Tanpa Guru Olahrga, SDN Kelawi Bukan Tanpa Prestasi

LAMPUNG — Kebutuhan akan tenaga pendidik menjadi vital bagi sekolah dasar di pedalaman Kecamatan Bakauheni tepatnya di Dusun Kayu Tabu Desa Kelawi. Di kawasan iniberdiri sebuah sekolah yakni SDN 2 Kelawi yang berdiri pada lahan seluas 4.000 meter persegi.

Menurut Kepala Sekolah SDN 2 Kelawi Kusmalia tidak seperti sekolah lain dengan jumlah siswa yang banyak sekaligus guru yang mencukupi, sekolah yang dipimpinnya justru kekurangan guru.

Sekolah ini memiliki siswa sebanyak 73 orang. Mereka berasal dari Dusun Pematang Macan, Dusun Kayu Tabu di antaranya berjarak lebih dari satu kilometer. Terdapat sebanyak 4 orang guru setiap hari mengabdi di sekolah tersebut sebagai guru kelas, di antaranya harus merangkap sebagai guru di kelas lain.

Kekurangan kebutuhan guru tersebut termasuk guru olahraga yang cukup penting menunjang bidang studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Pelajaran wajib bagi para siswa hingga puluhan tahun belum terealisasi akibat banyak guru tidak bersedia ditempatkan di sekolah yang terpencil tersebut.

“Sejak awal sekolah ini didirikan memang secara khusus tidak ada guru olahraga sehingga guru yang ada diberdayakan juga sebagai guru olahraga dan saya sebagai kepala sekolah ikut mengajar siswa,” terang Kusmalia selaku Kepala Sekolah SDN 2 Kelawi saat ditemui Cendana News di sekolah tersebut, Jumat (13/10/2017).

Meski tanpa adanya guru olahraga Kusmalia menyebut bukan berarti sekolah tersebut tidak melakukan aktivitas atau kegiatan olahraga layaknya sekolah lain. Dengan berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan bisa melakukan pensistribusian atau pemerataan tenaga pendidik khususnya guru olahraga.

Beberapa fasilitas olahraga dengan keterbatasan yang dimiliki di antaranya lapangan bola voli bahkan tengah diperbaiki setelah sebelumnya lantai semen rusak dan diganti dengan paving blok. Sementara meja untuk olahraga tenis meja diletakkan di kelas 6 yang bisa digunakan saat jam pelajaran olaharaga tanpa harus keluar ruangan.

Namun aktivitas fisik nyaris sulit dilakukan di SDN 2 Kelawi. Menurut Kusmalia lokasi sekolah berada pada lokasi miring dengan kemiringan sekitar 35 derajat sebagian tanah berbatu. Kondisi tersebut tak mengurangi keinginan siswa untuk berprestasi dalam bidang olaharaga ditambah dukungan guru kelas 5 yang merangkap sebagai guru olahraga bernama Sri Hartini.

Sri Hartini yang sejatinya tidak memiliki dasar pendidikan olahraga menyebut tetap memberikan pelajaran olaharag secara teori dari buku pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan sekaligus praktik.

Kewajiban sekolah dalam mengikuti kegiatan tahunan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) bahkan tetap dijalankan SDN 2 Kelawi dengan melatih anak didiknya untuk mengikuti beberapa cabang olahraga.

“Beberapa cabang olahraga tetap kita ikuti diantaranya tenis meja,bulutangkis,karate,bola voli dan cabang olahraga lain sebagian mendatangkan pelatih dari luar sekolah,” terang Sri Hartini.

Kekurangan guru olahraga di sekolah tersebut selama bertahun tahun bahkan tidak lantas sekolah minim dalam keikutsertaan ajang olahraga dari tingkat gugus,k ecamatan hingga kabupaten.

Beberapa siswa bahkan telah berhasil menyabet prestasi dalam cabang olaharaga atletik, karate, tenis meja dengan juara 1 hingga harapan di antaranya siswa sudah lulus dan beberapa di antaranya masih menjadi siswa SDN 2 Kelawi.

Sri Hartini memastikan keterbatasan guru khususnya dalam bidang studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan justru menjadi motivasi pihak sekolah untuk menorehkan prestasi diantaranya ditunjukan oleh beberapa siswa yang berhasil menyabet piala dalam ajang 02SN.

Siswa bernama Ani Rahma (13) kelas 6 berhasil meraih juara 1 Atletik Putri, Rendi Kurniawan (9) Kelas 4 berhasil menyabet juara 2 Karate Putra, Selfi Amelia (10) kelas 5 berhasil meraih juara 1 Atletik Putri serta beberapa siswa lain yang menorehkan prestasi dalam olahraga bulu tangkis.

“Beberapa siswa berprestasi dalam bidang olahraga justru sudah lulus namun beberapa diantaranya masih duduk di bangku sekolah SDN 2 Kelawi,”terang Sri Hartini.

Beberapa siswa yang ikut olahraga karate bahkan dengan tekun mengikuti les atau belajar di perguruan Bandung Karate Club di Kelawi dan ikut menorehkan prestasi bagi sekolah. Semangat para siswa yang berlatih mandiri sebelum bertanding serta dukungan dari pelatih luar yang juga warga Desa Kelawi ikut menyumbang prestasi sekolah yang berdiri sejak 1986 tersebut meski tidak memiliki guru olahraga.

Puluhan tahun tidak miliki fasilitas olahraga memadai lapangan bola voli dibangun dengan sistem paving /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...