Batik Angsoran Cilacap Bergeliat Memunculkan Eksistensi
CILACAP – Perajin batik di Cilacap terus bergeliat. Keberadaan salah satu produk kerajian warisan leluhur tersebut kian eksis di kabupaten terluas di Jawa Tengah tersebut.
Salah satu, perajin batik yang kreatif dan terus mendorong eksistensi batik di Cilacap adalah Ansar Basuki Balasikh. Perajin asal Kroya tersebut pada mulanya dulu tidak suka batik. Kesan bahwa batik adalah pakain formal yang memunculkan rasa tidak senang tersebut.
Namun kesan batik sebagai formal, kaku, dan tak bebas, kini telah berubah menjadi jatuh cinta terhadap batik dan bahkan menjadi salah satu perajin produktif di Kabupaten Cilacap.
“Saya sebenarnya dulu tidak suka batik, bahkan anti. Soalnya, rasanya kalo pake batik formal banget, kaku, dan tak bebas. Selalu merasa tidak aku banget kalo pake baju batik. Tidak seperti jiwaku yang bebas dan merdeka”, kata Ansar kepada Cendana News, Selasa (31/10/2017).
Ansar yang dikenal sebagai seniman penyair menyebut, kecintaan terhadap batik berawal dari keinginan untuk mengangkat citra produk unggulan daerah. PNS di Humas Pemkab Cilacap mengawali dengan mengeksplorasi produk unggulan Cilacap dalam bentuk foto.
“Kebetulan saya senang fotografi, kemudian sebagai orang Cilacap apalagi kerja di di Humas, saya ingin ikut angkat citra produk-produk unggulan daerah, seperti gula semut, sale pisang, sabutret dan batik,” tutur Ansar.
Upaya untuk mempopulerkan produk-produk unggulan dilakukan lewat foto dan sosial media. Dari aktivitas tersebut, Ansar mendapatkan mandate dari Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, Dian Arinda Murni, untuk melakukan pemotretan produk-produk unggulan Cilacap.
Foto produk-produk tersebut akan dibuat sebagai ilustrasi kalender kantor Pemkab Cilacap. Dalam perjalanannya, aktivitas pemotretan produk unggulan tersebut mendekatkan alumni Universitas Wijaya Kusuma (Unwiku) Purwokerto tersebut dengan batik lokal.
Kedekatan Ansar dengan dunia batik membuat dirinya terpilih jadi Ketua Klaster Batik Wijayakusuma pada 25 November 2015 lalu. “Kebetulan ada pemilihan Ketua Klaster Batik Wijayaksuma, diluar dugaan saya terpilih,” kata Ansar.
Ansar yang semula hanya ingin membantu promosi dan marketing akhirnya menjadi sang nahkoda klaster batik Cilacap. Dan hal tersebut mendorong munculnya minat untuk memproduksi batik. “Biar lebih tahu seluk beluk soal batik,” tuturnya.
Pria yang sejak muda berkecimpung di berbagai organisasi tersebut memulai jadi perajin dengan memproduksi dan menjual karya sendiri sekitar satu tahun terakhir. Namun Ansar menegaskan, dirinya ingin berbeda dari yang lain dengan menonjolkan batik abstrak.
“Saya mencoba untuk berbeda dari yang lain, yaitu lebih menonjolkan batik abstrak. Sebab yang lain lebih fokus pada produk batik tulis halus. Nah, saya ambil abstrak,” ujarnya.

Pilihan Ansar pada batik abstrak, antara lain lantaran ia ingin bagaimana batik tidak terpaku harus sesuai pakem seperti batik klasik. Batik disebutnya sebagai sebuah karya seni sehingga membutuhkan kreatifitas dan tidak boleh terkungkung. “Maka kemudian saya menjadikan batik abstrak sebagai ikon Batik Balasik,” imbuhnya.
Ansar menambahkan, batik abstrak yang diciptakannya diberi nama motif Angsoran,yang berarti angkat cantingnya, sorna malame atau tumpahkan malamnya. Kelebihan Batik Angsoran, yaitu satu kain satu motif, dan tidak ada kembarannya. Untuk kain, Ansar memilih menggunakan kain katun mori, namun kain yang dipilihnya itu selalu yang baik dan tidak panas di badan.
“Membuat motif yang berbeda dari umumnya seperti ‘Angsoran’ ini adalah terobosan kami agar makin banyak motif batik di Cilacap. Motif ini juga cocok untuk anak muda,” kata Ansar.
Ternyata hasil kreasi Ansar diminati, itu terbukti kemudian makin banyak yang suka dan beli. Sejumlah pejabat di Pemkab Cilacap, seperti Bupati Tatto Suwarto Pamuji dan Wakil Bupati Akhmad Edi Susanto juga mengoleksi batik karya Ansar. Dari kalangan anggota dewan, beberapa juga mengenakan batik bikinan Ansar, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Cilacap Taswan Taswireja.
Mereka juga mensupport batik lokal. Mengapresiasi kreatifitas dalam berkreasi sehingga batik memiliki inovasi- inovasi yang dinamis. Ansar mengaku, dalam sebulan, jika dihitung rata-rata bisa memproduksi sekitar 30 potong batik. Memang belum besar, dan masih sebatas utamakan pesanan.
Produk terbaru yang dihasilkan adalah Kain Pelangi yang prosesnya tidak memakai malam panas. Kain pelangi bukan kain printing yang menggunakan mesin cap, proses pembuatan dengan menggunakan tangan seperti melukis. Keistimewaan Kain Pelangi, selain lebih murah tetap terjaga kualitasnya, sebab satu kain satu motif.
Sementara itu, dalam memasarkan batiknya, Ansar mengaku lebih suka mengikuti atau mengadakan pameran batik lewat pemotretan dengan model, bekerjasama dengan komunitas fotografi. “Pameran seperti itu lebih simpel dan praktis namun efeknya luas,” tandasnya.