2017, Target Padi Tujuh Ton Per Hektare
PESISIR SELATAN – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Disnaphorbun) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menyebutkan saat ini produksi padi telah mencapai 5,7 ton per hektare (ha). Jumlah tersebut, ditargetkan bisa mencapai angka 7 ton per ha hingga akhir tahun 2017 ini.
Kepala Disnaphorbun Pesisir Selatan, Jumsu Trisno mengatakan, untuk optimis bisa mencapai target hingga 7 ton per ha tersebut, mengingat lahan-lahan persawahan ada di sejumlah kawasan di Pesisir Selatan telah memiliki jaringan irigasi yang bagus. Selain terkait irigasi, supaya target tersebut bisa tercapai Disnaphorbun turut menyediakan bibit unggul serta melalui penerapan teknologi pertanian yang ideal.
“Kalau di Pesisir Selatan rata-rata musim tanam bisa mencapai dua kali dalam satu tahun dengan luas lahan 30.344 hektare,” katanya, ketika dihubungi dari Padang, Senin (9/10/2017).
Ia menyebutkan, pemerintah tidak lepas tangan atau hanya sekedar mengharapkan agar produksi padi bisa meningkat, akan tetapi turut didorong dengan penyuluhan di lapangan, supaya tanaman padi milik petani terbebas dari hama yang bisa mengakibatkan kerugian para petani.
Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi hama itu yakni melakukan tanam padi serentak. Hal ini mengingatkan, kalau pola tanam serentak sangat banyak manfaatnya, yakni selain untuk mengurangi serangan hewan gulma dan hewan pengerat.
Selain itu, Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni juga mengingatkan kepada para petani supaya jangan menjual seluruh hasil panen agar hasil panen tidak hanya untuk dijadikan uang, tetapi juga perlu untuk disimpan di rumah menjadi kebutuhan sehari-hari.
Dikatakannya, dengan produksi pertanian yang melimpah, bukan berarti bisa menjamin ketersediaan pangan di kalangan para petani. Karena, dengan kebiasaan menjual hasil panen, maka ke depan petani bisa mengeluarkan uang untuk membeli beras.
“Padahal mereka kan petani sendiri, gara-gara hasil panen dijual seluruhnya, ujung-ujungnya beli beras juga. Hal ini perlu diubah, boleh dijual, tapi jangan seluruh. Tapi disimpan jugalah di rumah, sebagai kebutuhan yang akan datang,” tegasnya.
Kondisi demikian, diakui oleh petani di Sutera, Pesisir Selatan, Aldi menyebutkan, memang hasil panennya dijual dan bahkan hanya sekira dua hingga lima karung ditinggal di rumah. Alasan dijual pun, karena butuh mengeluarkan segala biaya yang dilakukan sejak semula bertanam padi hingga panen dilakukan.
“Bertani itu tidak bisa dikerjakan sendiri, tapi perlu dibayar juga ke petani yang lain untuk mengerjakannya, seperti bertanam padi dan memanennya. Jadi, untuk membayar upah itu, maka hasil panennya mau tidak mau harus dijual,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan disisakan dua hingga lima karung itu, sudah perhitungan hingga nanti datang kembali masa panen. Artinya, dua hingga lima karung padi yang ditinggalkan itu, dinilai akan mampu mencukupi kebutuhan beras hingga panen datang.
“Kami di sini bertanam padi bisa tiga kali setahun atau dua kali dalam setahun. Maka dari itu, soal kebutuhan beras tidak kami ragukan, karena sudah ada hitung-hitungannya,” ucap Aldi.
