PADANG — Silek atau disebut juga silat, merupakan seni beli diri yang dimiliki oleh Indonesia, terutama di bumi Minangkabau, yang menjadi salah satu kekayaan budaya. Tetapi, seiring berkembangnya berbagai seni bela diri, silek seakan seperti kehilangan kepopulerannya.
Namun, ada hal yang perlu dipahami tentang silek itu. Seperti yang dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Taufik Effendi, silek saat ini terlihat tidak lagi menjadi sebuah budaya yang keberadaannya muncul secara terang-terangan pada masyarakat umum. Tapi, kini yang muncul malah sebentuk pencak silat, yang menjadi bagian dari olahraga yang dipertandingkan.
Soal pencak silat, memang sudah cukup banyak tampil, dengan berbagai aliran dan perguruan. Tetapi, soal silek tradisi sendiri, saat ini tengah diupayakan oleh pemerintah di Sumatera Barat untuk menjajaki atau mendata keberadaan silek tradisi di Minangkabau.

Alasan Taufik untuk hal ini sangat sederhana, karena menurutnya silek yang sebenarnya silek adalah silek tradisi, yang memiliki berbagai aliran dan perguruan dengan gerak silek yang terlihat beda dengan perguruan silat di tanah air.
Sehingga, pendataan yang akan dilakukan pada 2019 mendatang itu, kata Taufik, guna memastikan keberadaan silek tradisi di Minangkabau, karena sampai saat ini masih belum ada bukti dokumentasi yang menunjukkan kekhasan silek tradisi di Sumatera Barat. Hal ini, bahkan belum diketahui banyak bagi masyarakat di Sumatera Barat.
“Silek atau silat yang kita kenal selama ini jika dipahami, bahwa silat ini mengajarkan seseorang bersilaturahmi, baik itu bersilaturahmi dengan Tuhan Yang Maha Esa, maupun dengan sesama manusia. Sehingga, hal ini erat kaitannya dengan spritual, yang tidak hanya memperagakan dalam bentuk kekuatan tenaga, tapi juga menyimpan spritual,” katanya, Minggu, (29/10/2017).
Hal yang demikian, menurutnya, hanya bisa ditemukan pada silek tradisi, bukan pada pencak silat. Seperti di Minangkabau, cukup banyak aliran silek tradisinya, seperti Silek Tuo, Silek Harimau, Silek Kumango, Silek Sitalarak, Silek Lintau, Silek Pauah, dan berbagai aliran lainnya.
Lahirnya silek di Sumatera Barat ini, memiliki sejarah yang cukup panjang dan belum bisa dipastikan kebenaran asal-usul pertama silek berkembang di Sumatera Barat. Namun, keberadaan silek bagi masyarakat Minang pada tempo dulu, ialah bentuk pertahanan nagari/desa dari ancaman-ancaman pihak luar. Bahkan, tak jarang generasi-generasi Minangkabau yang merantau, syarat untuk dapat izin pergi, harus memiliki bekal bela diri silek.
Menurutnya, dengan kondisi saat ini, upaya untuk menjajaki silek tradisi di Minangkabau, yakni akan mendatangi langsung para datuak-datuak di dalam sebuah kaum, dan dari sana bisa melacak keberadaan silek. Karena, di Minangkabau sendiri, segala hal yang dilakukan oleh sanak saudaranya diketahui oleh datuak. Sehingga, besar kemungkinan akan mudah menemui silek-silek tradisi di Minang.
“Sasaran silek ini sangat sulit ditemukan, jika hanya nekat mendatangi satu per satu kaum atau suku. Karena, silek tradisi diajarkan secara sembunyi-sembunyi, yang murid-muridnya merupakan orang terdekat dari sang guru atau tuo silek, seperti cucu, anak-anaknya, anak kemanakan, dan sanak saudara lainnya,” jelasnya.
Namun, masih ada juga sebagian sasaran atau tempat, murid-muridnya boleh datang dari luar, tetapi gerakan yang diajarkan lebih dominan kepada pencak silat, ketimbang silek tradisinya. Di Sumatera Barat, hampir di seluruh kabupaten dan kota memiliki sasaran silek, dengan berbagai aliran dan perguruan.
Antara, aliran dan perguruan ini, memiliki pemahaman yang berbeda. Aliran itu, seperti Silek Tuo, Silek Kumango, dan yang lainnya. Dari aliran ini, akan muncul berbagai perguruan pula. Yakni, Perguruan Silat Harimau Kuranji, Perguruan Silat Kucing Liar, Perguruan Silat Minsai Al-Fitrah, Perguruan Silat Budi Suci, dan banyak lagi perguruan silat lainnya.
“Saya belum memiliki data yang pasti terkait perguruan silat di Minangkabau ini. Tapi, sebagai contoh, di Kota Padang ada sekira 30 sasaran silek. Ini baru di Kota Padang, ada kemungkinan mencapai di atas angka 500 sasaran silek yang ada di Sumatera Barat,” ungkapnya.
Taufik juga menyebut, ketika mejajaki silek tradisi di Minangkabau pada tahun depan itu, tentunya akan menghabiskan waktu lama. Karena, dalam menjajaki silek tradisi ini, pihaknya akan melakukan sebuah dokumentasi seperti foto dan video, untuk mengetahui sejumlah penjelasan dari para tuo silek di Minangkabau.