Peternak Manfaatkan Jerami, Minimalisir Pembakaran Limbah Pertanian

LAMPUNG – Peternak di wilayah Kabupaten Lampung Selatan mulai melakukan proses pengumpulan bahan makanan ternak dari limbah hasil pertanian yang ada di areal persawahan Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Penengahan.

Amri, salah satu peternak di Desa Tamansari Kecamatan Ketapang mengaku mencari jerami sebagai bahan pakan ternak dengan sistem borongan memanfaatkan limbah sisa hasil pertanian berupa jerami yang akan difermentasi dengan bahan pakan lain untuk ternak sapi.

Pemilik usaha penggemukan sapi sebanyak 10 ekor tersebut mengaku proses pencarian jerami secara besar-besaran saat ini dilakukan oleh peternak bahkan termasuk peternak dari kecamatan lain yang mencari pakan dengan sistem upahan mencari stok pakan jerami untuk ternak sapi penggemukan.

Amri memastikan sekali mencari jerami sebanyak satu kendaraan L300 sebanyak 20 ikat jerami yang diangkut dari areal persawahan selanjutnya dikumpulkan di gudang.

Pencarian jerami dilakukan dengan menggunakan kendaraan dengan pembelian sistem borongan. [Foto: Henk Widi]
“Sekarang kita harus lebih cepat mencari pakan karena pencari jerami semakin banyak dibandingkan sebelumnya. Bahkan sebagian petani pemilik jerami sudah mulai menjual jeraminya akibat permintaan yang meningkat,” terang Amri, salah satu peternak sapi di Desa Tamansari Kecamatan Ketapang saat melajukan proses pencarian jerami di areal persawahan milik petani, Selasa (31/10/2017).

Sebanyak 20 ikat jerami limbah hasil pertanian tersebut diakui Amri diborong termasuk upah angkut sebesar Rp50.000 sementara untuk biaya operasional satu kendaraan ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp100.000 meski jerami sebanyak itu masih bisa dimanfaatkan dengan campuran bahan lain untuk kebutuhan pakan tiga bulan ke depan. Selain jerami ia juga kerap membeli jenjet jagung dari petani jagung serta tebon jagung sementara untuk sumber hijauan dirinya menanam rumput gajahan.

Jerami yang sudah dikumpulkan di gudang ungkap Amri selanjutnya akan dicacah menggunakan mesin pencacah khusus selanjutnya hasilnya akan disimpan dalam plastik kedap udara untuk proses fermentasi dicampurkan dengan tetes tebu, jenjet atau tongkol jagung giling, dedak serta campuran nutrisi bagi ternak sapi. Proses penyimpanan yang sempurna diakuinya terbukti efektif bisa memenuhi kebutuhan pakan sapi terutama saat musim paceklik pakan selama kemarau melanda.

Sisi positif pemanfaatan jerami limbah pertanian, diakui Somad, salah satu petani di Desa Tetaan Kecamatan Penengahan dengan semakin banyak peternak memanfaatkan limbah jerami untuk sumber pakan. Somad yang biasanya menerapkan pola bakar limbah hasil pertanian bahkan menyebut diambilnya limbah hasil pertanian justru membantu petani membersihkan lahan.

“Biasanya kami bakar jerami yang ada di sawah karena jika dibiarkan proses pembusukannya lama dan mengganggu proses pengolahan tanah, kini sistem borongan dan dibeli peternak justru membantu kami membersihkan lahan,” terang Somad.

Pada lahan seluas setengah hektar miliknya Somad menyebut cukup strategis berada di pinggir ruas jalan provinsi sehingga proses pengangkutan jerami yang telah diikat lebih mudah diangkut. Sebelumnya saat dibakar limbah hasil pertanian berupa jerami kerap dikeluhkan warga namun dengan adanya sosialisasi pemanfaatan jerami dan larangan membakar jerami untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak pola tersebut sudah dihentikan.

Selain sebagai sumber pakan ternak sapi Somad mengaku sebagian pemilik usaha pembuatan batu bata kerap membeli dengan sistem borongan sebagian satuan dengan harga perikat Rp1.000 sebagai bahan baku untuk pembakaran batu bata. Proses penggunaan jerami sebagai bahan pembakaran batu bata dikombinasikan dengan sekam padi dinilai lebih hemat dibandingkan membeli kayu seharga Rp350.000. Sementara sekam maksimal hanya butuh 100 karung yang saat ini dibeli dengan harga Rp1.000 sehingga lebih menghemat termasuk memanfaatkan limbah pertanian.

Proses pengangkutan jerami dari areal sawah untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...