BALI – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, telah melakukan pengukuran kadar belerang (SO2) gunung tertinggi di Pulau Bali ini dengan menggunakan alat spektrometer.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan petugas kami, dari arah utara dan selatan Gunung Agung diketahui kandungan gas belerang masih nol,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Gede Suantika, di Pos Pantau Gunung Agung, Karangasem, Minggu (8/10/2017).
Pengukuran kadar belerang Gunung Agung ini telah diukur sejak tiga hari lalu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan kandungan sulfur dengan radius 12 kilometer dari puncak Gunung Agung. Ia menerangkan, spektrometer ini dapat berfungsi bila sebaran gas yang keluar dari gunung berapi terbawa angin.
“Saya contohkan bila gas yang keluar dari Gunung Agung ini mengarah ke barat, maka pengecekan harus dilakukan dari arah barat Gunung Agung, kemudian alat ini diarahkan vertikal (ke atas) mengarah utara dan selatan,” ujarnya.
Setelah itu, gas yang melintas di atas spektrometer ini akan memberikan reaksi bahwa berapa konsentrasi kandungan gas belerang yang dikeluarkan gunung tersebut.
Gede Suantika menuturkan, mengacu pada sejarah letusan Gunung Agung pada 1963, sebelum terjadinya erupsi gunung tertinggi di Pulau Bali ini, sempat terjadi tiga kali gempa (tremor) berdasarkan pengakuan warga yang berada dekat gunung setempat.
“Dahulu leluhur vulkanologi kami mencari data pembanding ini berdasarkan dari wawancara dengan warga setempat setelah terjadinya letusan Gunung Agung,” ujarnya.
Menurut Suantika, para peneliti vulkanologi ini baru melakukan pengecekan satu minggu setelah terjadinya letusan Gunung Agung. “Jadi, gempa (tremor) yang terjadi saat ini juga belum terekam dan hingga hari ke-16 ini, aktivitas vulkanik Gunung Agung tercatat di atas 500 kali per hari,” katanya.
Sementara itu, Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani, menambahkan, telah menambah dua alat tilmeter (alat baru untuk mendeteksi deformasi) untuk mengkonfirmasi pengembungan Gunung Agung.
“Alat ini kembali difungsikan untuk mengantisipasi hal terburuk akibat penggembungan perut Gunung Agung,” ujarnya.
Ia menerangkan, pemasangan alat tiltmeter ini dipasang pada sisi utara dan selatan di radius 9 hingga 12 kilometer dari puncak Gunung Agung. (Ant)