Siswa SDN 2 Klaten Belajar dalam Ruangan Disekat Kain

LAMPUNG — Beberapa siswa SDN 2 Klaten terlihat belajar di satu ruangan yang sengaja dipergunakan untuk kelas 3 dan kelas 4. Ruangan itu disekat dengan kain, sehingga posisi papan tulis saling bertolak belakang, saat proses belajar mengajar kedua kelas masih bisa menerawang dari balik bentangan kain tersebut.

Menurut Kepala Sekolah SDN 2 Klaten, Kuswati, S. Pd proses penggunaan ruang kelas yang terpaksa disekat dengan kain hampir selama satu pekan semenjak sekolah tersebut menjalankan program rehab ruang kelas. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bagi sebanyak 51 siswa tersebut sementara harus mempergunakan ruang guru yang diubah menjadi kelas.

Sekolah yang sudah berdiri sejak 1975 tersebut kondisinya terbilang kurang memadai dengan luas lahan sekitar 2000 meter persegi sekolah terpaksa harus melakukan tukar tempat memperlancar aktivitas belajar mengajar. Kuswati menyebut ruang guru yang saat ini ditempati oleh guru terpaksa digunakan sebagai ruang belajar 1. Sementara ruang kelas dipergunakan sebagai ruang guru.

“Berbagai pembenahan sudah kita lakukan di antaranya dengan merehab bangunan lokal lama pada 2015 dan bisa kita manfaatkan sebagai ruang kelas dan ruang guru dengan konstruksi bangunan dari baja ringan, meski sebetulnya kita masih kekurangan ruang,” terang Kuswati saat ditemui Cendana News di sekolah tersebut, Kamis (26/10/2017)

Usulan penambahan lokal pada sekolah yang puluhan tahun berdiri tersebut diakuinya sudah kerap dilakukan bahkan semenjak sekolah tersebut sudah hampir empat kali mengalami pergantian kepala sekolah. Beberapa kekurangan di antaranya ruang perpustakaan yang saat ini terpaksa menyatu dengan kelas 1 serta kekurangan ruang musala untuk aktivitas kegiatan pelajaran agama Islam.

Meski demikian Kuswati menyebut jumlah tenaga pendidik di SDN 2 Klaten sudah mencukupi dengan sebanyak 6 guru Pegawai Negeri Sipil dan 2 guru tenaga honorer termasuk kepala sekolah dan guru mata pelajaran pendidikan jasmani kesehatan serta guru Pendidikan Agama Islam.

Lahan yang luas diakui Kuswati masih bisa dipergunakan untuk aktivitas olahraga serta upacara bendera sementara kegiatan olahraga dengan lapangan besar kerap dilakukan di lapangan Desa Klaten yang lebih luas.

Harapan sekolah untuk memperoleh ruang kelas yang memadai terealisasi pada 2016 penerintah pusat melalui Kemendikbud meluncurkan Program Tata Kelola Sekolah Dasar (Takola SD) yang merupakan program Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

SDN 2 Klaten mendapat perehaban kelas 4 menurut Kuswati melalui program Takola SD yang merupakan salah satu bagian dari reformasi birokrasi oleh Kemendikbud dalam hal pengelolaan penyaluran bantuan ke SD yang ada di daerah dari dana yang bersumber dari APBN.

“Sebelum kami menerima bantuan dalam perehaban ruang kelas baru sudah ada tim yang survei ke sekolah dan petugas verifikator mengecek kondisi riil sekolah kami yang rusak pada bagian plafon dan dinding retak,” ujar Kuswati.

Proses perehaban sekolah yang dikerjakan dengan waktu selama 105 hari tersebut diprediksi bisa dipergunakan pada akhir tahun ini, sehingga siswa bisa belajar dengan nyaman di ruang kelas yang baru tanpa harus was-was plafon jatuh atau dinding yang retak.

Meski program Takola SD melalui perehaban sekolah tersebut hanya untuk satu ruangan Kusmati dan sejumlah guru mengaku bersyukur meski masih tetap berharap rehab dilakukan menyeluruh pada dua kelas lain diantaranya kelas 5 dan kelas 6 yang sebagian dinding bangunan sudah keropos.

Kuswati,S.Pd Kepala Sekolah SDN 2 Klaten Kecamatan Penengahan di depan kelas yang direhab /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...