Bank Sampah Induk, Tumbuhkan Kepedulian Pilah Sampah
BALIKPAPAN – Berawal dari keinginan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pemilahan sampah rumah tangga dan mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, Bank Sampah Induk yang dikelola secara swadaya oleh Saiful Bahri mulai berkembang. Bank Sampah Induk yang berada di Manggar, Balikpapan Timur ini, hadir sejak bulan April 2017.
Bank sampah induk bekerja menampung sampah dari puluhan bank sampah di Kota Balikpapan. Adapun jumlah bank sampah di kota minyak ini sebanyak 110 unit dan 20 persennya aktif menyetorkan sampah ke induk.
“Sekarang ini yang terpenting bagaimana menumbuhkan kepedulian masyarakat dalam memilah sampah. Pilah sampah karena sampah memiliki nilai ekonomis, tapi jangan berpikir bisnisnya saja. Namun bagaimana cara peduli agar sampah dapat dipilah dan bank sampah induk siap menampung serta membeli,” kata Saiful Bahri, Direktur Bank Sampah Induk saat ditemui di kawasan Manggar, Balikpapan Timur.

Ia menuturkan, bank sampah induk mulai efektif pada bulan April lalu dan bertugas menampung sampah dari seluruh unit bank sampah yang siap ditimbang dan dibeli. Tidak hanya bank sampah yang ada di kota, namun juga mengajak sekolah, perusahaan, rumah sakit, mall dan semua aktivitas untuk memilah sampah yang nantinya ditampung bank sampah induk. Hal itu dilakukan untuk mengurangi sampah yang diangkut ke TPA Manggar.
“Sementara ini, mengumpulkan sampah dulu, efektif bulan April. Kami menampung sampah keseluruhan yang ada di unit yang siap ditimbang dan dibeli. Untuk mengefektifkan kembali mengurangi sampah ke TPA kami juga mengajak sekolah, perusahaan, rumah sakit, mall dan semua aktivis,” terangnya Rabu (29/11/2017).
Setiap hari, bank sampah mengangkut sampah yang sudah dipilah sebanyak 3-4 ton. Sampah yang diangkut adalah sampah anorganik yang bernilai ekonomis seperti kertas, plastik, besi, alumunium, dan barang elektronik yang sudah tak bermanfaat.
“Setiap hari ada 2 pick up yaitu 12 kubik atau sekitar 3-4 ton yang kita angkut. Sampah anorganik yang benilai ekonomis seperti kertas, plastik, besi, alumunium, barang elektronik yang sudah tidak bermanfaat. Rata-rata setiap hari dua tempat dan berputar lokasi,” sebut Syaiful.
Dia mengaku, sejak harga minyak mentah turun jumlah sampah yang ditampung berkurang dan yang memilah juga berkurang. “Tahun-tahun sebelumnya ramai, kemudian minyak anjlok berdampak pada barang bekas. Karena plastik dari minyak mentah, orientasinya ke bisnis jadi peminat masyarakat kurang. Nah sekarang, masyarakat kembali memilah. Alhamdulillah setiap hari meningkat. Bisa menyisihkan sampah dan menumbuhkan kesadaran untuk memilah,” tuturnya.
Menurutnya, bank sampah induk dikelola sendiri melibatkan 3 karyawan yang bekerja sebagai sopir dan pengangkut. Sedangkan untuk operasonal setiap bulan menghabiskan dana sekitar Rp10 juta.
“Operasional itu hanya untuk membayar karyawan pengangkut dan sopir maupun bahan bakar. Saat ini yang dilakukan baru menampung dan membeli sampah dari bank sampah. Kami kumpulkan di area kami yang ada sekitar 6000 meter. Sementara belum penghasilan karena masih sistem menampung dan membeli sampah dari bank sampah. Nanti ke depan akan dijual ke Surabaya dan Jakarta,” pungkasnya.
Saiful berharap upaya yang dilakukan saat ini bisa terus menumbuhkan kesadaran atau kepedulian untuk memilah sampah guna mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke TPA Manggar.
“Tujuan bank sampah induk terus menimbang, mengangkut dan tidak boleh rugi. Menumbuhkan kepedulian memilah sampah. Ayo-ayo menampung dan membeli,” tutupnya.