Inovasi Anak Ponorogo untuk Pemupukan Efektif Bagi Petani

PONOROGO –– Pemupukan pada padi biasanya dilakukan dengan cara tradisional, terutama jenis pupuk granul, di mana petani harus menggenggam pupuk baru disebar atau membungkukkan badan, kemudian menaruh pupuk ke setiap tanaman padi. Kali ini ada penemuan unik, tiga siswa SMPN 1 Jetis membuat alat penebar pupuk yang efektif dan efisien.

Adalah Azizah Bintang Tawangsari, Candrika Felix Hardiansah, dan Yusril Wahid Sayfulloh membuat alat yang diberi nama “Alat Pemberi Pupuk Tanaman Padi Efisien dan Hemat Tenaga”.

Bahkan alat inovasi pelajar SMP ini berhasil menyabet juara dua dalam lomba ‘Inovasi Teknologi Award 2017 Kabupaten Ponorogo’ bidang agribisnis yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo.

Alat ini dipercaya bisa membuat petani yang awalnya harus membungkuk-bungkuk mengambil pupuk granul dan kemudian menyebar ke tanaman padi atau jagung, kini bisa lebih efisien dengan alat ini.

“Cara kerjanya hampir sama dengan sprayer, cuma bedanya tiap kali hendak mengeluarkan pupuk kita harus memencet sebuah tombol,” jelas Azizah salah satu anggota kelompok saat ditemui Cendana News di lokasi, Senin (27/11/2017).

Memakai alat ini dinilai lebih efektif dan efisien saat pemupukan terlebih lagi lebih menghemat tenaga. Saat memakai alat ini, yang dilakukan petani adalah memasukkan pupuk granul kedalam wadah atau tangki, kemudian sembari menekan tombol yang ada di tongkat, pupuk keluar dengan jumlah tertentu dan diarahkan ke tanaman yang akan diberi pupuk.

“Bahan untuk alat ini kami menghindari besi karena mudah berkarat,” ujarnya.

Siswa kelas VIII ini menerangkan bahan-bahan yang ia bersama timnya gunakan, mulai dari pipa PVC, kayu, mika akrilik sebagai tempat IC, baterai Lipo 5V, LCD dan motor servo. Semua bahan bisa ditemukan di Ponorogo kecuali motor servo yang harus beli dari Surabaya.

“Menariknya di bagian bawah box kayu terdapat LCD sebagai pemberi informasi derajat pembukaan saat proses mengeluarkan pupuk,” terangnya.

Menurutnya, saat proses pembuatan alat ini juga pernah mengalami kesulitan, terutama saat mengatur sudut motor servo dan disesuaikan dengan umur tanaman. Selain itu juga bahasa pemrograman untuk alat satu ini. Tak hanya itu, pembuatan kontruksi tampungan pupuk juga sulit, karena jalan pupuk harus lancar saat keluar.

“Untuk penampung atau boks kami memilih menggunakan kayu yang dilapisi mika akrilik, kalau pakai besi cepat karat,” imbuhnya.

Alat ini, lanjutnya, hanya menghabiskan dana sebesar Rp300 ribu. Lama pembuatan alat ini hanya sekitar tiga hari saja. Mulai dari bahan dan juga pemrogramannya. Ketiganya mengaku mengikuti ekstrakurikuler robotika di sekolah, tak ayal ketiganya memang memiliki ketertarikan dalam bidang elektronika.

“Kelebihan alat ini, petani tidak perlu lagi membungkuk untuk menyebar pupuk, dan aman dari mata,” cakapnya.

Cara penggunaan alat ini, petani hanya harus mengisi pupuk granul ke dalam boks dengan kapasitas lima kilogram, setelah itu menyalakan baterai, dari LCD akan menampilkan sudut informasi derajat untuk mengeluarkan jumlah pupuk sesuai dengan umur tanaman. Kemudian petani tinggal berjalan di area persawahan yang akan diberi pupuk sambil sesekali memencet tombol yang ada di tongkat pipa PVC, nantinya pupuk akan keluar dengan sendirinya.

Diharapkan dengan adanya alat inovasi dalam bidang pertanian seperti ini, Indonesia bisa mencapai target dalam ketahanan pangan nasional bahkan terlebih lagi bisa ekspor hasil pertanian. Ini merupakan langkah kecil yang bisa merubah masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keutuhan NKRI tidak hanya menjaga dari adanya jajahan tapi juga bebas dari ketergantungan impor bahan makanan terutama bahan makanan utama pokok seperti beras, jagung dan kedelai.

Lihat juga...