudah direbus dan dikupas, gula merah selanjutnya bumbu halus juga dimasukkan dalam panci.

Semua bahan yang sudah dimasukkan dalam panci untuk direbus hingga selama dua jam dan telur yang sudah menyatu bumbunya dengan gudeg bisa disisihkan. Setelah air menyusut dan nangka berubah warna menjadi coklat, proses pengadukan dilakukan dengan sendok kayu untuk menghaluskan nangka, sekaligus memberi tambahan santan. Butuh kesabaran dan ketelatenan dalam pembuatan gudeg tersebut untuk memperoleh rasa yang lezat.

“Telur yang sudah direbus dimasukkan lagi, agar semakin matang, tapi ada juga pelanggan yang memilih telur rebus biasa sebagai campuran saat makan gudeg”, terang Bu Sorok.

Setelah nangka masak dan menjadi gudeg, proses pematangan lanjutan dilakukan hingga santan menyusut, bahkan gudeg berangsur mengering dan matang ditandai dengan warna yang coklat dan siap dipindahkan ke wadah lain. Menjaga gudeg tetap hangat, Bu Sorok kerap melakukan sistem menghangatkan gudeg beberapa jam sekali dan menyimpannya dalam wadah khusus, agar cita rasa gudeg tetap terjaga.

Setelah gudeg siap, beberapa tambahan lain berupa daging ayam, bacem tempe, tahu bacem, krecek atau kikil sapi, kentang, kacang merah diolah tersendiri dan saat sudah matang bisa disajikan bersama menu gudeg sebagai pelengkap tambahan yang disertakan dalam penyajian.

Proses penyajian pun diakui Bu Sorok kerap menggunakan piring dari tanah liat dan terkadang menggunakan piring dari lidi kelapa, yang dialasi daun pisang muda untuk menciptakan selera makan pelanggan dengan sajian kuliner gudeg khas Jogja.

Warung Bu Sorok yang berdiri sejak puluhan tahun silam dan berada di lokasi strategis tersebut, buka sejak pukul tujuh pagi. Menyediakan kebutuhan masyarakat dan pelintas yang akan sarapan, hingga makan siang, bahkan hingga pukul 22.00 malam.

Meski terbilang warung sederhana, kerinduan masyarakat akan kuliner tradisional khususnya gudeg, membuat pemburu kuliner tak harus merogoh kocek dalam untuk ke Jogja dengan hanya datang ke warung Bu Sorok.

Lihat juga...