Beri Wawasan Kebangsaan, Danramil Palas jadi Guru
LAMPUNG – Komandan Komando Rayon Militer (Danramil) 421-08/Palas Kapten Infanteri Noriz Tamin yang sehari-hari berdinas di Koramil menjadi pengajar di di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Cahya Kartika Kecamatan Palas Lampung Selatan.
Berbeda dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di kelas, Kapten Infanteri Noriz Tamin menjadi guru dadakan dengan metode ceramah di hadapan ratusan siswa SMK yang mendengarkan materi pengajaran di ruang terbuka tepatnya di halaman sekolah tersebut.
Kapten Infanteri Noriz Tamin menyebut, keprihatinan akan penurunan nilai-nilai penghayatan kebangsaan atau nasionalisme mendorong dirinya sebagai anggota TNI ikut memberikan kepedulian kepada siswa sekolah dengan melakukan aktivitas serbuan teritorial dalam dunia pendidikan. Kegiatan serbuan teritorial yang dilakukan ke sejumlah sekolah tingkat SMA/SMK sederajat dan juga SMP dan SD tersebut merupakan upaya TNI menangkal degradasi nasionalisme generasi muda termasuk meningkatkan wawasan kebangsaan, mencegah paham terlarang dan mencegah peredaran narkoba.
“Sebagai generasi muda yang hidup di era kemerdekaan dan perkembangan zaman teknologi canggih, musuh terbesar bukanlah penjajah dari bangsa asing. Melainkan rusaknya generasi muda akibat paham radikal serta narkotika dan obat-obatan terlarang,” terang Kapten Infanteri Noriz Tamin seperti diucapkan kepada ratusan pelajar di SMK Cahya Kartika Kecamatan Palas, Senin (9/10/2017).
Bentuk penghayatan akan nasionalisme pelajar diakuinya bisa dilihat dari kedisiplinan akan pelaksanaan upacara bendera yang dilakukan selama beberapa menit sebagai bentuk penghormatan akan jasa pahlawan yang gugur membela dan mempertahankan tanah air dari penjajah. Kapten Inf Noriz Tamin menekankan pada siswa SMK Cahya Kartika agar jiwa nasionalisme tersebut bisa ditunjukkan dengan mengikuti upacara bendera dengan khidmat sekaligus selalu mendoakan para pejuang yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan.
Selain materi nasionalisme Danramil Palas juga kembali menekankan pentingnya pelajar sebagai generasi muda mengetahui wawasan kebangsaan akan bahaya laten komunis. Tidak hanya terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965 PKI melainkan melihat sejarah akan pemberontakan PKI yang sudah terjadi selama tiga kali di antaranya tahun 1927,1948, dan 1965.
Sejarah kelam bangsa Indonesia tersebut penting diketahui oleh peserta didik terutama dalam upaya mengganti ideologi Pancasila dengan komunis sehingga pelajar tidak hanya mendengarkan cerita-cerita dari media, pemahaman akan PKI yang hanya terjadi pada tahun 1965 sebagai pemutarbalikan sejarah.
“Bahaya laten komunis dengan fakta sejarah pemberontakan PKI selama tiga kali bukan hanya sebuah kisah sejarah tapi harus diwaspadai hingga kini,” terang Kapten Inf Noriz Tamin.
Ia bahkan mewanti-wanti agar pelajar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak benar sehingga memutarbalikkan fakta sejarah yang dilakukan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab dan menganggap PKI tidak bersalah. Padahal fakta sejarah pemberontakan PKI sudah terjadi berkali-kali sekaligus ingin mengubah ideologi Pancasila.
Selain materi bahaya paham komunisme, mantan Danramil 421-10/Katibung tersebut juga menyampaikan bahaya paham radikalisme dan terorisme yang berpotensi memecah-belah bangsa atau dikenal dengan disintegrasi bangsa. Termasuk bahaya paham ISIS yang bisa menyusup ke dunia pendidikan melalui konten-konten di media sosial yang bisa diakses mudah melalui internet oleh pelajar zaman sekarang.
Ia juga mengajak pelajar bisa bertanggung jawab selaku anak-anak bangsa dengan menjaga toleransi antara suku agama dan antargolongan yang banyak hidup di NKRI. Kemudian tetap hidup berdampingan sejak zaman pra kemerdekaan hingga zaman kemerdekaan. Terkait narkoba Kapten Inf Noriz Tamin bahkan berpesan agar siswa tidak mudah terpengaruh narkoba.
Narkoba yang merusak generasi bangsa tersebut diakuinya menyasar generasi muda khususnya pelajar sehingga harus dihindari terutama jenis ganja, shabu shabu dan ekstasi. Selain itu ia menyebut agar pelajar tidak mudah terpengaruh akan bahaya pil paracetamol, caffeine, carisoprodol (PCC) yang membahayakan generasi muda. Masa depan yang masih panjang sebagai generasi muda tersebu,t diakui Kapten Noriz Tamin, menjadi tugas bersama masyarakat termasuk TNI dalam membentengi diri dari hal-hal positif.
