Cuaca Buruk di Selat Sunda Nelayan Pesisir Perbaiki Sarana Melaut

LAMPUNG — Kondisi cuaca buruk selama sepekan yang melanda wilayah pesisir Lampung Selatan berdampak bagi sejumlah nelayan yang ada di wilayah pesisir Kecamatan Kalianda dan Rajabasa. Mereka terpaksa menghentikan aktivitasnya melaut.

Menurut salah seorang nelayan Romy (30) dari Dusun Cukuh Desa Maja Kecamatan Kalianda sebagai waktu mengisi kekosongan tidak melaut akibat dampak dari cuaca buruk dengan melakukan perbaikan pada sarana melaut di antaranya kapal jaring, bagan mini, bagan apung dan bagan congkel.

Sebagian nelayan termasuk dirinya selama tiga hari melakukan pembuatan kemudi dari kayu pekol sejenis kayu nangka yang dipergunakan sebagai bahan pembuatan kemudi. Pembuatan kemudi tersebut dikerjakan bersama Sang Ayah Barudin (40) untuk mengganti bagian kemudi yang sudah lapuk dengan kayu yang baru sembari menunggu cuaca membaik.

“Sebagai usaha kecil kami mengandalkan kapal bagan mini sebagai sumber mata pencaharian sehari hari sehingga perlu diperbaiki agar bisa dipergunakan sebagai sumber usaha,” terang Romy, Selasa (17/10/2017)

Selain perbaikan bagian kemudi Romy menyebut perbaikan pada bagian penyeimbang kapal atau disebut katir, waring atau jala serta proses pengecatan dan penambalan pada bagian kapal yang bocor menghindari insiden di laut akibat kerusakan pada bagian kapal.

Sebagai alat untuk mencari ikan jenis teri jengki dan teri nasi dalam sekali perbaikan Romy menghabiskan biaya sekitar Rp500.000 sekali perbaikan bahkan lebih tergantung kerusakan yang dialami.

Nelayan lain yang tengah memperbaiki kapal jenis kapal bagan congkel diantaranya Ngadimin (50) yang juga pemilik usaha pengolahan ikan teri mengaku melakukan proses docking (perbaikan perahu) pada lokasi pengedokan yang ada di dermaga Bom Kalianda memanfaatkan kondisi cuaca buruk.

Ngadimin sudah hampir sepekan tidak memperoleh bahan baku pembuatan teri sehingga memilih memperbaiki perahu yang dimiliki dengan mengeluarkan biaya sekitar Rp3juta hingga Rp5juta yang dikeluarkan untuk perbaikan beberapa bagian perahu.

Biaya tersebut dikeluarkan untuk pembelian alat, upah tenaga kerja serta biaya retribusi tempat pengedokan yang dibayarkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan.

“Jika sudah selesai maksimal tiga hari sudah selesai dengan perbaikan bagian bagian yang perlu maka segera dikeluarkan dari pengedokan sisanya diselesaikan sendiri,” terang Ngadimin pemilik bagan congkel.

Perbaikan yang bisa dilakukan sendiri bersama pekerja di dalam kapal diantaranya jenis jaring biasanya mengalami kerusakan sehingga harus ditambal dengan rata rata jaring rampus ukuran 180 meter per lembar dengan penambalan secara manual pada bagian yang rusak.

Selain perbaikan pada bagian jaring beberapa jenis lampu yang digunakan diganti dengan yang baru untuk ukuran 60 watt dengan harga Rp80.000 perbuah untuk memancing ikan jenis teri.

Pengeluaran biaya modal untuk perbaikan tersebut biasanya diakui Ngadimin dipinjam dari sang bos pengepul ikan teri yang akan dikembalikan saat proses menangkap ikan kembali dilakukan sehingga pemilik usaha penangkapan ikan akan terbantu. Ngadimin juga mengaku telah mengikuti asuransi nelayan yang bisa mendapat klaim kerugian jika mengalami kecelakaan di laut.

“Nelayan saat ini banyak dimudahkan dengan penyediaan tempat pengisian bahan bakar SPBN, asuransi, pinjaman sehingga dalam usaha lebih dimudahkan,” papar Ngadimin.

Sebagian perahu milik nelayan menjalani proses docking di dermaga Bom Kalianda selama cuaca buruk /Foto: Henk Widi.

Sebagai nelayan dirinya bersama nelayan lain menyebut kondisi cuaca yang masih buruk tidak saja berdampak bagi nelayan tangkap dan berimbas bagi pengrajin teri nasi meski dalam kondisi tersebut justru dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan kapal tangkap.

Bali (50), salah satu produsen teri mengaku sejak sepekan terakhir akibat kondisi cuaca dirinya yang biasanya menjemur sekitar tiga kuintal teri. Sementara pada saat kondisi cuaca buruk seperti dua pekan terakhir dirinya hanya mendapatkan bahan dari nelayan sebanyak 50 kilogram. Ikan teri yang dibeli dari nelayan dengan harga sekitar Rp150.000 sebanyak 15 kilogram dijemur di atas Semoko atau para para kini sulit diperoleh.

“Kita sedang kekurangan bahan untuk pembuatan teri sehingga pasokan berkurang imbasnya harga yang lebih tinggi,” ungkap Bali.

Pada musim normal kondisi cuaca diakuinya harga per kilogram teri jengki hanya Rp20.000 per kilogram sementara kini bisa mencapai Rp40.000 per kilogram. Selain faktor kelangkaan bahan baku banyak nelayan serta produsen teri memilih beristirahat produksi.

Hanya sebagian yang tetap berproduksi dengan mengambil ikan teri dari wilayah lain. Hingga kini ada sebanyak 30 orang di wilayah produsen teri yang sebagian besar merupakan usaha rumahan.

Lihat juga...