JENDERAL GATOT NURMANTYO, CUCU HAMENGKU BUWONO I

Oleh Eko Ismadi*

Ulasan ini hanya untuk memberikan informasi publik bagi kebangsaan Indonesia, agar seluruh bangsa Indonesia paham dan mengerti siapa Jenderal Gatot Nurmantyo. Saya secara manusiawi geram dan tidak rela seorang negarawan selevel Jenderal Bintang Empat menjabat Panglima TNI dinistakan oleh Nikita Mirzani. Agar Panglima TNI dihargai tugas dan tanggung jawabnya serta keberadaannya. Harapan saya tulisan ini tidak diterjemahkan secara politis tetapi mari kita berpikir bijak untuk kebaikan dan mempersiapkan kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik dan mapan.

Masih melekat dalam benak saya, ketika Bapak Ryamizard Ryacudu masih menjabat Pangkostrad dan KASAD. Ketika akan mencari pejabat di lingkungan Angkatan Darat, selalu berbicara dengan saya dan pejabat lain dengan pertanyaan, “Bahan Bakunya Bagaimana?” Yang dimaksud oleh Bapak Ryamizard adalah latar belakang hidupnya calon pejabat tersebut bermasalah atau tidak.

Ada tiga identitas yang melekat pada diri setiap orang, yaitu idenititas kebangsaan, identitas profesi, dan identitas keluarga. Demikian pula yang dimiliki oleh seorang Jenderal yang bernama Gatot Nurmantyo. Pemahaman TRAH tidak hanya terbatas dalam kehidupan budaya Indonesia saja, tetapi juga terdapat dalam kehidupan keagamaan. Ada beberapa catatan sejarah perkembangan Islam di jawa yang menyebut, ada hubungan kekerabatan antara Sunan Gunung Djati dengan Nabi Muhammad SAW. Atau, ada catatan sejarah yang menyebutkan keturunan Sunan Kalijaga di beberapa daerah di luar Jawa.

Dalam kehidupan yang terjadi di lingkungan kita, sering terdengar istilah bibit, bebet, dan bobot. Tiga kata ini pasti cukup sering Anda dengar. Terutama ketika mencari menantu atau pasangan. Lalu, apa sebenarnya maksud ketiga kata ini? Dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, mencari pemimpin bangsa harus didasarkan pada bibit, bebet, dan bobot. Pemimpin tidak harus dari keluarga bangsawan, ningrat, terpandang, dan seseorang yang jelas tidak bermasalah. Seorang pemimpin yang memiliki pemikiran jelas, kepribadian jelas, nenek leluhurnya juga jelas. Tidak meragukan atau tipu tipu.

Di hadapkan dengan kondisi politik sekarang ini, apalagi dengan pelecehan dari Nikita Mirzani, Jenderal Gatot Nurmantyo tidak dihargai cara berpikirnya. Padahal, Jenderal Gatot sangat teruji atas perilaku serta pendiriannya dalam mengemban tugas dan masa depan bangsa Indonesia. Terutama bila dihadapkan dengan sikap beliau terhadap demonstran dan impor senjata yang dilakukan oleh Polisi yang masalahnya hingga sekarang masih berlanjut.

MENGENAL TRAH DAN LELUHUR GATOT NURMANTYO

Dalam budaya Indonesia Trah diartikan turunan ahli waris dan turunan darah. Yang membedakan turunan ahli waris adalah hak atas warisan dan hak kepemilikan atas harta orang tua ataupun seseorang yang memberikan hak kepemilikan tersebut. Sedangkan turunan darah yang berkaitan dengan identitas pribadi, status kebudayaan, tradisi dalam implementasi, dan pemberdayaan dalam pelestarian kehidupan budaya di wilayah atau daerah dimana identitas Trah itu berada dan lahir. Lazimnya, hal itu berkaitan dengan kesukuan wilayah Jawa, Padang, Batak, atau wilayah Sunda.

Dalam sejarahnya, ada tiga ciri Trah dalam kehidupan kebangsaan, yakni Trah bangsawan atau Raja, Trah Saudagar, dan Trah tokoh yang dihormati. Dalam penelusuran saya, Gatot Nurmantyo termasuk dalam Trah Kerajaan Kasultanan Yogyakarta dari garis Sultan Hamengku Buwono I. Tepatnya, dari garis keturunan Trah Projo Kertayan.

Darah Gatot Nurmantyo Dari Trah Projo Kertayan

Trah Projo Kertayan adalah sebuah paguyuban Trah dari Jogyakarta dari darah turunan Paku Buwono III yang kemudian berkuasa di Kasultanan Ngayogyokarto Hadingrat dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Selain itu, Gatot Nurmantyo juga memiliki hubungan kekerabatan dan trah dari Sunan Geseng yang bernama asli Raden Mas Cokro Joyo, seorang pangeran dari keturunan Prabu Brawijaya dengan dewi Rengganis, bersaudara dengan Pangeran Sumono atau Ki Ageng Pakotesan, Pangeran Kartosuro, Tumenggung Wirantoko, dan Tumenggung Wono Joyo. Sementara, Dewi Rengganis sendiri adalah Putri dari Pangeran Darmomoyo, Putra Nyai ageng Bagelen, Keturunan Trah Mataram Purbo, dan juga masih Keturunan dari Pajajaran. Jadi, Sunan Geseng itu masih keturunan Mataram, Majapahit, dan Pajajaran. Tiga kerajaan besar di tanah Jawa.

Gatot Nurmantyo Darah Turunan Prajurit

Bukan kebetulan, Gatot Nurmantyo dengan segala intrik dan keunikannya, kemudian mendapat kedudukan derajat, dan pangkat Jenderal bintang Empat yang menjabat Panglima TNI. Menilik Bibit, bebet, dan bobotnya, maka Gatot Nurmantyo dalam dirinya mengalir darah budayawan, agamawan, dan prajurit. Darah Budayawan mengalir dari darah turunan Sultan HB I dan Pajajaran. Sedangkan darah agamawan dari Sunan Geseng, yaitu salah satu murid Sunan Kalijaga yang mengajarkan agama secara santun, sopan, tertib, dan menyatukan dalam agama yang disyiarkannya. Sedangkan darah Prajurit dalam diri Gatot Nurmantyo mengalir dari Dewi Rengganis yang keturunan dari Kyai Bagelen. Kyai Bagelen adalah pimpinan pasukan Pangeran Diponegoro yang memberikan perlawanan kepada Belanda di wilayah Purworejo.

Tidak salah kalau Gatot Nurmantyo ikut serta memikirkan bangsa dan Negara Indonesia berikut masa depannya. Dilihat dari latar belakang hidup, Gatot Nurmantyo memiliki didikan jelas, perilaku jelas, keimanan jelas, dan latar belakang kehidupan keimanan, budaya, dan kebangsaan jelas. Sejarah hidup pribadinya, keluarga, dan kerabat serta kekeluargaan bisa diketahui banyak orang dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak meragukan atau membuat orang bimbang antara ”ya” atau ”tidak”, bangsa Indonesia mau dipimpin siapa yang jelas keturunannya, pemikirannya, ideologinya, atau tidak jelas segalanya.

Memahami Trah Dalam Kehidupan

Gatot Nurmantyo memiliki keturunan, Ideologi, Silsilah, Riwayat hidup, Profesi, dan pemikiran jelas. Dan semua itu sejalan dengan sejarah nasionalisme dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kesetiaan kepada Negara Indonesia tidak akan pernah diragukan karena tidak mungkin seorang dapat meniti karier hingga bintang 4 dilihat dari kekurangannya, bukan prestasinya.

Trah itu sangat penting, karena Trah itu ageman raga yang supranatural, tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan spiritnya. Trah tidak bisa dibeli, trah tidak bisa diaku-aku, tapi trah ada bersama kelahiran dan takdir. Sifat Trah bisa mendominasi Profesi atau keahlian dan popularitas seseorang tetapi tidak menghambat dan mengganggu kehidupan seseorang. Oleh karena itu ada yang menyebut titisan, tetapi untuk Gatot Nurmantyo tidak layak disebut titisan. Lebih layak untuk disebut memiliki darah turunan atau memiliki sifat turunan. Bisa jadi, atas kehendak alam, sifat dari pemimpin bangsa Indonesia dan spiritual turun atas diri beliau, sehingga beliau sukses menjadi Jenderal Bintang empat.

Dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, Budaya Trah sekarang ini sudah tidak sepopuler dulu. Mengingat, terciptanya berbagai profesi dalam kehidupan, sehingga keberadaan Trah tidak dianggap penting. Selanjutnya, dengan kesibukan dan tekanan kebutuhan serta tersitanya waktu, membuat orang tidak lagi memperhatikan pertemuan atau perkumpulan. Terlebih dengan adanya tehnologi, orang bisa berkomunikasi dengan bicara, bertemu muka, dan konfrensi bersama sama. Maka, silaturahim dengan tatap muka dapat diundur atau dilakukan sesuka hati.

MEMAHAMI BOBOT, BIBIT, BEBET

Berpikir sedehana tentang bobot, bibit, dan bebet merupakan tiga hal atau kriteria yang umum dan lazim diperhatikan ketika mencari jodoh atau pasangan. Semacam alat kalibrasi bagi orang Jawa untuk menentukan calon menantu yang baik bagi anaknya. Orang tua memang cenderung pemilih dalam urusan jodoh. Setidaknya demikianlah yang nampak dalam tradisi. Pasalnya, memilih pasangan hidup merupakan bagian penting dalam perjalanan berumah tangga dan berketurunan.

Uraian di atas bukan satu-satunya cara untuk menentukan pilihan tersebut, tetapi ada yang lebih berkuasa dari kita sebagai manusia. Kita hanya makhluk lemah, yang dapat kita pikirkan hanya yang kita lihat, yang dapat kita urus hanya yang bisa kita rasakan. Karena itu, manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan pula yang menentukan. Oleh karena itu ada lima perkara, yang menjadi misteri dalam perjalanan hidup manusia, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti. Kelima perkara itu adalah pesthi siji (satu, mati), loro jodho (dua, jodoh), telu wahyu (tiga, anugerah), papat kodrat (empat, nasib), dan lima bandha (lima, rezeki).

Meskipun jodoh termasuk dalam lima hal yang ditangani oleh Tuhan, namun sebagai manusia orang tua tetap berharap untuk memilah dan memilih pasangan bagi anak-anaknya. Dari sinilah muncul istilah bobot, bibit dan bebet yang kemudian dipegang sebagai kriteria.

Bobot
Bobot artinya kualitas diri, baik secara lahir maupun batin. Termasuk keimanan, pendidikan, pekerjaan, kecakapan dan perilaku si calon yang bersangkutan. Inilah hal-hal yang perlu ditanyakan orang tua, sebelum menyerahkan anak perempuannya. Tujuannya adalah untuk memastikan, bahwa si calon mempelai pria siap meminang sepenuhnya. Sanggup menafkahi, sanggup mengimami, serta sanggup mengasihi. Tidak akan baik jadinya bila bobot si pria dikesampingkan, hingga anak sendiri sampai tidak terurus dan hidup menderita. Bahkan dipukuli oleh suaminya. Pertimbangan bobot ini meliputi:

Pertama, Jangkeping Warni (Lengkapnya Warna). Merupakan istilah yang merujuk pada sempurnanya fisik seorang calon menantu. Kiranya tidak bisu, buta, tuli, lumpuh atau6 impoten.

Kedua, rahayu ing Manah (Baik Hati). Bisa diartikan sebagai ‘inner beauty’ dalam bahasa sekarang. Termasuk di dalamnya adalah kecakapan agama seseorang.

Ketiga, Ngertos Unggah-Ungguh (Mengerti Tata Krama).

Keempat, Wasis (Ulet). Menantu yang baik haruslah rajin dan siap bekerja keras demi masa depan rumah tangga yang dinahkodainya.

Bibit
Makna dari bibit adalah asal usul atau garis keturunan. Bukan berarti bahwa seorang calon menantu harus berdarah biru. Tetapi bermakna bahwa orang tersebut harus jelas latar belakangnya. Dari mana ia berasal, dengan cara apa dan oleh siapa ia dididik. Karena meski bagaimanapun, watak atau karakter adalah sesuatu yang berpotensi diturunkan dalam keluarga. Sehingga watak seorang calon menantu dapat dilihat secara kurang lebih dari watak orang tua yang membesarkannya.

Bebet
Bebet memiliki asal kata bebedan, atau cara berpakaian. Setiap orang wajar dinilai berdasarkan caranya berbusana. Karena cara seseorang menampilkan dirinya merupakan penggambaran dari apa yang ada dalam sejatinya orang tersebut.

Terlebih, Zaman dulu cara berpakaian menunjukkan status sosial seseorang. Harkatnya, martabatnya. Kriteria ini sengaja diletakkan terakhir, pada posisi ketiga, karena bukan dianggap hal yang paling penting. Istilahnya, ‘Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman’. Artinya, ‘Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi’.

Dalam memilih calon menantu orang jawa biasanya memiliki pandangan, pertimbangan dan kriteria tertentu yang sering disebut Bibit, Bebet, Bobot. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan yang terbaik dalam mempersiapkan anaknya dalam mengarungi perjalanan hidup berumah tangga dan berketurunan.

RELEVANSI DAN KORELASI SILSILAH BAGI KEHIDUPAN KEBANGSAAN INDONESIA
Dalam memilih calon menantu orang kita biasanya memiliki pandangan, pertimbangan. Bagaimana kalau dalam menentukan kepemimpinan nasional Indonesia juga melalui pertimbangan dari kriteria yang disebut Bibit, Bebet, Bobot? Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik dalam mempersiapkan dalam mempersiapkan diri dan kelak dalam mengemban tugasnya juga bertanggung jawab dan bias dirasakan dan memberikan ketenangan bagi seluruh anggota keluarganya dalam kebangsaan Indonesia.

Kita sadari bahwa kehidupan kebangsaan yang harmonis tidak serta-merta bisa datang begitu saja. Keharmonisan dan keselarasan bisa dan dapat diciptakan dan dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya yaitu dengan memilih pasangan hidup secara tepat. Bibit, bebet, bobot menjadi satu usaha untuk memfilter berbagai kemungkinan yang buruk dalam memilih pemimpin bangsa Indonesia. Ada banyak pilihan di dunia ini juga bagi bangsa Indonesia, karena setiap orang dan setiap warga Negara Indonesia memiliki hak untuk memilih dan menentukan hidupnya, termasuk memilih bangsa dan negaranya.

Bibit dalam dimensi nasional Indonesia bisa diartikan sebagai benih atau asal-usul keturunan. Dalam memilih pemimpin kita harus dan akan latar belakang keluarga orang yang kita pilih dan kita calonkan jadi pemimpin. Siapa orang tuanya? apa profesinya? dan bagaimana perilakunya di masyarakat?. Tidak dapat dipungkiri, kita sebagai warga akan merasa lebih bangga jika pemimpinnya dapat dibanggakan dan diagungkan didalam negeri dan diluar negeri.

Bebet dapat dimaknai sebagai status ekonomi seseorang. Status ini menjadi salah satu pertimbangan yang dimaksud bukan status pekerjaannya tetapi status pemikirannya, pendiriannya, sikap kebangsaannya, status keiamanannya, serta status kebidayaannya harus jelas, tidak membingungkan. Dengan semua jelas maka kita akan tang dan damai.

Bobot secara harfiah berarti “berat” dan dapat dimaknai sebagai tinggi-rendahnya kualitas diri dan pemikiran seseorang, menurut ukuran seorang pemimpin bangsa, untuk itu untuk mendapat kan yang baik bobot yang baik harus dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya jangan dibandingkan dengan pemimpin biasa seperti orang tingkat kelurahan. Oleh karena itu kualitas yang dimaksudkan disini terkait erat dengan kualitas lahir-batin seseorang yang akan dijadikan standart seorang pemimpin bangsa Indonesia minimal sama dengan sebelumnya atau lebih dari sebelumnya. Dengan kriteria ini, biasanya orang tua akan melihat kualitas fisik seseorang (Jangkeping Warni), kualitas keimanan dan hati yang baik (Rahayu ing Manah), sopan santun dalam berperilku (mengerti tata krama) dan memiliki kecakapan hidup (tanggap, tanggon, dan trengginas).

Menentukan pilihan berdasarkan bibit, bebet, bobot seseorang memang bukan perkara yang mudah. Terlebih bila kita sedang terpikat dengan seseorang calon pemimpin biasanya ukuran-ukuran tersebut bisa lenyap begitu saja. Maka tak heran jika karena pertimbangan-pertimbangan tersebut banyak sekali terjadi konflik antar komponen bangsa dan kelompok politik, karena berbeda pandangan terhadap sebuah konsep kepemimpinan. Meski demikian pertimbangan ini dilakukan oleh kita semua bangsa Indonesia tujuannya agar bangsa Indonesia tidak lagi bermasalah dengan kepemimpinan, sikap, perilaku pemimpin, dan cara bicara pemimpin, termasuk sikap kebangsaan, ideologi, dan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, yang selama ini sudah kita rasakan.

Untuk mengakhiri tulisan ini mari kita merenungkan sebuah hadis, yang saya dapatkan dari saran seorang teman saya yang beragama dan memahami Islam. Hurairah Radiyallahu ‘anhu mengkhabarkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari pemahaman ini dapat kita maknai bahwa kepentingan hidup dan keperluan hidup ini tidak hanya makan dan minum saja tetapi juga pengetahuan agama dan keimanan. Demikian pula relevansi dan korelasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita juga harus melibatkan dasar iman dan pengetahuan agamanya untuk mensejahterakan rakyat dan kejayaan negaranya.

Harapan saya sebagai seorang warga Negara yang mencintai TNI, dengan hadirnya tulisan ini seluruh Prajurit TNI dapat mengetahui secara pasti siapa Panglima mereka. Sehingga, kebanggaan yang tumbuh dalam diri Prajurit TNI tidak semu hanya karena ingin menyenangkan saja atau mengada ada, tetapi semua karena anugerah dan ungkapan rasa syukur Prajurit terhadap pemimpinnya. Salam Damai Dalam Kebangsaan Indonesia Yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, berkeimanan Kepada Tuhan, Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.

Eko Ismadi/Foto: Istimewa.

*Eko Ismadi adalah Pemerhati Sosial dan Militer

Lihat juga...