Ratusan Siswa di Lampung Meriahkan Hari Sumpah Pemuda

LAMPUNG — Beberapa sekolah di kecamatan Penengahan dari tingkat TK dan SD, menggelar karnaval atau pawai hari Sumpah Pemuda dengan mengenakan pakaian adat dari beberapa provinsi di Indonesia.

Asteria, Kepala Sekolah SDN 2 Pasuruan Kecamatan Penengahan, menyebut pawai atau karnaval Hari Sumpah Pemuda ke-89 menjadi karnaval ke-sekian kalinya oleh sekolah tersebut, dengan tujuan mengingatkan kembali sejarah,
makna Sumpah Pemuda bagi generasi muda.

Siswa SMP Muhamadiyah Penengahan belajar di kelas dengan baju adat dan kebaya.  [Foto: Henk Widi]
Sebagai agenda rutin tahunan, Asteria menyebut sepekan sebelumnya sudah diumumkan kepada orang tua dan siswa untuk mempersiapkan pakaian adat, kostum yang akan dikenakan selama pawai. Sebelum pawai digelar, ratusan siswa terlebih dahulu melakukan upacara bendera dan mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda.

“Kegiatan rutin karnaval Sumpah Pemuda sebagai penyemangat bagi seluruh siswa, sekolah juga menyediakan hadiah alat tulis bagi setiap kelas, siswa yang mengenakan kostum unik dan kompak saat karnaval berlangsung,” terang Asteria, Sabtu (28/10/2017).

Selain diisi dengan karnaval oleh ratusan siswa SDN 2 Pasuruan, pada peringatan hari Sumpah Pemuda tersebut upaya sekolah untuk mengenang sejarah dan makna Sumpah Pemuda juga dilakukan oleh SDN 1 Pasuruan dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, lagu daerah, menyebutkan ikrar Sumpah Pemuda dan membatik.

Irlina, guru kelas 6 SDN 1 Pasuruan mengungkapkan, sebagian siswa sudah mulai lupa ikrar Sumpah Pemuda, sehingga perlu kembali diingatkan agar memiliki jiwa nasionalisme tanpa memandang perbedaan. Selain diisi dengan kegiatan belajar sejarah mengenai Sumpah Pemuda, siswa kelas 4, 5 dan 6 juga sudah mempersiapkan peralatan membatik tulis dan batik celup yang dilakukan untuk mengenal teknik membatik sebagai kekayaan budaya Indonesia yang tak dimiliki bangsa lain.

Siswa SDN 1 Pasuruan isi Sumpah Pemuda dengan kegiatan membatik. [Foto: Henk Widi]
“Para siswa sudah membawa bahan dasar kain atau baju putih polos sebagai media untuk dijadikan batik dengan beragam warna, melalui batik celup dan batik lukis secara sederhana”, terang Irlina.

Pembuatan batik tersebut diakui Irlina sekaligus menanamkan bagi para siswa untuk mencintai karya bangsa Indonesia, salah satunya batik. Selain itu, aktivitas membatik juga menumbuhkan kreativitas para siswa dalam membuat pola-pola batik yang proses pembuatannya cukup rumit.

Peringatan Sumpah Pemuda juga disi dengan aktivitas belajar mengajar seperti biasa oleh pelajar SMP Muhamadiyah Penengahan, namun dengan mengenakan baju adat. Ratusan siswa dari kelas 7, 8, 9 mengenakan kebaya bagi siswa putri dan sebagian siswa putra mengenakan baju adat daerah di antaranya Padang, Lampung dan Jawa.

“Kita sudah lakukan secara rutin setiap tahun belajar mengajar menggunakan baju adat atau batik sebagai pakaian nasional, serta diisi dengan upacara dan berbagai perlombaan mewarnai, baca puisi serta beragam perlombaan dengan hadiah alat tulis”, ungkap Puji, selaku guru kelas 8 dan sekaligus guru bidang studi Bahasa Inggris.

Kepada para siswa, Puji juga kembali mengingatkan sejarah Sumpah Pemuda dalam menyatukan keberagaman di Nusantara dan kembali mengikrarkan Sumpah Pemuda, meski sebagian siswa ada yang tidak hafal ikrar Sumpah Pemuda. Ikrar Sumpah Pemuda pun dibacakan secara serentak oleh para siswa SMP Muhamadiyah Penengahan.

Selain SMP Muhamadiyah, SMPN 1 Penengahan juga mengisi peringatan Sumpah Pemuda dengan menggelar berbagai perlombaan, termasuk SMAN 1
Penengahan yang mengadakan lomba foto terbaik baju adat secara berpasangan putra dan putri, dengan terlebih dahulu melakukan upacara.

Lihat juga...