Angin Kencang Rusak Peralatan Melaut Nelayan

LAMPUNG – Cuaca buruk berupa angin kencang yang melanda wilayah perairan timur Lampung mengakibatkan sejumlah nelayan mengalami kerusakan peralatan nelayan di antaranya kerusakan jaring serta kerusakan pada lunas kapal akibat terbentur karang di perairan Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan.

Aceng (40) nelayan tangkap asal Desa Ketapang Kecamatan Ketapang menyebut sejak beberapa pekan terakhir kondisi angin kencang berimbas pada aktivitas nelayan di wilayah tersebut bahkan saat nekad melaut dirinya terpaksa mengalami kerusakan pada bagian jaring.

Aceng mengaku kerusakan jaring jenis milenium untuk penangkapan ikan dengan cara ditarik tersebut kandas akibat terkena gelombang dan angin cukup kencang berimbas jaring miliknya terbawa arus hingga ke dasar perairan di sekitar Pulau Mundu. Bersama tiga rekan sesama nelayan ia terpaksa mengangkat jaring milenium tersebut dari sekitar Pulau Mundu dan menarik ke daratan akibat beberapa bagian jaring terlilit batu karang, rumput laut liar dan bulu babi berakibat jaring miliknya robek.

Aceng, nelayan pesisir Timur Lampung membersihkan jala yang tersangkut karang di sekitar Pulau Mundu akibat cuaca buruk. [Foto: Henk Widi]
“Awalnya kami akan melaut ke arah Kuala Penet Lampung Timur namun ketika mulai menebar jaring tarik dengan kondisi angin dan gelombang kencang berimbas jaring terseret hingga ke dekat Pulau Mundu dan tersangkut karang,” terang Aceng, salah satu nelayan tangkap di perairan pantai Timur Lampung saat ditemui Cendana News di dermaga Ketapang Lampung Selayan tengah membersihkan batu karang yang menyangkut di jaring, Kamis (26/10/2017).

Kerusakan pada alat tangkap nelayan tangkap dengan perahu berkekuatan 8 PK dan memiliki panjang sekitar 15 meter tersebut diakui oleh Aceng mengakibatkan dirinya bersama ketiga rekan nelayan terpaksa kembali ke darat dan sudah tidak melaut sejak Senin (23/10) untuk mengeringkan jaring dan melakukan pembersihan jaring.

Pembersihan jaring yang kotor oleh karang yang tersangkut serta rumput laut liar tersebut dipastikan memakan waktu sepekan termasuk proses penambalan pada bagian jaring yang rusak pada beberapa bagian. Kerugian akibat cuaca buruk angin kencang dan berimbas dirinya tidak melaut diakui Aceng mencapai jutaan rupiah sebab dengan sekali melaut menghabiskan sekitar 50 liter bahan bakar solar ditambah biaya operasional lain dirinya harus mengeluarkan biaya lebih dari satu juta rupiah.

Awalnya ia mengaku berniat melaut untuk memperoleh halong (keuntungan) namun sebaliknya justru mengalami nando (kerugian) yang berasal dari kerusakan peralatan menangkap perahu sehingga berimbas proses penggantian alat yang membutuhkan biaya ekstra. Sebagai antisipasi mengalami kerugian besar semisal kapal karam ia menyebut telah mengikuti asuransi nelayan sehingga tidak perlu khawatir jika terjadi insiden kapal karam akibat kecelakaan di laut.

“Tetapi meski membayar premi untuk asuransi nelayan dalam kasus kerusakan kecil tidak mendapatkan tanggungan sehingga kami harus mengeluarkan biaya ekstra,” beber Aceng.

Perahu nelayan bersandar di dermaga Ketapang Lampung Selatan menunggu kondisi cuaca membaik. [Foto: Henk Widi]
Selain Aceng, nelayan Desa Legundi Kecamatan Ketapang bernama Sandi juga ikut terimbas kondisi cuaca buruk berupa angin kencang dengan terlilitnya jaring ikan pada bagian baling- baling akibat kondisi arus dan angin yang tiba-tiba berbalik arah menghempas perahunya. Beruntung akibat insiden tersebut kapal bisa dipinggirkan dengan cara diseret menggunakan kapal nelayan lain atau sistem tandem.

“Kondisi cuaca yang masih belum bersahabat bagi nelayan memang cukup membuat nelayan merugi sehingga tidak bisa mencari ikan teri dan jenis ikan lain,” terang Sandi.

Beruntung bagi nelayan di Desa Legundi keberadaan budidaya rumput laut yang terhalang beberapa pulau dan proses pencarian kerang jenis kerang putih dan kerang bulu masih bisa menjadi tumpuan penghasilan nelayan saat tidak melakukan aktivitas menangkap ikan.

Harga rumput laut yang ditanam seharga Rp11.500 per kilogram, saat ini bisa mencapai Rp14.500 di level pengepul yang memberi keuntungan nelayan pembudidaya eucheuna cotoonii. Sebagian nelayan yang tidak melaut bahkan masih bisa mencari kerang bulu yang saat ini harga per kilogram bisa mencapai Rp3.000, dijual ke sejumlah warung makan penyedia menu sea food berupa kerang.

Pancang pancang lokasi budidaya rumput laut terpasang di perairan pantai Timur Desa Legundi. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...