Yusril: Pancasila Lebih Mendasar dari Ideologi
YOGYAKARTA — Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra menyebutkan, Pancasila bukanlah idologi, melainkan landasan falsafah kehidupan bernegara.
“Bagi saya pancasila bukanlah ideologi. Pancasila itu falsafah yang lebih mendasar dari ideologi. Karena ideologi merupakan pokok-pokok pikiran yang lebih praktis/eksplisit yang dilaksanakan sebagai pedoman oleh sebuah negara, organisasi atau partai,” katanya.
Hal itu diungkapkan Yusril saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan Majelis Wilayah KAHMI DIY bertema “Peran umat Islam dalam merebut kemerdekaan RI dan peran alumni HMI dalam mengisi kemerdekaan” bertempat di Pendopo Parasamya Pemda Kabupaten Bantul, Sabtu (9/9/2017).
Dalam kesempatan itu, Yusril mengatakan, pancasila sebagai sebuah hasil kesepakatan bersama seluruh komponen bangsa, sudah final sehingga tidak perlu dipreteli atau diperdebatkan. Meski begitu penafsiran pancasila tetap diserahkan pada masing-masing kelompok masyarakat itu sendiri.
Ia juga menjelaskan deskripsi historis munculnya pancasila sebagai landasan falsafah negara. Dimana pancasila lahir sebagai sebuah kompromi antara dua kelompok elemen bangsa yang menghendaki dasar negara berbeda.
“Kelompok Islam menghendaki negara yang berdasarkan agama atau syariat Islam. Sementara kelompok nasionalis menginginkan negara yang memisahkan urusan agama dengan urusan kenegaraan atau sekulerisme. Sehingga munculah kompromi demi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.
Kelompok masyarakat Islam, dikatakan Yusril juga telah banyak memberikan kompromi bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Selain tentang pengahapusan kesepakatan penerapan syariat Islam bagi pemeluknya juga terhadap pasal 6 UUD 45 tentang kesepakatan Presiden Indonesia harus warga negara Indonesia asli dan beragama Islam.
“Memang penghapusan itu banyak menimbulkan perdebatan. Namun semua sudah sepakat dan menerima,” katanya.