MAUMERE — Dalam rangka menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) Magesime di kecamatan Magepanda, Caritas Maumere bersama Condraid mengembangkan program kemitraan untuk ketahanan sejak tahun 2012. Kegiatan tersebut menggandeng beberapa desa dengan isu utama pengurangan resiko bencana, adaptasi perubahan iklim serta manajemen dan restorasi ekosistem.
Direktur Caritas Maumere, Romo Kanis Bani,Pr menyebutkan, fokus pendekatan melalui DAS merupakan salah satu strategi untuk mengurangi dampak kerusakan.
“Kami mendidik petani menanan tanaman holtikultura, sayur-sayuran yang telah kami kembangkan di atas lahan seluas 1.300 meter persegi di desa Reroroja kecamatan Magepanda,” ujarnya kepada Cendana News Rabu (18/10/2017).
Untuk mendukung kegiatan tersebut sebut Kanis, pihaknya juga melakukan kegiatan yang dinamakan tanam air panen air melalui kegiatan pengelolaan dengan prinsip 3M yakni mengisi, menyimpan dan menggunakan kembali seperti pembuatan sumur resapan yang sejalan dengan isu perubahan iklim global.
“Kami ingin agar masyarakat memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ketersediaan sehingga perlu dijaga daerah sekitar mata air dan air yang mengalir dimanfaatkan secara maksimal,” ungkapnya.
Caritas Maumere lanjut Kanis, sudah melakukan pemetaan dan sudah melakukan penghijauan di sumber mata air, membuat jebakan air, sumur resapan di pemukiman dan sekolah-sekolah di wilayah Magepanda hingga pembuatan peta DAS dan dokumen pengelolaannya.
“Di Magepanda masyarakat terpaksa menggunakan pompa air saat kemarau. Kami mengakali dengan membuat sumur-sumur resapan. Ini yang dikatakan menanam air, mencegah agar air hujan khususnya agar tidak mengalir ke laut dan meresap ke tanah,” paparnya.

Sementara itu wakil bupati Sikka Drs. Paolus Ning Susar dalam kegiatan ekspo dan panen tanaman sayuran sebagai kelanjutan program penguatan kapasitas dan meningkatan pendapatan petani di DAS Selasa (17/10/2017) di Desa Reroroja berharap agar masyarakat khususnya petani bisa paham tentang manfaat menjaga ekosistem.
Dikatakan Nong Susar, kabupaten Sikka dan provinsi NTT merupakan wilayah yang musim hujannya hanya berkisar tiga hingga empat bulan dalam setahun sementara sisanya musim kemarau. Sehingga air harus benar-benar dijaga agar jangan sampai terbuang percuma dan mata air mengalami kekeringan.
“Kita semua harus mendidik masyarakat untuk mulai menanam tanaman penghijaun khususnya di sekitar mata air dan DAS serta melanjutkan kerja yang sudah dilakukan oleh Caritas bersama mitranya dalam mendidik masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan sebagai bagian dari menjaga kelestarian lingkungan,” ungkapnya.