Tukang Ojek dari Bakauheni ini Wakafkan Tanah untuk TPA

LAMPUNG — Kepedulian akan pendidikan anak anak usia dini dalam bidang agama tidak selalu berasal dari warga yang memiliki dasar sekolah tinggi atau tingkat ekonomi yang mencukupi termasuk dalam kepemilikan aset tanah.

Kepedulian Tarjono (54) warga Dusun Sumbermakmur Desa Hatta Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek serta berbagai pekerjaan serabutan lain termasuk bertani patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, meski memiliki rumah sederhana dan tergolong hidup pas pasan namun dirinya justru bisa membangun sebuah Tempat Pendidikan Alquran (TPA).

Jono, demikian ia dikenal sebagai warga biasa yang pernah hidup di pesantren di Jawa Barat mengaku di sela sela kesibukannya sebagai penyedia jasa ojek yang setiap hari mencari penumpang untuk dihantarkan ke tujuan, sesekali berkebun merawat tanaman coklat miliknya kerap melihat anak anak usia sekolah tidak memiliki kegiatan saat sore hari.

Setelah berbicara dengan sang isteri serta mendapat dukungan dari ketiga anaknya, dengan niat untuk memberi ruang atau tempat belajar bagi anak anak di pedesaan yang ditinggalinya ia mulai menyiapkan lahan di dekat rumah yang ditinggalinya dan mulai mendirikan TPA.

“Awalnya saya kumpulkan batu pondasi yang saya beli lalu bahan bahan lain juga saya kumpulkan dan proses pengerjaan bangunan TPA dikerjakan secara bertahap selama hampir satu tahun hingga bisa dipergunakan,” ujar Tarjono kepada Cendana News belum lama ini.

Pembangunan lokal TPA yang menggunakan sistem saung atau aula diakui Tarjono bahkan sengaja memanfaatkan lahan tanah yang berdekatan dengan kolam ikan gurame dan ikan nila sesuai dengan hobinya dalam memelihara ikan.

Selama proses pembangunan anak anak usia TK hingga SD yang sebagian belajar Alquran dari tingkat dasar tersebut melakukan aktivitas belajar di rumah yang ditinggalinya menunggu bangunan TPA selesai yang dikerjakannya sejak 2012 dan menjadi cita citanya sejak umur 20 tahun untuk memiliki sebuah TPA.

Setelah bangunan selesai Tarjono yang membagi waktu sejak pagi bekerja sebagai tukang ojek dan pekerjaan lain mengajar mengaji pada malam hari. Sementara sang anak bernama Nuriah (30) mengajar pada sore hari atau memanfaatkan waktu saat anak anak sudah tidak melakukan aktifitas belajar di sekolah.

Setelah resmi menggunakan bangunan baru pada 2013 TPA yang diberi nama Baitus Salafiyah tersebut mulai menerima banyak murid dari desa tersebut hingga saat ini berjumlah sekitar 70 siswa aktif.

“Siswa yang semakin bertambah banyak membuat kami membagi kelas menjadi sebanyak tiga sesi sejak siang hingga malam dengan keterbatasan pengajar yang ada,” terang Tarjono.

TPA dengan ukuran bangunan terbuat dari konstruksi semen berlantai keramik dipadukan dengan pagar bambu,kuda kuda kayu dan atap asbes berukuran 9 x 6 meter dari luas lahan yang dimilikinya 2500 meter bahkan kini dipakai untuk aktivitas belajar mengaji kelas 1, 2, dan kelas 3 lengkap dengan papan white board dan bangku untuk belajar. Pembagian waktu setiap kelas di antaranya kelas 1 dimulai sejak15.00, kelas 2 sejak pukul 16.00 sementara kelas 3 setelah maghrib.

Nuriah,sang anak yang menjadi salah satu pengajar mengaku siswa berdasarkan tingkatannya memiliki jadwal khusus diantaranya pada hari Senin bacaan Shalawat, Selasa Alquran, Rabu Alquran, Kamis Baca Yasin, tahlil kirim doa arwah Jumat bacaan Tajwid,.

Sementara untuk akhri pekan, pada Sabtu Alquran dan Minggu Albar Janji atau shalawat sejarah nabi nabi. Meski awalnya jumlah siswa hanya belasan pada saat proses belajar mengaji dilakukan di rumah kini jumlah kelas 1 dan 2 sekitar 40 siswa dan kelas 3 sebanyak 30 siswa.

Nuriah mengaku dengan keterbatasan yang ada seperti, rak-rak buku terbatas serta belajar dengan cara lesehan menggunakan tikar dan meja kecil para siswa di TPA Baitus Salafiyah sangat antusias belajar dan didukung oleh orangtua agar anak anaknya bisa belajar Alquran dan ilmu agama.

“Sebagian siswa awalnya diantar orangtua untuk dititipkan belajar mengaji dan orangtua mendukung karena ada aktivitas positif setiap sore dibanding bermain di jalan”terang Nuriah.

Sebagai pengajar, lulusan salah satu pesantren di Jawa Barat tersebut mengaku selain mengajar ilmu-ilmu agama semenjak awal TPA Baitus Salafiah ada para siswa juga diajari untuk melakukan pola hidup hemat sehingga para siswa juga diajari menabung setiap berangkat mengaji.

Buku tabungan khusus yang diberikan kepada siswa diantaranya bahkan sudah tiga tahun terakhir membantu siswa dengan proses pengambilan dilakukan setiap akhir tahun. Bahkan ada  di antara siswa yang berhasil menabung hingga Rp3 juta dan bisa dipergunakan membeli peralatan sekolah pada tahun ajaran baru.

Kini dibantu satu pengajar lain,Nuriah dan sang ayah Tarjono menyebut sebagai guru ngaji di TPA Baitus Salafiah dirinya rela mendapatkan honor sebesar Rp100.000 per bulan. Ia mengaku tujuan terpenting dirinya ingin melatih anak anak di desa tersebut bisa mempelajari dasar dasar membaca Alquran,hingga penanaman akhlak yang baik sehingga soal honor dirinya menyebut tidak terlalu mempersoalkan.

Tarjono,meski sebagai tukang ojek menyebut ia juga tak menyangka bisa membangun sebuah TPA yang diakuinya bahkan saat ini bernilai sekitar Rp100juta meski dirinya memiliki dua anak yang sudah menikah hingga kini belum memiliki rumah. Selain itu puteri ketiganya yang masih menuntut ilmu di sebuah pesantren pun berniat kembali untuk mengajar anak anak di desanya dalam ilmu agama.

“Selain menggunakan uang pribadi beruntung ada pihak yang ikut peduli pendidikan akhlak, agama sehingga menyumbang material semen dan pasir hingga terbangun TPA Baitus Salafiah,” beber Tarjono.

Tarjono yang menjadi pengajar kelas malam bagi para siswa bahkan masih bisa mempergunakan waktu sejak pagi hingga siang sebagai tukang ojek dengan penghasilan rata rata per hari Rp50.000 sebagian waktu dipergunakan untuk berkebun coklat.

Semangat ingin mencerdaskan anakbangsa yang telah mendapat pendidikan di sekolah dan mendapat tambahan pelajaran agama Islam di TPA diakuinya mengesampingkan keinginannya untuk mementingkan keluarga bahkan mewakafkan tanah dan bangunan untuk kepentingan pendidikan agama.

Tarjono,mempelihatkan papan tulis yang sudah rusak untuk aktivitas belajar di TPA Baitus Salafiah /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...