Wulan Rela Ajarkan Seni Tari Tanpa Bayaran

YOGYAKARTA – Di usianya yang terbilang masih muda, Nurul Latifah Wulandari (23), telah tergugah untuk berbuat sesuatu bagi desa kelahirannya. Di sela kesibukannya sebagai guru matematika di sebuah madrasah, ia selalu menyempatkan diri mengajar anak-anak di dusunnya, Kalangan, Triharjo, Sleman, untuk berlatih menari. 

Bagi Wulan, sapaan akrabnya, mengajarkan tari tradisional pada anak-anak di dusunnya merupakan sebuah panggilan yang harus dijalankan dengan sepenuh hati. Ia bahkan rela mengajar tari, meski tak dibayar, serta harus bersusah payah mengajak anak-anak agar mau berlatih menari.

“Kebetulan saya sejak kecil memang suka menari. Simbah dan ibu saya juga seorang penari. Karena itu, saya ingin menularkan kecintaan serta ilmu yang saya miliki pada orang-orang di sekitar saya,” katanya.

Bagi Wulan, menari bukanlah sekedar hobi. Namun, merupakan sebuah jalan untuk mencapai sebuah tingkatan hidup. Tak sekedar melestarikan kebudayaan dan kesenian tradisional warisan leluhur, menari juga merupakan sebuah proses pendidikan yang dapat melatih kemampuan otak seseorang.

“Saat ini, seiring perkembangan teknologi, semakin jarang anak-anak yang mau belajar kesenian tradisional. Termasuk di dusun saya. Seolah belajar tari tradisional itu kuno. Karena itu, saya tergugah untuk mengajak anak-anak agar mau menari,” katanya.

Meski tak banyak, Wulan mengaku memiliki 10 orang murid. Usianya bervariasi mulai dari 4 tahun hingga usia SD dan SMP. Tak hanya tari tradisional, ia juga mengajarkan tari modern pada anak-anak di dusunnya.

“Paling susah itu mengajak mereka mau menari. Apalagi, jika ada yang terpengaruh teman-temannya, sehingga malu dan tidak mau menari. Tapi, saya selalu arahkan dan pahamkan pelan-pelan,” katanya.

Meski kerap mendapat cibiran dari teman seusianya sendiri, Wulan mengaku tak terpengaruh. Ia tetap konsisten mengajar anak-anak di dusunnya untuk belajar menari. Bahkan, beberapa kali ia mampu mengantarkan anak didiknya ikut dalam berbagai ajang tari hingga tingkat Kabupaten.

“Saya berharap, semoga semakin banyak anak-anak yang mau belajar kesenian tradisional, sehingga budaya asli kita tidak hilang begitu saja,” tutupnya.

Lihat juga...