KENDARI – Budidaya udang vaname di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai salah satu visi dan misi bupati dan wakil bupati terpilih 2017-2022 akan menjadi prioritas pada 2018, sebab usaha itu akan memperkuat pendapatan daerah.
Kadis Kelautan dan Perikanan Bombana, Syarif, mengatakan, budidaya udang vaname yang dikembangkan petani tambak di daaerah kini berasal pada empat Kecamatan di Bombana, yakni Poleang, Poleang Timur dan Rarowatu Utara dan sebagian di Kecamatan Rumbia.
“Dari produksi udang vaname, saat ini selain sudah memenuhi kebutuhan lokal juga antar pulau dengan pasar utama sejumlah restoran kenamaan di Kendari dan pulau Jawa,” kata Syarif, di Kendari, Minggu (22/10/2017).
Mantan Camat Rarowatu itu mengatakan, misi Bupati Bombana, Tafdil dan wakilnya, Johan Salim, untuk meningkatkan pendapatan daerah dan khususnya petani tambak di daerah itu adalah akan memfokuskan pada bantuan pemberdayaan nelayan termasuk petani tambak yang ada di wilayah itu.
Ia mengatakan, budi daya udang vaname (litopenaues vannamae) kini menjadi idola para petani tambak di Bombana, karena selain bibitnya (benur) mudah diperoleh, juga proses pemeliharannya tidak sesulit dengan udang sito (udang hitam).
“Masa penen udang vaname lebih cepat, hanya membutuhkan waktu 95-110 hari sudah bisa panen. Sedangkan jenis udang sito masa panenya bisa empat bahkan lima bulan,” ujarnya.
Keunggulan lain dari udang vaname atau udang putih itu sangat jarang terkena penyakit bintik-bintik putih (white spot) yang biasanya banyak menyerang tambak udang masyarakat akhir-akhir ini.
“Walaupun dari segi harga di pasaran saat ini, udang putih ini hanya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp70 ribu per kilogram, sedangkan udang sito di atas harga Rp100 ribu per kilogram,” ujaranya.
Namun, dari segi keuntungan antara budidaya udang vaname dan sito, petani tambak masih banyak yang memilih udang sito, karena sekali panen saja bisa menguntungkan tiga kali lipat dibanding dengan membudidaya udang vaname. (Ant)