Warga Tamansari Lampung Ciptakan Kawasan Pangan Lestari
LAMPUNG — Kebutuhan akan pemenuhan pangan dan gizi keluarga terus dilakukan dengan pemanfaatan lahan pekarangan oleh masyarakat di pedesaan tak terkecuali di wilayah Desa Tamansari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan dengan menciptakan Kawasan Pangan Lestari (KPL).
Hal ini diungkapkan Sudiono, Kepala Dusun di Desa Tamansari menyebut sebagian masyarakat telah mendapat pelatihan dari Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Selatan dalam pemanfaatan lahan terbatas untuk menanam tanaman pangan.
Prinsip pemanfaatan pekarangan ramah lingkungan dan dirancang untuk pemanfaatan gizi keluarga dengan tanaman pangan sudah dilakukan warga masyarakat sejak lama. Beberapa pagar hidup yang dimiliki warga berupa tanaman singkong, katu, kelor sekaligus pemanfaatan lahan untuk menanam sawi sudah menjadi tradisi masyarakat di wilayah tersebut untuk pemenuhan kebutuhan sehari hari sebagian dijual ke pasar.
“Pemenuhan kebutuhan makanan yang beragam berdasarkan sumberdaya lokal serta pelestarian tanaman pangan akhir akhir ini dilakukan dengan kesadaran akan pentingnya kebutuhan akan makanan yang segar dan tanpa zat kimia sehingga semua sayuran saya tanam secara organik,” terang Sudiono yang merupakan pensiunan penyuluh pertanian di wilayah Kecamatan Ketapang saat ditemui Cendana News, Senin (9/10/2017)

Program yang dijalankan oleh pemerintah desa dan sudah dilaksanakan secara mandiri tersebut didukung dengan pelatihan pemanfaatan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, pemberian polibag, pupuk organik didukung oleh kelompok wanita tani yang ikut menjadi pelopor utama kegiatan pemanfaatan pekarangan.
Pada lahan yang dimilikinya berbagai tanaman pangan diakuinya bisa dipanen dalam beberapa tahap di antaranya harian, mingguan, bulanan dan tahunan dengan sistem integrasi pemanfaatan pekarangan. Integrasi pemanfaatan lahan pekarangan tersebut diakuinya dengan memelihara kelinci dan ikan gurame sehingga kotoran kelinci bisa dijadikan kompos untuk pupuk tanaman sementara ikan gurame di kolam bisa dipanen setahun sekali.
Di tepi kolam sebagai sumber pengairan untuk proses penyiraman berbagai jenis sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, cabai caplak. ia juga menanam kopi coklat atau kakao yang berbuah sepanjang waktu dan bisa dipanen sebulan sekali menunggu buah masak.
“Sebagai kesibukan paska pensiun dan juga pemenuhan gizi keluarga aktifitas menanam sayuran yang saya lakukan juga dilakukan oleh warga lain dengan menjadikan pekarangan sebagai tempat budidaya tanaman pangan,” ungkap Sudiono.
Pemanfaatan pekarangan yang ditanami berbagai sayuran kebutuhan rumah tangga tersebut diakui besar manfaatnya oleh Juriah, warga setempat yang juga memiliki berbagai tanaman sayuran dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada. Selain memanfaatkan lahan pekarangan langsung dirinya juga mengembangkan penanaman sayuran dengan pola penggunaan pot, polybag akibat keterbatasan lahan.
Berkat kemandiriannya serta warga masyarakat lain ia bahkan menyebut jenis sayuran berupa daun katu, kelor, cabai, sawi, pare belut bisa dipenuhi dari tanaman di pekarangan sehingga ia hanya membeli kebutuhan lauk saat penjual sayur keliling menawarkan sayuran.
“Sebagian wanita di wilayah kami jarang membeli sayuran karena sudah menanamnya namun kalau kebutuhan lauk berupa tahu,tempe,ikan laut masih kami beli, ” kata Juriah.
Lahan terbatas karena sebagian terkena proyek Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTET) untuk jaringan transmisi listrik di wilayah tersebut sekaligus membuat warga semakin kreatif. Warga mengggunakan teknik budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, budidaya ikan, ternak.
Selain itu warga juga kelola limbah kotoran menjadi pupuk pada pola ternak kelinci dan menanam sayuran hidroponik. Selain itu pemanfaatan pekarangan bisa mendorong kesejahteraan keluarga dari berkurangnya alokasi pembelian sayuran.
“Lumayan menghemat tanpa harus membeli sayuran dan uang untuk pembelian sayuran bisa saya tabung untuk kebutuhan anak sekolah,” cetus Juriah.
Sebagai anggota kelompok wanita tani ia juga bersyukur dalam pengembangan pemanfaatan pekarangan secara lestari dirinya bersama kelompoknya mendapat dukungan dalam penyediaan berbagai jenis bibit sayuran dan buah dari dinas pertanian dan ketahanan pangan.
Bibit tanaman pertanian yang ditanam tersebut diakuinya berupa terong, mentimun, pare belut, pepaya serta jenis tanaman lain sehingga setiap rumah tangga bisa memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
