Haribo Selidiki Dugaan Perbudakan di Perkebunan Pemasok Bahan Baku
LONDON – Pembuat permen asal Jerman Haribo selidiki dugaan adanya praktik perbudakan di perkebunan yang masuk dalam rantai pemasok bahan baku perusahaan tersebut. Perkebunan yang diselidiki tersebut berada di Brasil.
Haribo, dikenal dengan permen jeli beruang rasa buah, mendapat kecaman pada bulan ini. Kecaman muncul setelah sebuah film dokumenter berisi tuduhan bahwa pekerja pembuat bahan utama untuk membuat permen, yakni lilin karnauba, terjebak dalam perbudakan modern ditayangkan di televisi Jerman.
Pekerja tesebut adalah mereka yang memanen daun kelapa untuk membuat lilin. Para pekerja disebut terpaksa tidur di luar. Sementara perkebunan pemasok tersebut menolak memberikan air minum bersih. Perkebunan juga disebut hanya membayar 12 dolar AS per hari.
“Kami sangat prihatin dengan beberapa gambar pada acara televisi untuk konsumen itu. Keadaan di perkebunan Brasil yang ditunjukkan itu tidak dapat teratasi. Kami sedang menyelidiki pemasok tingkat pertama kami mengenai sifat yang tepat dari kondisi di perkebunan dan peternakan yang memasoknya,” kata juru bicara Haribo dalam pernyataan, Jumat (27/10/2017).
Lilin karnauba adalah bahan baku yang digunakan agar membuat permen mengkilap dan membuat permen tidak menempel. Produk tersebut banyak dihasilkan di negara-negara bagian timur laut Brazil dan diekspor ke seluruh dunia untuk digunakan dalam berbagai produk mulai dari minyak pemoles mobil dan semir sepatu sampai benang gigi.
Seorang pejabat kementerian tenaga kerja Brasil mengatakan pada bulan ini bahwa telah terjadi peningkatan keluhan tentang industri lilin karnauba. Pihak berwenang telah menemukan banyak orang yang bekerja dalam kondisi yang dapat digambarkan sebagai perbudakan.
“Para pekerja diperlakukan sebagai objek, lebih buruk dari binatang,” demikian laporannya seperti dikatakan oleh penyiaran Jerman Deutsche Welle.
Perusahaan Keluarga Haribo didirikan pada 1920 dan saat ini telah mempekerjakan sedikitnya 7.000 orang di 10 negara. Perusahaan tersebut memberi Jerman salah satu slogan iklannya, yang terkenal, menjanjikan membuat anak-anak dan orang dewasa bahagia. (Ant)