Cerita Pelaku UKM Terdampak Kebakaran di Pasar Ateh

BUKITTINGGI – Kebakaran yang melanda ratusan toko dan kios-kios pedagang yang berada di Pusat Pertokoan Pasar Ateh, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, pada Senin pagi kemarin, menyisakan kesedihan yang mendalam bagi para pedagang yang bergerak di Usaha Kecil dan Menengah (UMK).

Usaha yang selama ini menjadi mata pencarian keluarga, kini dengan adanya musibah kebakaran itu, membuat para pedagang hanya mampu pasrah, tanpa bisa berupaya menyelamatkan barang dagangan yang berada di toko.

Seperti yang dikatakan oleh Henni, salah seorang ibu paruh baya, yang merupakan pedagang di Pasar Ateh yang turut terdampak akibat kebakaran yang membakar seribu lebih tempat berdagang yang terdiri dari toko, kios-kios, dan pedagang kaki lima itu, merasa sedih dengan musibah kebakaran tersebut.

“Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi, semuanya hangus terbakar. Saya tidak tahu mau berbuat apalagi, supaya bisa berdagang kembali,” katanya, Selasa (31/10/2017).

Usaha yang dijalani Hanni di Pasar Ateh terbilang cukup besar, yakni sebagai penjual songket. Akibat kebakaran itu, kerugian yang ia alami mencapai ratusan juta. Kondisi ini, membuat dirinya merasa sedih, mengingat usaha yang dijalaninya itu merupakan mata pencarian keluarga.

“Sekarang dengan kondisi yang seperti ini, saya mau apa lagi. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan ialah berdoa, supaya toko-toko itu segera diperbaiki,” ucapnya.

Sementara itu, Syamsuwir yang juga seorang pedagang yang membuka usaha bordir di lantai dua gedung Pusat Pertokoan Pasar Ateh Bukittinggi itu, mengatakan, kebakaran yang terjadi tersebut menyebabkan dua petak toko miliknya turut dibakar si jago merah, tanpa ada menyisakan sedikit pun barang-barang yang terdapat di toko yang berukuran kecil tersebut.

Ia menyebutkan, usaha bordir yang dijalani di Pusat Pertokoan Pasar Ateh Bukittinggi itu, terbilang cukup lama, yakni sudah berjalan selama 14 tahun. Selama ini, dari usahanya itu, penghasilan cukup besar, yaitu mencapai puluhan juta.

“Di sini saya mencoba tabah dengan adanya musibah ini. Tapi, harapan saya kepada pemerintah, segera diperbaiki saja gedung ini, biar bisa kembali berdagang,” harapnya.

Menurutnya, memindahkan semua pedagang yang terdampak kebakaran ke Jalan Perintis Kemerdekaan yang berjarak sekira satu kilometer dari Jam Gadang, bukan solusi yang tepat bagi pedagang yang berada di gedung Pusat Pertokoan Pasar Ateh Bukittinggi tersebut.

Akan tetapi, katanya, pemindahan sementara pedagang lebih tepat hanya bagi pedagang kaki lima, karena untuk pedagang kaki lima barang-barangnya masih bisa diselamatkan, sementara untuk pedagang konveksi ataupun bordir seperti dirinya, tidak ada satupun barang-barang yang bisa diselamatkan.

Sedangkan terkait melakukan kembali perbaikan gedung Pusat Pertokoan Pasar Ateh Bukittinggi itu, Pemerintah Kota Bukittinggi berharap adanya toko yang terbakar itu telah memiliki asuransi. Seperti yang dikatakan sebelumnya Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengaku, belum mengetahui secara pasti jumlah toko Pasar Ateh yang terbakar tersebut, sudah memiliki asuransi atau tidak.

Namun, semenjak kebakaran api berhasi dipadamkan kemarin, sudah terlihat beberapa pihak asuransi yang mendatangi sejumlah toko di lokasi tersebut.

“Saya sudah panggil mereka (pihak asuransi), dan sudah saya katakan tolong sesegera mungkin diproses asuransi toko itu. Tapi, saya sendiri belum bisa tahu berapa jumlah toko yang telah milik asuransi,” katanya.

Sisa barang-barang milik pedagang Pasar Ateh Bukittinggi setelah kobaran api berhasil dipadamkan siang kemarin/Foto: M. Noli Hendra
Lihat juga...