MAKASSAR – Tampak tumpukan rotan memenuhi lantai bawah Daeng Ngasih yang berlokasi di Jalan Panampu, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo. Tampak pula seorang wanita sibuk membersihkan rotan-rotan milik Daeng Nagasih. Rumah Daeng Ngasih dijadikan tempat pembuatan kerajinan tangan berbahan baku rotan.
Mulai dari hiasan lampu, tudung saji, pot bunga dan juga bosara dibuat oleh Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Mawar yang dibina oleh Daeng Ngasih. Kelompok usaha ini didirikan pada tahun 2005 lalu di bawah naungan Dinas Sosial Kota Makassar. Hal ini untuk membina masyarakat yang ada di Panampu yang telah putus sekolah.
Menurut Daeng Ngasih, awal dibentuk pada tahun 2005 lalu dari Dinsos untuk pengembangan keterampilan dan sampai sekarang masih aktif.
“Awalnya Dinsos memberikan pembekalan pada 5 kelompok untuk masyarakat yang tinggal di sini. Sampai sekarang saya masih aktif dan mengembangkan usaha kerajinan ini,” jelas Daeng Ngasih pada Cendana News, Selasa (3/10/2017).
Usaha kerajinan rotan binaan Daeng Ngasih sendiri kini telah mempekerjakan 6 orang pegawai, yang rata-rata merupakan warga sekitar. Dalam sehari 6 pegawai tersebut bisa menghasilkan 5-6 kerajinan tangan. 6 tenaga kerja tersebut masih bekerja secara tradisional tidak menggunakan bantuan mesin.
Mulai dari membersihkan, memotong sampai mengecat masih menggunakan tangan. Meski begitu masih banyak kendala yang dihadapi. Seperti kendala bahan baku yang sulit didapatkan hingga tempat yang kecil.
Menurut Daeng Ngasih meski banyak menemui kendala dalam menjalankan usaha dirinya tidak patah semangat.
“Kalau untuk menangani masalah tempat yang sempit pegawainya mengerjakan di rumah masing-masing sedangkan bahan baku kami belum bisa berbuat banyak karena dikirim dari Palu,” ungkapnya.
Bahkan Daeng Ngasih pernah mengalami kerugian sebesar Rp20.000.000 akibat tertipu perjanjian kerja sama. Namun hal itu dijadikan pembelajaran dalam menjalankan usaha. Dalam setahun Daeng Ngasih bisa mengantongi Rp60.000.000 dengan modal Rp45.000.000.
Harga yang dipasang Daeng Ngasih dari harga termurah Rp35.000 dan yang termahal sampai Rp150.000. Bahkan hasil kerajinan Daeng Ngasih dijual sampai ke luar Pulau Sulawesi Selatan. Untuk kerajinan yang diminati kebanyakan bosara dan pot bunga yang berbentuk becak.
Daeng Ngasih menambahkan harapannya agar pemerintah memberi perhatian pada usaha yang dijalankan.
“Dulunya Dinsos memberikan bantuan terakhir pada tahun 2009 tapi sekarang ini sudah tidak lagi padahal kami sangat membutuhkan bantuan modal,” tutup Daeng Ngasih.
