Warga Klaten Gelar Festival Seribu Caping

SOLO – Ribuan warga di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko, Klaten, Solo, Jawa Tengah, menggelar Festival Seribu Caping dengan mengarak keliling kampung. Festival yang turut mengarak hasil bumi dan potensi desa ini tak lain sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan yang telah diterima masyarakat setempat.

Festival Seribu Caping diawali dengan mangarak gunungan hasil bumi dan berbagai kesenian dan budaya menyusuri jalan desa Demakijo. Kirab budaya yang diikuti ribuan masyarakat baik tua maupun muda membawa gunungan hasil bumi menuju balai desa setempat sebagai lokasi puncak acara Festival Seribu Caping.

Ketua Panitia Festival Payung Yusuf Rohmadi. Foto: Harun Alrosid

Selain mengarak gunungan, warga juga menampilkan berbagai potensi yang ada. Seperti kesenian tradisional, hasil pertanian, kerajinan dan UMKM, juga lainnya. Festival Seribu Caping sengaja dipilih sebagai wujud syukur kepaa Tuhan Yang Maha Esa.

“Tema Festival Seribu Caping karena caping berbentuk kerucut dan mengahadap ke atas. Artinya adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas rahmat dan berkat serta limpahan rejeki yang telah diterima warga masyarakat sekitar hingga kini. Dengan kata lain, Caping merupakan simbol kita untuk selalu menengadahkan tangan kita ke atas, karena kita sebagai makhluk ciptaan-Nya,” terang Yusuf Rohmadi selaku Ketua Panitia Festival Payung, Selasa (31/10/2017).

Ratusan ibu petani peserta Festival Seribu Caping turut membawa hasil bumi dan juga alat pengusir burung tradisional. Foto: Harun Alrosid

Kirab Budaya tersebut rutin digelar setiap tahun setelah panen raya sebagai pesta budaya masyarakat di Desa Demakijo. Tujuan digelar festival ini selain ungkapan syukur sekaligus menjadi ajang untuk merekatkan tali silaturahmi masyarakat setempat. “Dalam festival ini seluruh kelompok masyarakat dan petani seluruhnya berkumpul. Festival ini sekaligus sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat dengan berkumpul bersama,” tambahnya.

Festival Seribu Caping ini diakhiri diperebutkannya gunungan hasil bumi setelah sebelumnya didoakan oleh tokoh masyarakat setempat. Seluruh masyarakat bebas berebut hasil bumi dari gunungan tersebut. Warga menyakini setelah mendapatkan hasil bumi yang diperebutkan itu akan mendatangkan rejeki yang melimpah. “Dapat pare dan terong. Akan disayur di rumah untuk berkat. Mudah-mudahan panen ke depan semakin baik,” kata Ngadinem, salah warga Demakijo.

Ratusan ibu petani peserta Festival Seribu Caping turut membawa hasil bumi dan alat pengusir burung tradisional. Foto: Harun Alrosid
Lihat juga...