ENDE – Bila berkunjung ke Flores, khususnya ke kabupaten Ende, selain menikmati keindahan danau Kelimutu yang melengenda, wisatawan bisa juga mengunjungi Danau Bowu dan Danau Tiwu Sora di kecamatan Kotabaru di pesisir pantai utara pulau Flores.

Danau Tiwu Sora di desa Tiwu Sora, bisa ditempuh selama 1,5 jam perjalanan menggunakan mobil atau sepeda motor dari Maumere ibukota kabupaten Sikka menyusuri jalanan yang persis berada di pesisir pantai utara.
Bupati Ende, Marselinus Y. W. Petu, bersama Wakil Bupati Ende, H. Djafar Achmad, saat mengunjungi danau ini dan menggelar dialog interaktif terkait pengembangan danau tersebut pada Jumat (13/10/2017), bertekad akan mengembangkan danau ini sebagai salah satu destinasi wisata.
Dikatakan Marsel, sapaan Bupati Ende, untuk permulaan Pemda Ende akan mengembangkan ruas jalan dari Nduaria sampai Kotabaru menjadi salah satu dari lima ruas jalan paralel yang tentu menjadi prioritas pembangunan guna memudahkan akses wisatawan ke danau ini.
“Adanya pembangunan jalan ini tentu akan mempermudah akses ke Danau Tiwu Sora dan juga akan menggerakkan perekonomian warga,” ungkapnya.
Destinasi wisata Danau Tiwu Sora, kata Marsel, ingin dikembangkan pemda Ende terkait dengan legenda kekuatan mistiknya sehingga akan menjadi nilai jual yang memotivasi para wisatawan mengunjungi danau tersebut dan nantinya akan dibuat dengan brosur dan pamflet.
Wakil Bupati Djafar menambahkan, Danau Tiwu Sora juga seperti Danau Kelimutu yang oleh masyarakat sekitar dipercaya sebagai tempat tinggal atau berkumpulnya arwah-arwah orang yang meninggal dunia dan mereka akan menjelma menjadi belut raksasa.
Hal ini, lanjut Djafar, menyebabkan Danau Tiwu Sora merupakan danau yang disucikan oleh masyarakat Lio, sehingga setiap orang yang akan memasuki wilayah ini untuk pertama kalinya akan mendapat pengalungan untaian rumput yang telah disiapkan sebelumnya melalui ritual adat oleh mosalaki (tetua adat) setempat.
“Pengalungan untaian rumput merupakan tanda, bahwa leluhur telah mengenal tamu yang baru datang, kalung ini bukan souvenir, tetapi milik alam yang harus dikembalikan lagi ke alam sehingga saat tiba di danau, kalung rumput ini harus dilemparkan ke dalam air danau,” tuturnya.