Harga Emas Sedikit Menguat

CHICAGO – Kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir sedikit menguat pada Senin (23/10/2017).

Kondisi tersebut diakibatkan terjadinya penurunan yang mencapai rekor tertinggi di pasar saham. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember, naik tipis 40 sen AS atau 0,03 persen, menjadi ditutup pada 1.280,90 dolar AS per ounce.

Senat Amerika yang dikendalikan oleh Partai Republik minggu lalu mengeluarkan sebuah resolusi anggaran untuk tahun fiskal 2018, yang dianggap sebagai langkah besar guna mendorong reformasi pajak Presiden Donald Trump tanpa dukungan dari Demokrat.

Resolusi tersebut akan memungkinkan pemerintahan Trump menambahkan 1,5 triliun dolar AS ke defisit selama satu dekade. Indeks dolar AS, sebuah ukuran greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, naik 0,11 persen menjadi 93,90 pada pukul 17.16 GMT.

Sementara dolar AS tetap kuat, emas terus tergelincir pada awal perdagangan Senin.
Namun, ekuitas mulai melemah setelah mencapai rekor tertinggi, yang pada gilirannya mendukung emas berjangka.

Dow Jones Industrial Average pertama kali naik, menambahkan 10,01 poin, atau 0,04 persen menjadi 23.338,64 poin pada pukul 17.26 GMT. Tapi kemudian diperdagangkan di wilayah negatif, dengan S&P 500 dan Nasdaq mengikuti penurunan tersebut.

Bila ekuitas mengalami kerugian, emas biasanya naik. Sedangkan untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 0,3 persen atau 0,02 persen, menjadi ditutup pada 17,075 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan Januari berikutnya naik tipis 40 sen atau 0,04 persen, menjadi menetap di 927,20 dolar AS per ounce.

Harga minyak AS berakhir lebih tinggi pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), ketika data menunjukkan jumlah rig di negara tersebut menurun pekan lalu. Jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS berkurang tujuh rig menjadi total 736 rig pada minggu ini, kata perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes dalam laporan mingguannya pada Jumat (23/10/2017).

Namun, para analis menunjukkan bahwa pengurangan rig pengeboran di Amerika Serikat bisa bersifat sementara, karena aktivitas telah terkendali oleh ancaman badai baru-baru ini. Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memberi dukungan di pasar minyak.

Militer Irak pada Jumat (20/10/2017) mengatakan pasukan Peshmerga Kurdi menggunakan roket-roket Jerman dalam pertempuran melawan pasukan federal Irak di daerah yang disengketakan di provinsi Kirkuk yang kaya minyak.

Sementara itu, media lokal melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada Rabu (18/10/2017) bahwa Iran akan mengurangi kesepakatan nuklir internasional 2015 menjadi tercabik-cabik, jika Amerika Serikat mencabutnya.

Para analis mengatakan kerusuhan di Timur Tengah dan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong harga minyak, karena para pedagang khawatir ketegangan geopolitik dapat mengurangi ekspor minyak dari wilayah tersebut.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember, bertambah 0,06 dolar AS menjadi menetap di 51,90 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember, turuns 0,38 dolar AS menjadi ditutup pada 57,37 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. (Ant)

Lihat juga...