Warga Desa Karangpatihan Gelar Upacara Nyadran
PONOROGO – Warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo menggelar upacara adat Nyadran. “Nyadran atau kenduri ini dilakukan di tempat keramat atau danyang Mbah Wali Truno dan Eyang Suto Ireng,” jelas Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi, Minggu (15/10/2017).

Upacara adat ini diikuti oleh ratusan warga desa. Uniknya, yang boleh mengikuti ritual hanya laki-laki saja. Sembari memakai pakaian warna hitam, sesepuh desa terlihat memimpin acara. Warga yang ikut membawa nampan berisi persembahan, mulai dari satu ekor kambing serta berbagai panganan tradisional.
“Tepatnya di lereng Gunung Tengoro Dusun Bendo, Desa Karangpatihan,” ujar Eko.
Sesajen yang dibawa pun ada aturannya, mulai dari kepala kambing, minyak wangi, kembang wangi, rokok grindo, kemenyan dan candu serta makanan untuk para warga. Semakin siang, semakin banyak warga dari desa yang juga ikut naik bukit sembari membawa nampan berisi makanan sebagai persembahan.
“Usai dibacakan doa, semua makanan dimakan bersama-sama warga sebagai ungkapan rasa syukur,” tukasnya.
Sesampainya di atas bukit, persembahan diletakkan di salah satu pohon yang diyakini keramat. Beberapa sesepuh juga ikut mengelilingi pohon tersebut sambil mengucapkan doa-doa. Usai berdoa, beberapa sesepuh langsung menyembelih kambing sekaligus memasaknya.
Salah satu sesepuh desa, Pairan menerangkan, yang diperbolehkan melakukan ritual hanya kaum laki-laki, karena penunggu yang ada di tempat keramat ini berjenis kelamin laki-laki yang meminta untuk menjaga kebersihan jiwa dan raga.
“Takutnya, kalau perempuan kan datang bulan, jadi harus yang laki-laki saja,” lanjutnya.
Pairan juga menambahkan, perempuan tidak boleh membawa persembahan ke atas bukit, hanya laki-laki saja yang boleh membawa persembahan. “Nyadran ini bertujuan untuk menjauhkan segala macam musibah, berharap diberi keberkahan rezeki, dan berharap segera turun hujan, karena sekarang sedang musim kemarau panjang,” pungkasnya.