Warga Penengahan Pertahankan Tanaman Pagar Hidup Multifungsi

LAMPUNG — Pemilik lahan luas perkebunan di wilayah Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan masih umum memanfaatkan tanaman pagar hidup sebagai pelindung dari berbagai gangguan hewan pemangsa tanaman serta tangan tangan jahil terutama bagi pemilik lahan perkebunan produktif seperti durian, kakao, lada hingga kopi robusta.

Ngadino (40),salah satu pemilik kebun di Desa Rawi Kecamatan Penengahan menyebut sengaja menanam pagar hidup sebagai pelindung kebunnya dari ternak kambing yang kerap diliarkan atau menghindari orang tak bertanggungjawab memasuki perkebunan yang dimilikinya.

Pagar hidup tersebut diakuinya sangat umum digunakan oleh petani pekebun di wilayah tersebut dipadukan dengan pagar kawat berduri. Sebagian besar merupakan tanaman pagar hidup yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Bahkan sebagian memiliki nilai ekonomis untuk dijual. Salah satu pagar hidup yang kerap ditanam oleh warga termasuk Ngadino di antaranya tanaman kenari alas,jati melina,dondong hutan serta pohon pinang hingga pohon kelor serta leresede.

“Selain menghemat penggunaan pagar semi permanen seperti penggunaan tembok penggunaan pagar kayu dan bambu bisa dikurangi bahkan selain berfungsi sebagai tanaman pagar pelindung sebagian besar pagar hidup yang saya tanam memiliki fungsi sebagai penyerap udara kotor di jalan,”ungkap Ngadino kepada Cendana News di Desa Rawi, Rabu (25/10/2017)

Lahan yang berada di kaki Gunung Rajabasa sebagai peninggalan keluarga memiliki sisi historis dengan penggunaan pagar hidup sebab sebelum di wilayah tersebut berdiri perkampungan dari warga pendatang dari wilayah Serang Banten atau dikenal dengan masyarakat Jawa Serang (Jaseng) wilayah tersebut dekat dengan kawasan hutan.

Lokasi berdekatan dengan kawasan hutan diakuinya berimbas beberapa hewan perusak tanaman seperti beruang dan luwak. Bahkan kala itu masih kerap turun rusa dan gajah serta harimau membuat warga membuat pagar alami dari pohon tertentu hingga kini.

Meski kini sebagian hewan tersebut tak lagi muncul dan jika masih ada tetap berada di kawasan hutan warga masih memanfaatkan pagar hidup sebagai upaya menjaga tanaman produktif yang dimiliki.

Ngadino memastikan pagar hidup yang dibuat sebagian besar sangat rapat dan pintu masuk terkadang dibuat berkelok kelok dengan satu pintu berlapis sehingga sulit dimasuki oleh binatang serta pencuri.

Kini dengan zaman yang sudah modern sebagian pagar sudah diganti dengan pagar terbuat dari waring atau jala serta pagar kawat berduri, meski sebagian besar pagar alami masih dipertahankan.

Pemilik lahan dengan mempertahankan pagar hidup yang masih dilestarikan diantaranya Nursalim,warga Desa Padan yang berada sangat dekat dengan Gunung Rajabasa berjarak hanya sekitar tiga kilometer bahkan sengaja membuat pagar hidup dari tanaman leresede, kelor dan jati gamalina serta kenari alas. Penggunaan pagar tersebut diakuinya memiliki multifungsi sebagai penjaga kawasan perkebunan selain itu bisa dipergunakan sebagai pakan ternak kambing.

“Jenis tanaman pagar leresede, jati melina dan kenari alas sangat bagus untuk pakan ternak kambing pada siang hari meski saat sore hari tetap kami carikab rumput,” terang Nursalim.

Selain tanaman pagar tersebut jenis tanaman pinang umum dijadikan pagar selama puluhan tahun silam. Pinang juga kerap dipanen dengan hasil buahnya bisa dijual dengan harga mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Pada saat pohon tidak produktif sebagian dijual sebagai bahan pembuatan bangunan saung dan sarana panjat pinang saat bulan Agustus dengan harga Rp50.000 per batang.

Petani seperti Nursalim mengetahui multifungsi tanaman pagar hidup yang memberi keuntungan bagi pemilik juga menjadi peneduh bagi pengendara di jalan yang menghubungkan antar desa. Banyaknya kendaraan dengan asap dan zat karbonmonoksida dari knalpot kendaraan bahkan bisa diserap oleh tanaman pagar hidup tersebut.

“Sayang sebagian warga sudah mengganti sebagian besar tanaman pagar hidup dengan pagar permanen batu dan bata sehingga sebagian pagar hidup sudah berkurang,” beber Nursalim.

Ngadino memanen buah kakao yang sebagian besar lahannya dilindungi dengan tanaman pagar hidup /Foto: Henk Widi.

Nursalim sengaja mempertahankan tanaman pagar hidup dari berbagai jenis di lahan perkebunan yang ada di dekat hutan. Hal ini untuk menjadi perhatian dari Kementerian Kehutanan dalam pemanfaatan perkebunan.

Hasil maksimal dari perkebunan dengan nilai jual kelapa,kakao yang menguntungkan hingga ratusan ribu perpekan dan hasil dari tanaman pagar saat puncak panen buah pinang membuat masyarakat tidak berniat lagi merambah hutan.

“Pemahaman dan sosialisasi dari Kementerian Kehutanan saat zaman pak Zulkifli Hasan menjadi menteri sangat membantu kami dalam memanfaatkan sektor perkebunan tanpa merusak hutan terutama dari hasil hutan non kayu,” ujar Nursalim.

Sebagai tanaman multifungsi selain bisa melindungi lahan perkebunan dan bisa menjadi sumber pakan ternak, sayuran daun kelor serta obat tradisional. Sebagian tanaman dari jenis pinang memiliki nilai jual yang tinggi dan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat di kaki Gunung Rajabasa.

Nursalim memanfaatkan tanaman pagar hidup jenis kedondong alas,leresede sebagai pakan ternak kambing /Foto: Henk Widi.

 

Lihat juga...