Dekan FKG UGM: Hanya 2,3 Persen Masyarakat Sikat Gigi Rutin
YOGYAKARTA — Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM Dr. drg. Ahmad Syaifi, SU, Sp. Perio (K) menyebut 90 persen masyarakat Indonesia saat ini sudah menyikat gigi. Namun hanya 2,3 persen saja yang menyikat gigi secara tepat waktu dan rutin. Padahal mayoritas penyakit gigi berlubang yang terjadi disebabkan karena kurangnya pertawatan dan melakukan sikat gigi secara tepat waktu.
Karena itulah upaya mengkampanyekan menyikat gigi secara rutin dan tepat waktu sangat dibutuhkan. Termasuk juga menjaga pola konsumsi makanan yang tidak menyebabkan gigi cepat rusak. Selain itu perlu kegiatan memeriksakan kesehatan gigi dan rongga mulut ke dokter sebelum penyakit muncul atau terjadi.
Apalagi dari jumlah prevalensi gigi berlubang di Indonesia, 4,6 persen dan 25,9 persen di antaranya memiliki masalah di rongga mulut. Sedangkan dari jumlah tersebut hanya 8,1 persen yang berobat ke tenaga kesehatan.
“Untuk mewujudkan target pemerintah Indonesia bebas karies gigi pada 2030, membutuhkan dukungan edukasi kepada masyarakat. Selain menyikat gigi secara rutin, juga dalam menjaga pola konsumsi makanan, serta memeriksakan kesehatan gigi ke dokter sebelum datang penyakit,” katanya di sela kegiatan pemeriksaan dan perawatan kesehatan gigi gratis Rusah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Prof Soedomo UGM.
Dalam rangka meriahkan Bulan Kesehtan Gigi Nasional (BKGN) yang jatuh pada bulan Oktober, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM bekerjasama dengan Pepsodent menggelar kegiatan pemeriksaan dan perawatan kesehatan gigi gratis selama tiga hari, 12-14 Oktober 2017 ini.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 130 dokter spesialis dan 200 mahasiswa profesi FKG UGM. Sementara sekitar 200 siswa sekolah dasar dan 120 penjual angkringn dan pemulung akan diperiksa giginya secara gratis.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyrakat dan Kerja Sama FKG UGM drg. Triana Wahyu Utami, mengaku ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat agar bisa terlibat dalam di kegiatan ini.
“Meski belum semuanya, kita ingin melibatkan semua lapisan masyarakat. Semoga tahun depan jumlah peserta bisa lebih banyak lagi,” katanya.