SDN Beji 4 Depok Berbenah Menuju Sekolah Adiwiyata Nasional
DEPOK – Setelah dua tahun berturut-turut mendapat piala sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Barat, SDN Beji 4 Kota Depok terus berbenah dengan kondisi sekolahnya di mana pada 2018 depan akan menuju ke jenjang nasional. Lingkungan sekolah nan hijau dan bersih menjadi perhatian serius pihak sekolah.
“Kami sudah dua tahun berturut-turut mendapat piala Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Barat, di 2018 nanti akan menuju ke jenjang nasional,” kata Kepala SDN Beji 4, Ika Mulyati, M.Pd kepada Cendana News, Kamis (26/10/2017).
Ika menambahkan, piala Adiyata diterima pada Hari Lingkungkan Hidup Nasional di Kota Bandung dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, kemudian di Kota Depok diserahkan lagi oleh Wali Kota Depok.
Dengan raihan predikat sebagai Sekolah Adiwiyata tersebut, Ika mengaku di satu sisi senang, itu berarti Adiwiyata diakui, tetapi di sisi lain juga mengemban tanggung jawab besar untuk mempertahankan.
“Mungkin untuk mempertahankan lebih berat daripada merintisnya. Karena harus terlihat betul-betul bahwa sekolah ini (SDN Beji 4) adalah sebagai Sekolah Adiwiyata,” imbuhnya.

Sejalan dengan semangat Pemkot Depok yang terus berupaya agar sekolah berpredikat Adiwiyata di Depok semakin banyak dan bisa berkontribusi nyata terhadap lingkungan bagi upaya penyelamatan lingkungan hidup di Kota Depok, SDN Beji 4 terus melakukan berbagai inovasi dalam mengimplementasikan visi, misi, dan tujuan, terutama terkait soal lingkungan.
SDN Beji 4 dengan visi terwujudnya generasi muda yang sehat, cerdas, kompetitif, dan peduli lingkungan berlandaskan imtaq dan iptek serta misi antara lain menciptakan lingkungan sekolah yang asri dan nyaman, mewujudkan sekolah berbudaya dan peduli lingkungan hidup. Serta melaksanakan 7-K, yakni keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, dan kesehatan untuk mewujudkan Sekolah Adiwiyata.
Pihak sekolah dimotori oleh Kepala Sekolah Ika Mulyati kemudian melakukan berbagai upaya untuk menerapkan budaya lingkungan sehat, dalam lingkup penghijauan maupun pembentukan karakter siswa dalam menjaga lingkungan sebagai penerapan hidup bersih dan sehat.
Ika Mulyati mengatakan, berkaitan dengan lingkungan maka yang dilakukan adalah penghijauan. “Untuk menanamkan budaya lingkungan sehat, di antaranya kami menanam berbagai jenis pohon, mulai pohon kayu sampai tanaman obat, bahkan sayur-sayuran,” imbuh Ika seraya menyebutkan tanaman pepaya dan pare di sekolah saat ini sedang berbuah bagus, dan bisa dilihat juga tanaman kangkung yang juga digalakkan di sekolahnya.
Untuk sebaran tanaman yang cukup untuk menghasilkan oksigen, lanjut Ika, utamanya tanaman kayu yang hijau dan rindang, seperti pucuk merah sepanjang di depan sekolah itu sengaja ditanam agak rapat supaya lingkungan sekolah lebih sejuk.
“Jadi, untuk menarik udara juga ada pohon salam di luar, tapi itu banyak dipetik warga untuk obat. Jadi daunnya sedikit. Kemudian pohon sirsak juga kami tanam,” jelas Ika.
Terkait adanya warga yang memanfaatkan daun salam, Ika berucap hamdalah. “Ya Alhamdulillah. Tapi warga juga harus mengerti, setidaknya selain memanfaatkan juga merawatnya,” harap Ika.

Tapi, lanjut Ika, kebanyakan orang lewat hanya memetik tapi tidak memperhatikan daun-daun salam sudah botak apa belum. “Jadi hayo, langsung sembarang petik. Tapi mudah-mudahan ke depan bisa tumbuh dengan baik,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam upaya pembentukan karakter siswa dalam menjaga lingkungan, Ika mengatakan, tidak hanya sekedar ada banyak pohon dan tanaman semata, tetapi sebagai media pembelajaran untuk siswa dalam pemberian materi tentang tanaman.
“Misalnya tanaman yang berbuah atau setidaknya memiliki banyak manfaat. Sehingga bisa menjadi wadah pembelajaran untuk siswa,” imbuhnya. Dengan begitu, siswa mengetahui tentang manfaat tanaman untuk kehidupan sehari-hari.
“Itu semua agar penghijauan yang dilakukan di sekolah, tidak hanya sekedar menjadikan lingkungan yang asri, tetapi juga menjadi wadah pengetahuan untuk siswa,” ujar Ika.
Ika menambahkan, sebagai media pembelajaran, maka tanaman yang ditanam pun dipilah-pilih. Selain itu, siswa juga dilibatkan untuk bertanggung jawab dan mencintai tanaman dengan cara dari rumah para siswa membawa botol plastik bekas diisi air lalu menyiramkan bunga dan tanaman yang ada di lingkungan sekolah.
Menariknya lagi, ada beberapa aneka jenis model pot berasal dari bekas ember cat yang juga merupakan buah hasil karya siswa. Ember itu dibentuk menjadi pot-pot yang unik dan disentuh dengan permainan warna cat yang menarik.
Untuk membentuk karakter siswa dalam hal menjaga kondisi lingkungan, Ika mengatakan, pihak sekolah juga membiasakan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenis sampah.
“Selain penghijauan, di sisi lain, yang terutama adalah propaganda untuk buang sampah pada tempatnya sesuai jenis sampahnya kepada para siswa,” kata Ika.
Jadi, lanjut Ika, siswa memilah sampah langsung ketika akan membuangnya. Misal, tangan kanan untuk sampah organik, nanti buang ke tempat sampah yang bermerek organik. Kemudian tangan kiri untuk sampah yang anorganik, nanti buang ke tempat sampah yang anorganik.
“Begitu, ini supaya anak-anak langsung ingat dan tahu, dan langsung bisa melaksanakan,” tuturnya.
Sementara itu terkait sarana prasarana penunjang hidup bersih seperti tempat sampah yang terpilah, saluran air yang bagus, sarana cuci tangan, dan toilet dari pantauan Cendana News telah ada. Namun, Ika mengaku, untuk sarana toilet belum mencukupi jika mengacu perbandingan antara jumlah anak dengan toilet yang tersedia.
“Selain itu, masih nyampur antara toilet siswa laki dan perempuan. Memang belum sepenuhnya terpenuhi tapi kami usahakan selalu bersih,” ujar Ika seraya mengatakan SDN Beji 4 juga belum memiliki bank sampah, karena keterbatasan ruang bangunan.
Ika rupanya juga memiliki keinginan besar sekolah yang dipimpinnya itu, bisa lebih mengembangkan budaya lingkungan dengan membuat kolam ikan, kebun sayur, dan lain-lain ke depan melalui adanya penambahan lahan di dekat lingkungan sekolah SDN Beji 4.
“Di belakang, samping TPS (Tempat Pembuangan Sampah) kan ada sarana fasum Kompleks Perumahan Beji Utara, kalau bisa ada pihak terkait yang bisa mengurus supaya lokasi tersebut untuk dihibahkan ke SDN Beji 4, misalnya, untuk mengembangkan budaya lingkungannya,” harap Ika.
Sekarang ini, lanjut Ika, sedang ditanami pisang oleh penjaga. Jika misalnya dibolehkan, di tingkat pengelola itu dengan sah atau syarat yang ditentukan oleh Badan Pertanahan, kita bisa membuat prasarana seperti kolam ikan, kebun sayur, dan sebagainya ke depan.
Ika berharap SDN Beji 4 yang berlokasi di Jalan Pakis, No. 5, Kecamatan Beji ke depan bisa jauh lebih baik lagi, dan kalau bisa sekolah ini jadi percontohan di Kota Depok. Karena menurut Ika, sudah jarang ditemui sekolah yang rindang dan halamannya asri.
“Mudah-mudahan ada pihak yang peduli dengan pendidikan untuk memperhatikan kebutuhan dari SDN Beji 4 ini. Baik dari pihak pemerintah maupun swasta. Karena murid kami tidak terlalu banyak,” harapnya.
