24 Penderita TB di Yogyakarta Kebal Obat

YOGYAKARTA – Angka kesembuhan untuk penderita penyakit tuberculosis di Kota Yogyakarta masih berada di bawah target nasional atau belum mencapai 90 persen dari total temuan kasus tuberculosis.

“Saat ini, angka kesembuhan penderita tuberculosis (TB) di Kota Yogyakarta baru mencapai 84,68 persen. Banyak faktor yang menyebabkan angka kesembuhan itu belum sesuai target,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia di Yogyakarta, Minggu (22/10/2017).

Menurut dia, sejumlah faktor tersebut di antaranya, pasien meninggal dunia, pindah kependudukan atau pasien yang gagal melakukan pengobatan secara rutin, karena bosan mengonsumsi obat-obatan secara terus-menerus.

Pasien TB, lanjut Yudiria, memang dituntut untuk mengonsumsi obat-obatan secara rutin tiap hari paling tidak selama enam bulan untuk menyembuhkan TB yang ringan.

Pasien yang tidak mengonsumsi obat-obatan secara teratur, berpotensi menjadi pasien yang kebal obat dan akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menyembuhkan penyakitnya, bahkan bisa menularkan penyakitnya ke orang-orang di sekitarnya.

“Pasien kebal obat bisa mengonsumsi 16 jenis obat tiap hari ditambah suntikan tiap hari. Memang dibutuhkan kesabaran dan pendamping bagi pasien TB untuk mengingatkan dan membantu mereka saat harus minum obat,” katanya.

Berdasarkan data kumulatif, sejak 2012 hingga saat ini, terdapat 24 pasien TB warga Kota Yogyakarta yang dinyatakan kebal obat. Sedangkan angka temuan penderita TB baru di Kota Yogyakarta hingga Juni tercatat sekitar 600 orang dari target nasional 1.111 orang.

“Kami mengerahkan kader untuk menyisir orang-orang yang tinggal di sekitar penderita TB untuk menemukan kasus baru,” katanya.

Saat ini, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga meluncurkan buku saku TOSS TB atau temukan obati sampai sembuh TB untuk memberikan dukungan kepada pasien dan pendamping dalam menjalani pengobatan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Fita Yulia mengatakan, masih ada stigma negatif di tengah masyarakat tentang penderita TB, sehingga menyebabkan warga yang menderita TB menjadi malu.

“Stigma ini harus dihilangkan, agar pengobatan TB berjalan lancar dan pasien tidak malu berobat. Apalagi, obat-obatan TB sudah bisa diakses secara gratis padahal harganya cukup mahal,” katanya.

Ia mengingatkan, bahwa gejala penyakit tuberculosis tidak selalu ditandai dengan batuk, tetapi penderita juga bisa mengalami gejala lain seperti keringat berlebih saat tidur, berat badan berkurang dan badan terasa lemah.

“Jika ada tanda-tanda seperti itu, maka segera datang ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Apalagi, Yogyakarta juga memberikan ‘reward’ bagi pasien yang sembuh dan pendamping yang mendampingi mereka mengonsumsi obat,” katanya. (Ant)

Lihat juga...