Uwi jadi Pengganti di Saat Beras Mahal

LAMPUNG — Ketergantungan pada beras di Kabupaten Lampung Selatan sebagai bahan makanan pokok, tidak selalu berlaku bagi warga di pedesaan Kecamatan Sragi, Kecamatan Penengahan.

Sumardiono, salah satu warga Desa Baktirasa, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, menyebut sebagian besar warga sengaja menyimpan padi sebagai stok bahan makanan dengan konsumsi beras yang dibatasi melalui pemanfaatan tanaman lain yang bisa digunakan sebagai bahan pangan pengganti, di antaranya uwi dan talas.

Sumardiono mengungkapkan, saat musim kemarau, tanaman uwi yang ditanamnya tidak terlihat, karena berada di bawah permukaan tanah, sementara sulur merambat pada bagian tanaman lain seperti pohon mindi dan pohon mangga.

Saat musim hujan tiba, tunas-tunas baru bermunculan dan umbi di dalam tanah bisa dipanen sebagai bahan makanan, terutama saat musim paceklik pangan. “Bagi masyarakat pedesaan seperti kami yang pernah tinggal di kawasan Gunung Kidul, sudah terbiasa ngrowot atau puasa tidak makan nasi, pilihan tepatnya adalah talas dan uwi yang kami budidayakan turun-temurun sebagai pelengkap sekaligus pengganti nasi”, terang Sumardiono, saat ditemui Cendana News tengah memanen tanaman uwi, Senin (30/10/2017).

Uwi yang sudah direbus kerap disajikan dengan parutan kelapa. [Foto: Henk Widi]
Tanaman yang sudah jarang dibudidayakan dengan sebutan uwi (dioscorea alata) atau dikenal dengan ubi rambat yang merambat, kata Sumardiono, terbilang ikut menyelamatkan keluarganya dari paceklik bahan pangan, khususnya saat musim kemarau panjang pada 1990-an.

Kekeringan yang mengakibatkan gagal panen padi tanpa adanya pasokan beras dari pemerintah seperti akhir-akhir ini melalui beras sejahtera (rastra) diakuinya membuat warga memilih uwi sebagai bahan pangan dan tetap dibudidayakan di pekarangan hingga sekarang.

Selain uwi, bahan makanan yang masih ditanam Sumardiono di antaranya gadung (dioscorea hispida), meski tanaman gadung membutuhkan pengolahan lebih khusus dengan cara direndam dalam abu sekam untuk menghilangkan lendir penyebab gatal serta kandungan racun.

Bagi warga yang tidak bisa mengolahnya, memilih hanya menanam jenis uwi dan talas (colocasia esculenta) di pekarangan. Sayangnya, ujar Sumardiono, upaya pemerintah untuk melakukan gerakan ketahanan pangan dengan mengajak warga menanam tanaman yang tidak sulit proses pemeliharaannya tersebut, tidak digalakkan dan lebih memilih tanaman lain.

Selain memiliki kandungan karbohidrat yang bisa dipergunakan sebagai pendukung nasi, tanaman uwi dan talas juga bisa ditanam tanpa mengganggu tanaman lain.

Yati yang memanfaatkan tanaman uwi dan talas sebagai bahan pangan, mengaku sengaja memanfaatkan uwi untuk direbus dan disajikan sebagai uwi rebus dengan campuran parutan kelapa, sehingga menjadi kuliner yang bisa dinikmati keluarganya saat bersantai.

Beberapa warga lain bahkan kerap meminta uwi yang masih utuh untuk dibawa pulang dengan cara direbus dan bisa disantap bersama keluarga sembari meminum teh hangat.

Yati juga menyebut, tanaman jenis uwi rambat tersebut dalam salah satu rumpun kerap menghasilkan sekitar 10 hingga 20 kilogram, bahkan keunggulan uwi masih bisa dipanen sebagian tanpa mengganggu umbi pokok dan masih bisa berkembang.

Budidaya uwi bisa dikembangkan dengan memotong bagian umbi uwi yang siap dipergunakan sebagai bahan bibit untuk dipencarkan. “Saya sengaja mengolah uwi untuk direbus. Kebetulan pada bagian lahan yang ditumbuhi umbi akan dibangun pondasi sekaligus tanaman uwi akan dipindah”, terang Yati.

Selain uwi, Yati juga kerap mengolah gadung sebagai bahan pembuatan keripik, termasuk pemanfaatan talas untuk dipergunakan sebagai bahan pembuatan bala-bala atau sekedar direbus sebagai bahan makanan.

Tanaman uwi, gadung dan talas diakui Yati menjadi tanaman yang bisa dipergunakan sebagai stok pangan saat musim kemarau, bahkan bisa dipergunakan sebagai bahan penghemat makanan ketika harga beras saat ini mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Yati menyebut lagi, dengan menanam uwi, gadung dan talas yang ditanam meski sudah jarang dikonsumsi oleh masyarakat ikut membantunya dalam menghemat pengeluaran dengan konsumsi keluarganya.

Selain menanam di areal pekarangan, tanaman umbi tersebut juga sebagian ditanam di lahan sekitar sawah dan perkebunan yang tidak memerlukan perawatan khusus seperti tanaman lain dan bisa dipanen tahunan.

Lihat juga...