Kemitraan, Resep Eksis Usaha Arang Batok Kelapa
LAMPUNG – Usaha pembuatan arang batok kelapa di wilayah Kabupaten Lampung Selatan terdapat di Dusun Penegolan Kecamatan Bakauheni, Desa Klaten dan Pasuruan Kecamatan Penengahan serta Desa Tanjungsari Kecamatan Palas.
Usaha yang dilakukan oleh beberapa pemilik usaha klempeng (usaha kopra) sekaligus pembuatan arang batok kelapa tersebut mengalami pasang surut menyesuaikan permintaan kebutuhan lokal dan kebutuhan ekspor.
Ngatiran (49) warga Desa Kalirejo yang menetap di Desa Pasuruan untuk menekuni usaha pembuatan arang batok kelapa menyebut, saat ini dirinya tengah mempersiapkan proses pembakaran arang kelapa untuk pemenuhan kebutuhan ekspor. Target permintaan berkisar 10 hingga 15 ton tersebut diakuinya tidak bisa dilakukan sendiri akibat keterbatasan sumber daya, bahan baku dan waktu. Ia bahkan menyebut mulai bermitra dengan produsen arang kelapa lain untuk memenuhi kuota pengiriman mengingat usaha skala kecil yang ditekuninya memerlukan modal pinjaman.
“Selain bermitra dengan pembeli melalui pemberian modal awal untuk operasional pembelian bahan baku hingga proses distribusi saya juga harus bermitra dengan sesama produsen arang kelapa lain serta pemilik usaha kopra, agar sama-sama jalan dan bisa memperoleh keuntungan,” terang Ngatiran saat dikonfirmasi Cendana News melalui saluran telepon saat dirinya tengah mengambil bahan baku batok kelapa di Kecamatan Bakauheni, Selasa (10/10/2017).
Pola kemitraan yang menjadi mata rantai usaha pembuatan arang kelapa tersebut diakuinya dilakukan melalui pemetaan wilayah atau pembagian lokasi pengambilan bahan baku dengan mendata puluhan pemilik usaha kopra yang menghasilkan batok kelapa sebagai limbah. Sekitar lima pemilik usaha pembuatan arang kelapa diakui Ngatiran merupakan kerabatnya. Meski bekerja secara profesional dengan sistem pembagian wilayah agar bisa menjangkau sebanyak mungkin bahan baku dari wilayah Bakauheni hingga Ketibung.
Setelah dilakukan proses pengumpulan bahan baku pekerjaan pembakaran batok kelapa dilakukan oleh setiap pemilik usaha arang batok kelapa dengan rata-rata produksi per bulan mencapai 5 ton sehingga dibutuhkan sebanyak 4 produsen arang kelapa untuk mencapai kuota sekitar 20 ton sekali pengiriman.
Pentingnya kemitraan dalam sektor usaha kecil pembuatan arang batok kelapa tersebut juga diakui oleh Wanto (39) warga Desa Klaten yang menjadi produsen arang batok kelapa sejak lima tahun silam. Sebelum ada order atau pesanan ia mengaku sebatas mengumpulkan bahan baku sebanyak-banyaknya dan akan melakukan proses pembakaran ketika ada pesanan pasti ditunjukkan dengan uang muka pembelian sekaligus sebagai modal operasional.
“Persentasenya bisa sepuluh persen diberikan pembeli kepada kami para produsen arang kelapa sehingga bisa menjalankan usaha karena membutuhkan bahan bakar dan tenaga,” tegas Wanto.
Pada pemesanan untuk kebutuhan akhir tahun 2017 bekerjasama dengan pembuat arang batok kelapa lain dengan target tiga bulan, bisa memenuhi kuota 20 ton hingga bulan Desember ia menyebut, proses pembakaran telah dilakukan sejak awal Oktober. Harga jual arang kelapa yang dibeli dengan sistem tonase saat ini di level produsen seperti dirinya mencapai Rp6,5 juta hingga Rp7,5 juta. Setelah terkumpul menjadi arang kelapa pembeli akan mendatangi lokasinya mengambil sebanyak 5 ton arang kelapa dengan pendapatan kotor sekitar Rp30 juta dengan asumsi harga Rp6 juta per ton.
Proses yang lama dalam pembuatan arang kelapa berupa pengeringan, pembakaran menggunakan drum besar atau manual di tanah, pendinginan hingga pengeringan sebelum dikirim tetap ditekuni sebagai usaha yang tidak dilirik oleh warga lain. Ia menyebut sebagai usaha kecil dirinya hanya memanfaatkan limbah batok kelapa dari tukang kopra dan usaha pembuatan arang kelapa menjadi sumber penghasilan bagi produsen arang kelapa.
Wanto menyebut dari rantai distribusi pembuatan arang kelapa beberapa di antaranya mendapatkan hasil misalnya produsen kopra memperoleh sekitar Rp500 ribu untuk satu karung batok kelapa dan pekerja bongkar muat mendapatkan upah sekitar Rp50 ribu sehari dan pekerja pembakaran memperoleh upah Rp70 ribu per hari.
Arang batok kelapa yang dalam penggunaan tradisional dipakai untuk membakar sate, ikan serta kebutuhan media tanaman hias, menurut Wanto dibuat juga untuk memenuhi permintaan ekspor ke China dan Amerika Serikat sebagai bahan pembuatan kosmetik dan penjernihan air, briket serta karbon aktif. Harga jual di tingkat masyarakat lokal dengan ukuran per karung Rp15 ribu bahkan memiliki nilai jual yang tinggi saat dijual sebagai komoditas ekspor.
Wanto menyebut, tanpa ada kemitraan antara pembeli yang sekaligus pengekspor, produsen kopra serta sesama pembuat arang batok kelapa, usaha kecil yang ditekuninya tidak akan bertahan. Beromzet kotor puluhan juta setiap ada pesanan sekaligus usaha memanfaatkan limbah panen kelapa diakuinya bisa memberi nilai tambah bagi yang mau menangkap peluang tersebut.
