Petani Keluhkan Serangan Lalat Buah
PONOROGO – Memasuki musim panen, Mahiful Hadi mengaku kesulitan mengatasi serangan lalat buah di kebun jeruk miliknya. Pasalnya, jika jeruk yang sudah masak terserang lalat buah bisa dipastikan buahnya menjadi busuk dan tidak layak dikonsumsi.
Mengatasi hal itu, Mahiful sapaannya, membuat perangkap lalat buah yang terbuat dari botol plastik bekas yang dipotong ujungnya dan dibalik serta diberi cairan kimia sebagai perangkap.
“Saya buat ada 60 perangkap di kebun jeruk milik saya,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Senin (9/10/2017).
Setiap perangkap memiliki jarak 20 meter mengelilingi kebun jeruk. “Perangkap ditaruh di luar kebun, untuk mengurangi serangan lalat buah,” cakapnya.
Menurutnya, akibat serangan lalat buah ini ia merugi hingga 20% dari total panenan. Mengingat area kebun jeruk milik Mahiful berada di tengah perkotaan. Sehingga dampak serangan lalat buah sangat terasa.
“Setiap dua minggu sekali, perangkap saya ganti,” tukasnya.
Selain serangan lalat buah, Mahiful juga harus menghadapi jamur yang menyerang pangkal batang. Dan juga serangan virus. “Kalau virus, langsung dicabut pohonnya, soalnya daunnya mengering semua,” tuturnya.
Alumni salah satu perguruan tinggi Islam ini menjelaskan, dirinya menjadi petani jeruk sejak tahun 2001 lalu. Dan kini ia memiliki sekitar 400-an batang pohon jeruk. Jeruk yang ia tanam jenis jeruk siem. Jeruk jenis ini dinilai cocok ditanam di lahan bumi Reog.
“Pada bulan September biasanya saya panen buah jeruk,” ucapnya.
Untuk setiap satu kilogram jeruk biasanya dihargai Rp10 ribu di pengepul. Namun, sejak enam bulan lalu, Mahiful membuka kebun jeruk miliknya sebagai tempat agrowisata petik jeruk dengan omzet Rp30 juta per satu kali panen.