KUPANG — Dinas Kesehatan Kota Kupang menggelar aksi ‘ketuk pintu’ ke rumah warga wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu untuk mendata dan mendeteksi kemungkinan warga terserang tuberkulolis (TBC atau TB).
“Kita sudah lakukan aksi pencegahan dengan ‘ketuk pintu’ warga ini sejak 2016 lalu dan sudah dua tahun ini dan berpengaruh efektif,” kata Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih di Kupang, Selasa (7/11).
Dia mengatakan gerakan yang dilakukan secara bersama dan terintegrasi oleh kader dan petugas kesehatan di setiap wilayah kerja itu dimaksudkan untuk mendapatkan para penderita aktif untuk langsung didata dan diberikan pengobatan intensif.
Dari hasil gerakan tersebut, secara grafik menunjukkan angka partisipasi masyarakat khususnya penderita TB cukup baik, dengan secara mandiri melakukan pemeriksaan dan pengobatan rutin melalui sarana kesehatan di wilayah masing-masing dalam hal ini di 11 puskesmas yang tersebar di 51 kelurahan dan enam kecamatan daerah ini.
Dari catatan data yang ada dalam rentangan 2016-2017, penderita TB yang diobati berjumlah 1.240 orang. Dari jumlah itu, bisa dirinci untuk 2016 berjumlah 861 penderita dan 2017 hingga Juni tercatat 379 penderita yang diperiksa.
Dikatakannya, jika dalam aksi ini, warga masyarakat penderita ditemukan positif TB, maka pengobatannya dapat dilakukan secara cepat selama enam bulan. Pengobatan ini juga akan efektif dan bisa sembuh jika penderita bisa berkomitmen untuk pelaksanaan pengobatan itu.
Jika tidak diobati dampak penularannya pun akan semakin cepat karena penularan TBC sangat mudah melalui batuk, bersin dan ;endir yang dibuang sembarangan,” katanya.
Dibutuhkan kerja sama dan komitmen masyarakat terutama para penderita memberikan diri untuk diobati secara intensif agar bisa segera sembuh, karena pengobatannya sangat ketat dan berlangsung selama enam bulan tanpa terputus satu hari pun.
Jika terputus satu hari saja, maka harus diulang tahapan pengobatannya selama enam bulan lagi secara berturut-turut. Dan dalam masa pengobatan itu, di tahapan tiga bulan pengobatan akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui kerja kuman dalam tubuh.
Dia menjelaskan, tuberkulosis (tuberculosis) atau TBC atau TB (“Tubercle bacillus”) merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya mycobacterium tuberculosis (disingkat “MTb” atau “MTbc”).
Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya.
Penyebarannya melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatikdan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif.
Bila tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50 persen orang yang terinfeksi bisa meninggal.
Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum atau dahak, demam, berkeringat di malam hari dan berat badan turun. “Dahulu TB disebut penyakit “konsumsi” karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami kemerosotan berat badan,” katanya.
Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasil radiologi (biasanya melalui sinar-X dada) serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur mikrobiologis cairan tubuh. Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah.
Pengobatan sulit dilakukan dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama. Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati bila perlu.
Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua orang harus menjalani tes penapisan penyakit tersebut dan mendapatkan vaksinasi basil Calmette Gurin (Ant)