Peminat Minim, Industri Genteng dan Wuwung Tersisihkan
YOGYAKARTA – Semakin minimnya peminat serta berkurangnya ketersediaan bahan baku, menjadi kendala utama para perajin genteng keripik dan wuwung, di Dusun Ndemi Bendo, Wukirsari, Imogiri, Bantul dalam menjalankan usaha.
Selain dihargai sangat murah, para perajin pun harus membeli bahan baku tanah liat maupun dedaunan kering untuk proses pembakaran genting karena semakin sulitnya mencari bahan-bahan tersebut di sekitar desa.
Mbok Surip (54) adalah salah satu perajin genteng tradisional di Dusun Ndemi Bendo yang merupakan desa sentra pembuatan industri genteng keripik dan wuwung sejak puluhan tahun silam. Ia mengaku harus membeli tanah liat seharga Rp35 ribu setiap keser.
Tanah itu kemudian masih harus ia olah atau diulet dengan membayar tenaga Rp50 ribu. “Tiga keser tanah biasanya jadi sebanyak 700 buah wuwung. Itu saya kerjakan selama 2 minggu. Karena saya hanya bisa membuat wuwung sebanyak 50 biji per hari,” katanya Selasa (3/10/2017).
Dalam sehari, Mbok Surip rata-rata hanya mampu mendapat pemasukan Rp30 ribu. Pasalnya ia tidak memiliki lahan untuk proses pembakaran sehingga hanya menjual wuwung dalam bentuk mentah atau belum dibakar seharga Rp600 per biji.
“Kalau sedang kemarau seperti ini, wuwung bisa cepat kering sehingga bisa langsung dijual. Kalau sedang musim hujan ya susah,” katanya.
Lain Mbok Surip, lain pula Jayadi (54). Perajin wuwung dan genteng keripik yang juga warga Ndemi Bendo ini memilih mencari sendiri bahan baku tanah liat dan dedaunan kering untuk proses pembakaran. Meski begitu ia harus menyediakan waktu lebih mencari bahan baku tersebut hingga ke luar desa bahkan luar daerah.
“Walaupun semakin sedikit, untuk tanah liat masih ada. Walaupun saat musim hujan susah didapat. Begitu juga daun-daun tebu atau jagung kering. Kadang saya harus mencari sampai Kulonprogo. Harganya Rp5ribu satu ikatnya,” katanya.
Dibantu istrinya, Jayadi mengaku mampu membuat wuwung sebanyak 100 biji per hari. Dengan lahan seadanya ia biasa membakar wuwung itu setiap dua minggu sekali. Sekali bakar, ia mampu menghasilkan sekitar 1500-2000 wuwung.
“Untuk sekali bakar itu paling tidak butuh sebanyak 25-35 bongkok ikat daun kering tebu atau jagung. Kalau harga sedang bagus satu wuwung siap pakai, biasa dihargai Rp1000 sampai Rp1500. Tapi kalau sedang turun hanya Rp700 per biji,” katanya.
Untuk menjual genteng keripik dan wuwung itu, Jayadi dan perajin lainnya pun harus menyetor ke daerah pedesaan dan pegunungan seperti Panggang dan Gunungkidul. Pasalnya jika dijual di kota, genteng keripik dan wuwung tidak laku lantaran kalah bersaing dengan genteng pres buatan pabrik.
