Posdaya Garuda Ingin Kembali Bangkit jadi Juara
MALANG – Pengembangan budaya dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dirasa sangat cocok untuk terus dilakukan di wilayah Malang. Mengingat potensi di tiap-tiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga mampu membawa kekhususan bagi masing-masing daerah tersebut.
Keberadaan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) dianggap telah mampu mengambil inisiatif mengenai kreativitas dengan mengadakan berbagai penyuluhan, workshop dan juga pelatihan-pelatihan yang orientasinya kepada pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Sudibyo Adi Wahyono selaku Ketua Posdaya Garuda di wilayah Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang saat ditemui Cendana News di kediamannya yang berada di jalan Danau Matana, Sawojajar.
Dikatakan, Posdaya Garuda yang berdiri sejak tahun 2013 tersebut merupakan binaan dari Politeknik Kota Malang (POLTEKOM). Menurut Sudibyo, Posdaya Garuda pernah dicoba untuk diuji eksistensinya dan ternyata Posdaya Garuda berhasil menjadi juara satu Posdaya di tingkat kecamatan. Kemudian para ibu PKK juga ada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan daur ulang dengan mencoba membuat karya-karya dari botol dan gelas air mineral, dari bahan pernak-pernik yang sudah tidak terpakai lagi sehingga daur ulang tersebut bisa memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
“Terus terang saja keberadaan Posdaya ini sangat dibutuhkan dimana-mana, karena ibu-ibu rumah tangga itu setelah masak biasanya menganggur sehingga perlu diberdayakan dengan berbagai kegiatan agar bisa memberikan pemasukan tambahan bagi keluarganya. Selain itu dengan adanya Posdaya berarti ada silaturahim untuk bisa berbagi informasi antarwarga,” jelas pria kelahiran Malang tersebut. Fungsi Posdaya sendiri juga untuk memacu dan mengembangkan serta menambah ekonomi yang sudah dimiliki oleh masing-masing keluarga.
Untuk terus bisa mengembangkan Posdaya Garuda, Sudibyo yang juga berprofesi sebagai seorang seniman dan memiliki keahlian di bidang seni rupa ini akhirnya menularkan ilmunya kepada warga untuk membuat sebuah karya seni rupa yang bisa dijual melalui pameran-pameran.
“Saya pernah ajarkan kepada warga untuk membuat pola gambar bunga. Dari satu pola tersebut kemudian dikembangkan sendiri oleh ibu-ibu menurut kreativitas mereka masing-masing sehingga ada suatu karya yang bernilai ekonomi dan bisa dijual melalui pameran bursa lukisan. Namun ketika dijual, setelah dihitung-hitung ternyata hasilnya impas dan tidak mendapatkan untung. Inilah yang kemudian menjadi masalah,” ungkapnya.
Lebih lanjut diakui Sudibyo saat ini yang menjadi kendala utama yang dihadapi Posdaya Garuda adalah pemasaran produk. Karena pemasaran dari produk-produk Posdaya Garuda hanya melalui tetangga maupun teman, belum ada link pemasaran lainnya.
Menurutnya, ada tiga faktor penting untuk bisa memasarkan sebuah produk yakni faktor produk, marketing dan manajemen. Tiga faktor tersebut tidak bisa dilepaskan begitu saja karena satu faktor saja tidak bisa berkembang, otomatis mempengaruhi faktor lainnya juga.
“Kalau produknya tersedia tapi kemudian pemasarannya sulit, ya pasti usahanya akan macet juga,” ujarnya.
Memang dulu waktu awal gencar-gencarnya Posdaya, pihak dari POLTEKOM sering sekali datang ke Posdaya Garuda untuk meninjau, bahkan sempat ada pelatihan bagaimana membuat website. Jadi dulu Posdaya Garuda punya web sendiri sedangkan yang menjadi adminnya dari pihak POLTEKOM. Tujuannya agar hasil karyanya bisa dimasukkan di web untuk dijual.
Pernah juga mengadakan tanaman hidroponik, di dinding rumah warga dipasangi tanaman yang dibiayai dari POLTEKOM.
“Seminggu sekali mereka datang untuk mengontrol, tapi kemudian lama-kelamaan tidak ada lagi yang datang untuk mengontrol. Hal ini yang membuat semangat ibu-ibu menurun lagi sampai akhirnya semua tanaman kering. Bahkan websitenya sekarang juga sudah tidak aktif lagi,” akunya. Jadi sampai sekarang belum ada solusi mengenai pemasaran.
Lebih-lebih dari pihak POLTEKOM sendiri sudah beberapa bulan tidak ada komunikasi, tidak ada peninjauan untuk melihat perkembangan dari Posdaya Garuda seperti apa, kesulitannya apa, apa yang dibutuhkan.
Selain masalah pemasaran, faktor permodalan juga menjadi salah satu masalah yang juga tengah dihadapi Posdaya Garuda. Sudibyo mengatakan bahwa dulu dari pihak POLTEKOM pernah menawarkan pinjaman lunak. Siapa saja yang mau mengajukan pinjaman dipersilakan. Hanya saja satu anggota yang diperbolehkan meminjam dua juta rupiah yang bisa digunakan untuk pengembangan usaha dan Posdaya. Tapi karena para anggota Posdaya takut tidak mampu mengembalikan uang yang dipinjam dan takut berurusan dengan bank, akhirnya mereka tidak memanfaatkan pinjaman lunak tersebut.
Karena sampai saat ini permasalahan-permasalahan utama tersebut belum mendapatkan solusi, ditambah lagi kesibukan para anggota di luar kegiatan Posdaya dan jarang diadakan pertemuan sehingga akhirnya untuk sementara Posdaya Garuda tidak lagi berproduksi.
“Agar Posdaya Garuda bisa kembali eksis, kami sangat berharap pihak-pihak yang membawahi Posdaya punya komitmen untuk menyediakan pasar agar produk-produk yang kami hasilkan bisa terjual. Selain itu kami juga memohon agar ada dukungan berupa permodalan dengan catatan harus ada aturan main yang jelas agar tidak ada yang dirugikan dari kedua belah pihak,” harapnya.
Disebutkan Posdaya Garuda memiliki beberapa unit aktivitas yang terdiri dari Garuda 1 yang berorientasi ke lukisan, Garuda 2 daur ulang, Garuda 3 membuat karya dari lilin. Sementara di bidang kesehatan di wilayah Posdaya Garuda sudah terdapat Posyandu.