Perlu Upaya Revitalisasi Membangkitkan Pasar Kerajinan Gerabah
LOMBOK BARAT – Desa Wisata Banyu Mulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi desa kerajinan gerabah yang terkenal di kalangan wisatawan dalam maupun luar negeri.
Bagaimana tidak, kerajinan gerabah dihasilkan dalam berbagai bentuk, selain unik, juga banyak memiliki nilai seni yang disukai wisatawan, karena terbuat dari bahan alami, yaitu tanah sari.
Selain hasil dan kualitas produk kerajinan gerabah yang dihasilkan memang bagus, perekonomian sebagian besar masyarakat juga cukup bagus serta mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Namun semenjak kasus bom Bali pada November 2002, kejayaan Desa Banyu Mulek sebagai desa wisata seakan hancur termasuk perekonomian masyarakat yang tadinya bagus ikut pula hancur.
Selama beberapa tahun bahkan sampai sekarang kunjungan dan penjualan kerajinan gerabah sepi. Banyak di antara wisatawan trauma dan tidak banyak yang berani datang, baik ke Bali maupun ke Lombok.
“Kondisi tersebut memang telah menjadikan penjualan hasil kerajinan gerabah Desa Banyu Mulek anjlok dan mengalami kelesuan, banyak di antara perajin yang alih profesi menjadi petani atau buruh bangunan,” kata Bupati Kabupaten Lombok Barat, Fauzan Khalid di Lombok Barat, Selasa (3/10/2017).
Karena itulah untuk menghidupkan kembali tingkat kunjungan dan pemasaran kerajinan gerabah di Desa Banyu Mulek diperlukan upaya revitalisasi baik produk kerajinan termasuk strategi promosi pemasaran.
Dengan langkah tersebut, upaya mengencangkan kembali pemasaran hasil kerajinan gerabah bisa terwujud sehingga masyarakat kembali tertarik mengembangkan kerajinan gerabah.
“Pada tahun 2018, penggunaan APBD selain difokuskan untuk penanganan masalah kemiskinan dan pertanian, pemberdayaan UMKM, juga industri perumahan termasuk hasil kerajinan gerabah Desa Banyu Mulek akan jadi perhatian,” katanya.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) mengakui bahwa kontribusi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan Perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi masih tergolong rendah. Kontribusi UMKM terhadap ekonomi daerah jauh di bawah sektor pertanian.
Kalau dibandingkan dengan sektor pertanian, kontribusi UMKM dan Perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi, jauh kalah lebih rendah, yaitu hanya sebesar 21 persen. Sementara sektor pertanian setiap tahunnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 46 persen, sebab hampir sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertanian.
Amin meminta kepada Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perdagangan termasuk pelaku UMKM untuk terus menggenjot pemasaran dan meningkatkan nilai produk UMKM yang dihasilkan.
“Kemampuan memasarkan serta masih rendahnya nilai jual dari produk UMKM menjadi salah satu kendala termasuk pendanaan,” ujar Amin.
Keterbatasan pembiayaan kerap menjadi pemicu bagi pelaku UMKM di NTB agar tumbuh secara mandiri dan bisa mengembangkan usaha hingga mampu merambah pasar internasional.